Permadani Pesanan Sultan Gonggomon
dok. pri. Ikhwanul Halim

Permadani Pesanan Sultan Gonggomon

Views: 25

Dahulu kala, seperti semua kisah indah dimulai, di negeri yang sangat jauh, seorang sultan dengan ide-ide besar, tetapi hanya memiliki sedikit uang, ingin memesan permadani besar untuk memperingati prestasinya.  Sebenarnya, uangnya hampir tidak cukup untuk membeli permadai bahkan yang seukuran keset Welcome.

Ia memanggil penenun terbaik di negeri itu ke istananya di atas bukit dan menjelaskan bahwa dia telah membuka Wikipedia dan apa yang ada dalam pikirannya adalah sesuatu yang mirip dengan permadani Bayeux.

Setiap penenun secara memeriksa ponsel atau tabletnya dan menelan ludah, memucat atau menjadi sedikit mual-mual sampai ingin muntah, mengetahui keadaan kas kesultanan, ketika mereka menemukan di Wikipedia bahwa permadani Bayeux panjangnya tujuh puluh meter dan tinggi 50 sentimeter. Bahkan bahwa sultan bahkan hampir tidak mampu membeli permadani Korea kw3 berukuran poster tanpa bingkai, apalagi hiasan dinding yang dibuat dengan tangan.

Masing-masing penenun pada gilirannya menemukan alasan untuk menolak pesanan tersebut.

“Yang Mulia,” kata salah satunya. “Saya khawatir keterampilan saya tidak cukup untuk memberikan kemuliaan penuh atas prestasi Baginda sesuai standar yang seharusnya. Meskipun saya merasa tersanjung dengan permintaan baginda, saya mohon dengan sangat agar Baginda untuk mencoret nama saya dari daftar pertimbangan Baginda.”

“Yang Mulia,” kata yang lain. “Meskipun sungguh merupakan suatu kehormatan untuk mengerjakan proyek yang begitu besar, saya khawatir radang sendi di jari-jari saya berkembang dengan sangat cepat, sehingga saya meragukan kemampuan saya untuk menyelesaikan tugas penting seperti ini seperti saya tidak dapat menenun jahitan lainnya. Dengan rendah hati saya memohon maaf, tetapi saya mohon Baginda menarik nama saya dari daftar Baginda.”

Satu demi satu, setelah menghitung potensi kerugian mereka dalam kontrak, setiap penenun menemukan alasan mengapa tidak pantas baginya untuk menerima permintaan sultan.

“Baginda, alat tenun saya tidak cukup besar … “

“Baginda, sayangnya, penglihatan saya mulai menurun … “

“Baginda, pergelangan tangan saya gemetar … “

“Baginda, atap rumah saya bocor … “

Namun, sang sultan enggan untuk menyerah pada ide besarnya, terutama karena dia telah berjanji kepada ratu bahwa tahun ini adalah tahun yang tepat baginya untuk mendekorasi ulang istana.

Bahkan ketika putra sultan yang sok tahu menunjukkan kepadanya bahwa permadani Bayeux sebenarnya bukanlah permadani, melainkan sulaman, sultan tidak patah semangat. Para pelari, karena sultan tidak mampu membayar pengiriman paket, diutus ke segala arah untuk menjelajahi kesultanan yang tidak begitu luas, mencari penenun yang mau menerima tugas itu.

Setelah beberapa minggu mencari, ketika setiap nomor di buku telepon kuning  lama telah habis dan bahkan Google yang hebat gagal memunculkan seorang penenun yang rela menghabiskan sisa hidupnya untuk mendukung ambisi pribadi sultan, salah satu pelari akhirnya sampai di sebuah pondok sederhana di ujung kesultanan.

Di pondok itu tinggal seorang wanita miskin yang telah menjanda selama bertahun-tahun, yang mencari nafkah dengan menenun aksesoris kecil, seperti taplak meja dan tatakan gelas minuman dengan alat tenun kecil buatan tangan. Sebenarnya, pelari sultan hampir tidak ingin masuk ke gubuk itu sama sekali, tetapi dia tergoda oleh tanda di luar yang menawarkan teh dan kopi gratis, dan terlebih lagi oleh tanda yang lebih kecil yang mengatakan ‘ tersedia wifi’ yang dipajang di sebelah tanda yang lebih kecil yang mengatakan ‘maaf, hanya menerima uang tunai, tidak uang elektronik, barcode, atau trasfer bank’.

Bagian dalam pondok itu gelap hanya diterangi oleh cahaya lilin tunggal. Dalam kegelapan, pewlari sultan nyaris tidak bisa melihat adanya seorang wanita duduk di alat tenun kecil, menenun apa yang tampak seperti spanduk sangat kecil bertuliskan kata-kata ‘Anda tidak harus gila untuk bekerja di sini, tetapi … “

Sisa kalimatnya, belum dijalin.

“Ambil saja teh atau kopi,” kata wanita itu, tanpa menoleh. “Aku harus selesai menenun ini untuk toko suvenir sebelum pukul lima.”

Pelari sultan menemukan teko aluminium kecil dari rak dan menambahkan secangkir penuh air mendidih dari kuali yang menggelegak di atas api tungku kayu bakar sebelum menanyakan keberadaan kantong teh.

“Di dalam laci, di bawah microwave,” kata wanita itu. “Ada susu di kulkas, juga ada gula dan madu di stoples kalau kurang manis.”

“Aku berterima kasih untuk susunya,” kata pelari sultan tanpa kesulitan meniru logatnya yang aneh. “Tetapi aku menolak madunya, kalau kamu berkenan, karena aku memang sudah cukup manis.”

Wanita itu menghentikan pekerjaan metenunnya sejenak dan menoleh untuk memperhatikan tamunya yang jenaka.

“Wah, Bang,” katanya. “Aku lihat Abang bukan Cuma manis, tetapi dari pakaianmu, kau juga ganteng.”

“Aha,” kata pelari sultan.

“Penampilan kadang bisa menipu, gadis manis. Karena sultanlah yang memaksa kita berpakaian seperti ini. Kalau boleh jujur, aku lebih suka memakai celana jins dan kaus oblong, karena celana ketat ini agak membuat sakit dan sangat mengganggu saat menggunakan urinoir otomatis tanpa tombol bilas, kalau kamu mengerti maksudku.”

“Karena alasan itulah aku berhenti memakai celana dalam bertahun-tahun yang lalu, Bang. Tapi biarlah itu menjadi rahasia di antara kita berdua, karena aku tidak ingin semua orang mengira aku wanita yang tidak senonoh, kalau kau mengerti maksudku.”

Pelari sultan dan wanita penenun mengangguk dengan penuh pengertian saling berbohong bahwa mereka mengerti maksud yang lain.

“Aku punya pertanyaan, Dik, kalau boleh aku memberanikan diri,” kata pelari sultan.

“Silakan, Abang,” katanya. “Silakan.”

“Aku bertanya-tanya mengapa kamu berbicara dengan cara kuno seperti ini?” tanyanya. “Sekarang tahun 2024.”

“Aku cuma mencontoh cara bicara kau itu, Bang. Aku hanya membalas dengan ramah. Demi sopan santunlah.”

“Tapi aku juga membalas dengan ramah,” pelari sultan tertawa.

“Kita ini cocok kali.”

Dan mereka berdua tertawa terbahak-bahak sampai celana ketat pelari sultan robek.

“Kalau kau mau melepasnya, Bang, aku bisa menyelipkan ritsleting di tempat yang sobek daripada kujahit biasa sampai tertutup. Kapan perlu tinggal kau tarik ritsleting. Aku rasa itu lebih gampang.”

“Kalau kamu bisa membuatnya sedikit lebih longgar di,” dia menambahkan, tidak bisa langsung melepaskan kata-kata lama. “Itu akan sangat dihargai.”

“Apa yang membawamu ke sini, ke pondokku yang sederhana?” tanya si wanita sambil menjahit celana ketat pelari sultan, sementara dia berdiri menghangatkan pantatnya yang telanjang di dekat api unggun.

“Sebenarnya,” dia menjawab, “itu tidak lebih dari sekedar tugas pencarian yang sia-sia. Karena sultan sedang mencari penenun yang terampil untuk menyelesaikan pekerjaan besar.”

Telinga wanita itu meruncing mendengar kata ‘sultan’ dan ‘pekerjaan besar’.

Barangkali ada peluang di sini?

“Ah, itu menarik kali buatku, Bang. Aku tidak pernah mendapat pekerjaan besar sejak lakiku meninggal, bertahun-tahun yang lalu. Mungkin Abang bisa memberi tahu lebih banyak.”

“Aku pikir akan lebih dari yang bisa ditangani oleh wanita miskin sepertimu,” kata pelari sultan, sedikit menjelaskan. “Semua penenun lain di kesultanan telah menolaknya.”

“Aku rasa aku harus mendengar dulu apa pekerjaannya, Bang,” katanya, menegur. “Abang harus kasih tahu aku lebih banyak sebelum mengambil kesimpulan.”

“Baiklah, Dik. Tidak ada maksud menyinggung. Mohon maaf atas kesombonganku yang tidak disengaja.”

“Tak apa-apa, Bang. Tapi menurutku Abang mungkin berdiri terlalu dekat dengan api, karena kalau tak salah aku mencium sedikit aroma daging panggang.”

Pelari sultan melompat dengan cepat menjauh dari bara api yang menyala sambil mencengkeram pantatnya yang hangus.

“Sebenarnya, kalau aku boleh kasih komentar, sekarang Abang agak terlalu dekat denganku, Bang, Cahaya di sini sudah cukup redup tanpa daging dan dua butir telor Abang di mataku. Itu mengingatkanku kalau Abang mau memberi memberi tahu aku tentang pekerjaan besar sultan.”

Pelari sultan menutupi daging dan dua telur bekalnya  dengan tikar anyaman kecil sambil menyampaikan ‘semua hal baik datang kepada dia yang menunggu’ saat dia menjelaskan keinginan sultan untuk sebuah lukisan tenun besar untuk menutupi dindingnya dan meningkatkan prestasinya, meskipun yang disebut prestasi sultan sedikit atau tidak ada sama sekali.

“Ya, ini pekerjaan besar,” kata wanita penenun setuju setelah pelari sultan selesai menguraikan spesifikasi proyek. “Ini pekerjaan yang bukannya tanpa peluang,” tambahnya, sambil berpikir.

Dia mengembalikan celana ketat bergaris kuning dan hitam yang sekarang lengkap dengan ritsleting di bagian depan.

“Aku hanya mengingatkan, Bang,” kata wanita penenun sebelum pelari sultan memakai celananya kembali. “Ini masalah kesehatan dan keselamatan yang harus Abang waspadai. Kalau kau tidak pakai celana dalam di balik celana ketat, berhati-hatilah dengan ritsletingnya.”

Pelari sultan mengucapkan terima kasih atas jahitannya dan hendak pergi.

“Aku akan menerima pekerjaan itu,” kata wanita penenun. “Tetapi aku punya syarat dan ketentuan.”

Pengawal sultan membawa tawaran wanita itu kembali ke istana.

“Dia memang membutuhkan lumbung atau aula besar, Baginda,” kata pengawal itu. “Untuk menampung para penenunnya. Dia juga meminta baginda untuk menyediakan kain pelapis untuk menenun. Dia akan menyediakan benangnya sendiri.”

“Mengapa kamu berbicara dengan logat yang aneh?” tanya sultan.

“Sungguh, Baginda, aku tidak yakin. Kebiasaan yang sudah melekat ini sulit dihilangkan.”

“Hmm,” kata sultan. “Apakah wanita penenun ini punya tuntutan lain?”

“Ada beberapa, Baginda. Dia memberiku daftar dan kontrak yang harus Baginda tandatangani. Dia juga meminta sambungan internet, air mineral botolan, dan bunga segar di kamarnya setiap hari.”

Dua minggu kemudian, wanita penenun itu pindah ke kamar menara di istana sultan. Di luar istana, sebuah truk besar yang menyiarkan siaran TV di luar diparkir.

Kabel-kabel listrik yang besar meliuk-liuk menuju Aula Besar, yang telah disediakan bagi wanita penenun itu untuk membuat permadani besar. Sebuah tanda kecil yang dicat di dekat jembatan gantung istana bertuliskan, ‘Permadani Tenun Tangan Asli, lewat sini’ dengan anak panah yang menunjuk ke Aula Besar.

Sejumlah kecil wanita kaum jelata mengobrol dengan gembira di samping tanda ‘silakan antri di sini’.

Tepat pukul sembilan tiga puluh pagi, empat pemain terompet sultan memainkan pertunjukan publik pertama yang kemudian menjadi tema TV Permadani Tenun Tangan Asli. Kamera TV menyorot dari para pemain terompet ke pita yang diikatkan di pintu Aula Besar. Pada pukul sembilan tiga puluh satu pagi, sultan memotong pita dan menyatakan proyek Permadani Tenun Tangan Asli dibuka.

Para wanita muda kaum jelata yang bersemangat, maju ke depan saat pintu kayu besar terbuka dan melonjak ke loket tiket yang baru dipasang.

“Jadilah bagian dari sejarah,” demikian bunyi papan reklame di atas loket tiket. “Dua puluh ribu untuk sepuluh menit menenun permadani sultan. Paket benang dan jarum berwarna tersedia untuk dibeli di dalam.”

Di dalam aula, kain penutup belakang yang sangat besar telah didirikan di dinding belakang. Serangkaian tangga telah disandarkan padanya, dengan platform kecil di antaranya.

Sebuah gambar telah dibuat dengan kasar dengan arang di kain penutup belakang. Angka-angka kecil, yang sesuai dengan benang berwarna berbeda telah ditulis di setiap bagian kecil gambar. Sebuah meja panjang telah didirikan di seberang permadani. Rak-rak benang dan jarum berwarna dipajang di atas meja, untuk dijual kepada para penenun pemula.

Seorang fotografer bayaran siap untuk mengambil gambar setiap pendatang baru dan memberi tahu mereka bahwa gambar mereka akan tersedia, dengan biaya sekian, di pintu keluar saat mereka pergi.

Di ujung lorong, sebuah kafe kecil telah didirikan, di bawah tanda yang bertuliskan Kafe Permadani Tenun Tangan Asli. Di samping kafe tersebut, terdapat konter kedua, yang dipasang papan anam Toko Suvenir Permadani Tenun Tangan Asli, dengan pilihan pengatur waktu untuk merebus telur, mug unik, gantungan kunci, kaus, banner, magnet kulkas, boneka lababu, dan kartu pos.

Kamera TV mengikuti pelanggan pertama di dalam dan memfilmkan mereka membeli benang yang harganya terlalu mahal, sebelum mengikuti mereka ke permadani itu sendiri.

Wanita penenun itu, mengenakan setelan bisnis merah yang elegan, sedang diwawancarai dengan hiasan dinding yang belum dikerjakan, dipajang sebagai latar belakang.

“Kapan menurutmu permadani itu akan selesai?” tanya pewawancara.

“Yang terpenting,” kata wanita penenun itu. “Bukan kecepatan, tetapi kualitas produk jadinya. Mungkin butuh beberapa tahun untuk menyelesaikannya.”

Malam itu, wanita penenun itu dan pelari sultan yang terus terang mengaguminya, menghabiskan waktu satu jam dengan tenang untuk membongkar sebagian tenunan hari itu. “Lagipula,” jelasnya kepada kekasih barunya. “Kita tidak ingin mereka selesai terlalu cepat.”

“Itu ide yang sangat cerdik darimu, sayang,” jawabnya. “Membuat orang membayar untuk ikut serta. Ada hampir tiga ratus orang hari ini.”

“Kita bahkan belum mulai, sayangku,” lanjutnya. “Hak siar acara reality show TV akan segera dibayar dan aku sedang bernegosiasi dengan pabrik di Tiongkok untuk memproduksi perangkat tenun Permadani Tenun Tangan Asli yang akan dijual di internet. Wahana roller coaster Permadani Tenun Tangan Asli akan beroperasi pada musim liburan dan aku juga punya ide untuk boneka figurin. Aku pikir kita bisa membuat boneka wanita penenun dan boneka pelari sultan. Itu akan memberi kita ruang untuk menjual pakaian pria dan wanita untuk boneka-boneka itu dan, mungkin, bahkan pakaian dewasa untuk para orang tua. Kami punya hak eksklusif untuk celana ketat beritsleting untuk pelari sultan, yang tampaknya sangat populer berdasarkan pesanan awal dan ada juga minuman ringan Permadani Tenun Tangan Asli  yang akan tersedia di jaringan supermarket besar minggu depan.”

Sultan duduk di dalam istananya, membaca kontrak yang telah ditandatanganinya dengan wanita penenun itu. “Pasti ada celah di sini, di suatu tempat?” katanya kepada wazir agungnya. “Menurut saya, Baginda, maafkan saya atas ungkapan itu, dia menjahitnya lebih ketat dari pantat bebek. Lain kali, kalau saya boleh menyarankannya, sebaiknya Baginda membaca kontraknya sebelum menandatangani hak merk dagang.”

Sultan gelisah di singgasananya dan menarik-narik selangkangan celana ketatnya. “Harus aku katakan,” gumamnya. “Ritsleting model baru ini tidak membuat celana ketat ini lebih nyaman.”

Wazir Agung mendesah pelan. “Kalau saya boleh menyarankan, Baginda, saya rasa ritsletingnya seharus di depan, bukan di belakang.”

Di dalam Lumbung Besar, terdengar suara canda tawa dan denting uang logam emas saat wanita penenun dan pelayan sultan menghitung hasil penjualan hari itu.

“Istana Tiup Permadani Tenun Tangan Asli akan tiba besok,” kata wanita penenun. “Dan aku sedang berbicara dengan Klub Balon Cappadocia dan Skuardon Zeppelin Jerman  tentang penyelenggaraan pertemuan balon udara internasional Permadani Tenun Tangan Asli dari halaman istana ini.”

Pelari sultan tersenyum lebar pada rekannya yang pintar.

“Aku juga punya ide, sayangku,” katanya. “Bagaimana kalau kompetisi Penenun Selebritas tahun ini?”

“Lomba Tenun Cepat Kilat?” tambahnya.

“Aku Jago Tenun, Pilih Aku?”

“Kurasa kita harus mengurainya sedikit lagi, sayangku,” jawabnya, sambil mengambil gunting tajamnya. “Kurasa acara reality show akan bisa terus berlanjut sampai sepuluh musim.”

Cikarang, 19 Oktober 2024

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *