Ada lubang di sepatu botku. Aku merasakan lumpur mengalir di sekitar tumit. Mengerikan dan dingin, membuat langkahku sedikit pincang. Aku bisa merasakannya merembes melalui kaus kakiku.
Seberapa jauh lagi ke parit musuh? Apakah rentetan tembakan artileri berhasil?
Aku harap begitu. Aku harap mereka semua tewas.
Mereka semua pasti tewas.
Aku takut, sangat takut. Perut terasa kaku, tangan berkeringat, liur asam dan mulut kering. Jari-jari mencengkeram senapan ini begitu erat hingga terasa sakit. Aku berharap tahu lebih banyak kata. Ini lebih dari sekadar takut, ini membutuhkan kata yang lebih besar. Aku sangat takut hingga hampir tidak bisa bernapas.
Pokoknya, hampir tidak bisa bernapas. Ransel terlalu berat, senapan terlalu berat.
Semuanya berat.
Lumpurnya tebal. Apakah semua orang takut? Lihat ke kanan. Etisa ada di sana, dia tampak baik-baik saja. Dia menangis lagi tadi malam, tetapi aku berpura-pura tidak mendengarnya.
Kami semua berpura-pura.
Lucu, dia tidak pernah menangis saat kami di sekolah. Kasihan, Etisa. Dia menangis minta pulang.
Kami semua ingin pulang.
Jangan pikirkan rumah, itu hanya memperburuk keadaan. Jangan pikirkan ibu, yang sibuk di dapur, atau ayah yang pulang kerja.
Jangan!
Pikirkan sersan komandan.
Di mana dia?
Di belakang kami di suatu tempat, mengawasi. Aku akan dimarahi kalau dia memergokiku sedang melamun. Ayah selalu bilang bahwa aku pemimpi.
Jangan! Teruslah maju.
Melirik ke sebelah kiri. Lihat, Radik agak maju sedikit. Apakah aku melaju terlalu lambat? Ah, tidak, sersan menggonggong dan Radik mundur. Selalu harus menjadi yang pertama dalam segala hal, Radik. Selalu berusaha membuktikan dirinya, sejak ibunya meninggal. Umur kami waktu itu sekitar enam tahun, kurasa. Ya, benar.
Lumpur sekarang ada di bawah kakiku. Mereka terus menyuruh kami untuk menjaga kaki kami.
Jaga kaki tetap kering atau kau akan terkena penyakit kaki gajah.
Bagaimana kami bisa menjaga kaki tetap kering kalau sepatu bot kami berlubang? Rasanya tumitnya juga ikut kendur.
Cobalah untuk mengabaikannya. Teruslah bergerak maju.
Ingatkah saat aku dan Etisa masih kecil dan kami pergi menjelajah di luar hutan dan Etisa kehilangan sepatu? Ibunya sangat marah, menyalahkannya karena bermain di lumpur.
Ah, itu hampir tidak bisa disebut lumpur.
Apa yang akan dikatakan ibunya sekarang kalau melihat kami terendam lumpur hingga lutut?
Jangan pikirkan rumah. Jangan pikirkan ibu.
Jangan pikirkan apa yang akan terjadi saat kami mencapai parit musuh.
Sersan komandan menggeram lagi. Kali ini Etisa berjalan terlalu jauh ke kiri. Terlalu dekat denganku. Sasaran yang terlalu mudah.
Luruskan badan, kembali ke tempatmu.
Radik membawaku menemui ibunya setelah meninggal, berbaring dengan tenang dan damai di ruang depan dengan uang receh di matanya.
Kami tidak seharusnya melakukannya, tetapi kami menyelinap masuk saat orang dewasa tidak melihat. Orang mati pertama yang pernah kulihat. Satu-satunya orang mati yang pernah kulihat, sampai saat ini.
Mungkin aku akan segera melihat banyak mayat. Tidak mau. Tidak mau melihat mayat.
Aku tidak mau bertarung. Kuharap musuh sudah mati semua. Serangan artileri pasti sudah membunuh mereka semua.
Tenggorokan kering, tidak bisa menelan. Terlalu takut. Lebih dari sekadar takut.
Tidak tahu kata yang tepat untuk menggambarkan betapa takutnya ini. Jari-jari terasa sakit, memegang senapan terlalu erat.
Teruslah bergerak, ke arah senjata musuh.
Aneh, ada sesuatu di depan. Tidak tahu mengapa aku tidak menyadarinya. Sesuatu yang merah terang di lumpur. Ranjau? Tidak, bukan logam. Benda itu bergerak. Sehelai kain dari seragam yang terkoyak?
Benda itu berkibar. Kupu-kupu!
Bukan, bukan kupu-kupu. Bunga.
Bunga merah terang tepat di depanku. Kurasa bunga candu. Radik pasti tahu. Dia tahu semua nama. Tapi sepertinya dia tidak menyadarinya.
Apa yang dilakukannya di sini, tumbuh sendiri di lumpur? Setitik kecil merah terang di antara semua cokelat dan abu-abu ini! Belum pernah kulihat yang seperti itu. Lebih baik berhenti, sayang sekali kalau sampai terinjak.
Hati-hati … ke mana perginya?
Aku yakin tadi ada di sana. Kupikir aku sudah menginjaknya.
Aku tidak menginjaknya, kan? Tidak menghancurkannya ke dalam lumpur?
Tidak bisa melihat ke belakang dengan jelas—
Sersan meraung, kali ini ke arahku.
Mata ke depan!
Kurasa aku tidak bisa membawa senapan ini lebih jauh. Semoga semua musuh mati. Tidak ingin bertarung. Tidak ingin melihat mayat. Bangga berjuang untuk negaraku!
Jangan pikirkan rumah.
Begitu takutnya sampai kakiku gemetar.
Tetap di tempat, terus melangkah maju.
Terlalu takut untuk berpikir. Kuharap aku tidak kejeblos dalam parit.
Lumpur mengalir di jari-jari kakiku. Aku yakin sol sepatuku akan lepas.
Teruslah maju. Teruslah maju.
Cikarang, 23 Oktober 2024

