Berburu Hantu
dok. pri. Ikhwanul Halim

Berburu Hantu

Views: 25

Ini sangat mirip dengan yang ada di TV. Aku berharap begitu adanya.

Hanya saja, dalam kehidupan nyata, tidak ada yang bersinar hijau. Itu terjadi karena kamera penglihatan malam yang mereka gunakan. Kamera membuat semua orang tampak seperti setan berbusa dan berpendar. Dalam kehidupan nyata, kamu tidak dapat melihat apa pun. Gelap total.

Itu membuatnya lebih menakutkan daripada di TV, pasti. Ketika kamu berbaring malas di sofa, mengunyah keripik singkong, dan menonton acara berburu hantu dari jarak yang aman, kamu tahu kamu tidak akan bertemu dengan arwah prajurit Jepang yang sudah lama mati harakiri dan mengamuk. Kamu tahu kamu tidak mungkin secara tidak sengaja dirasuki oleh setan kuno dengan nama yang disebutkan dalam Kitab Suci. Kamu aman di sofamu, terhibur.

Namun di luar sana, berkeliaran di sekitar kuburan angker pasukan Belanda, dalam kegelapan, kamu tidak tahu apa yang akan kamu temui.

Ada delapan pemburu hantu—tidak termasuk juru kamera. Enam di antaranya dikenal secara nasional karena acara TV mereka, dan ada aku dan seorang wanita tua bernama Mirya. Di bawah sorotan lampu depan mobil van peralatan, Mirya tampak ketakutan, pucat—seolah-olah dia baru saja melihat hantu.

Dia menarik sweter longgar bermotif bunga ke tubuhnya meskipun saat itu pertengahan musim kemarau dan kami semua mengenakan celana pendek dan kaus oblong.

Mirya dan aku pendatang baru dalam dunia perburuan hantu—sebagai pemenang kontes caption foto online. Punyaku “Lagi-lagi daging cincang untuk makan malam? Kamu membuatku termehek-mehek!” Silakan bayangkan foto yang menyertainya. Jujur saja, aku terkejut b sa menang.

Foto Mirya tidak jauh lebih baik. Fotonya bertuliskan: “Sepotong kecil surga, endol surendol.”

Aku bilang padanya aku suka sikapnya yang sopan.

Aku pikir pasti tidak banyak peserta yang ikut.

***

Kami semua berpisah berpasangan diikuti oleh juru kamera. Aku bersama Kunrad, peserta tetap acara itu. Dia menjelaskan semua peralatan, kamera penglihatan malam, perekam audio untuk EVP.

“Kau tahu apa kepanjangannya, kan, Syauki?” tanyanya.

Aku menonton acara mereka setiap minggu dan tahu semua tentang peralatan berburu hantu, jadi aku berteriak, “Electronic Voice Phenomenon!”

Teriakanku mengganggu kicauan halus jangkrik musim kemarau, dan untuk sesaat, semuanya menjadi sunyi senyap.

“Untuk merekam suara yang tidak bisa terdengar secara langsung.”

“Benar,” kata Kunrad. “Kamu bisa berbisik. Kita tidak ingin menakuti penghuni kuburan di sini.”

Aku mengangguk, malu karena membuat kesalahan pemula seperti itu, dan kuharap mereka mengeditnya untuk acara itu.

Jangkrik kembali bersuara.

***

Kami berjalan melintas kuburan, Kunrad dan aku, mengajukan pertanyaan ke ruang gelap kosong di sekitar kami.

“Apakah ada yang ingin berbicara dengan kami? Siapa namamu? Bagaimana kamu meninggal?”

Tidak ada yang menjawab. Tapi, aku tidak patah semangat. Aku tahu kami harus meneliti rekaman audio untuk mendengar jawaban atas pertanyaan tadi.

Di bagian belakang pemakaman terdapat sebuah kolam. Di sini, suara kodok panjang dan rendah bergabung dengan paduan suara jangkrik.

Kabut tipis melayang rendah ke tanah, dan semakin dekat kita ke air, semakin tebal kabutnya. Nyamuk-nyamuk di sini juga lebih banyak, berdengung seperti gergaji mesin mini di dekat telingaku.

Aku mengusir mereka tetapi mereka kembali dalam hitungan detik dan lebih ganas dari sebelumnya. Aku memikirkan sofaku dan bertanya-tanya apakah menonton perburuan hantu di TV tidak sedikit lebih baik daripada yang mengalami langsung.

Kami duduk dan mengajukan lebih banyak pertanyaan. “Berapa umurmu? Dari mana asalmu? Apakah kamu rindu kehidupanmu yang dulu?”

Aku belum pernah mendengar Kunrad menanyakan itu sebelumnya dan aku berkata pelan, “Bagus.”

Kami duduk diam selama beberapa saat sebelum, di suatu tempat dalam kegelapan. Dedaunan berdesir dan ranting patah.

“Apakah kamu mendengarnya?” bisikku bersemangat. Kunrad menutupi bibirnya dengan satu jari telunjuk yang gemuk.

Sosok bayangan muncul, hitam di balik kabut perak, seperti potongan berbentuk manusia dalam kegelapan. Sosok itu bergerak perlahan, di sepanjang tepi kolam, tampak meluncur di tengah kabut yang berputar-putar.

Kami tetap menunduk, menahan napas. Setiap suara diperkuat oleh rasa takutku—suara katak melompat ke kolam dari kejauhan, suara derit cabang pohon yang samar—tetapi tidak ada yang terdengar lebih keras daripada degup jantungku sendiri yang berdebar kencang di dada. Bulu tangan dan kudukku meremang.

Sosok itu menghilang dalam kabut tebal dan setelah tiga puluh detik kami pikir sosok itu hilang untuk selamanya sampai muncul kembali tepat di depan kami.

“Setan!” makiku, dan langsung merasa ngeri karena mengira mereka harus menyesornya dengan bunyi ‘tit’.

Sosok yang ramping, tipis di tengah kabut yang bergerak, menjadi kaku.

Aku ingin berlari kembali ke mobil van, tetapi juru kamera berada tepat di belakangku, mengingatkanku bahwa kepengecutanku akan diabadikan di jam tayang utama. Sebaliknya, dengan keberanian yang tiba-tiba muncul, aku berteriak, “Siapa namamu?”

Sosok gelap itu menjerit melengking sebelum jatuh terkapar.

“Apa-apaan ini?” teriak Kunrad sambil menyalakan senter. Dalam cahaya kuning lembut, Mirya berlutut, matanya terbuka lebar, dan memegangi dadanya melalui sweter bermotif bunga. Dia menarik napas terakhir sebelum jatuh tertelungkup di tanah yang lembut dan berlumut.

Tim pemburu hantu lainnya muncul dari kegelapan. “Apa yang terjadi? Apakah semua orang baik-baik saja?” teriak mereka, tidak lagi khawatir suara mereka akan mengusir roh.

“Kurasa dia sudah meninggal,” kata Kunrad dengan panik. “Seseorang, telepon ambulans.”

Ketakutanku tergantikan oleh kekecewaan—bertanya-tanya apakah sekarang mereka akan menayangkan episode ini, membuat debut TV-ku, pemutaran perdana perburuan hantuku, sama pucatnya dengan Mirya. Namun, saat kru berlutut di atas tubuhnya yang tak bernyawa, aku berdiri sambil memikirkan produser acara yang bersuka ria dalam hiruk-pikuk media dan rating yang luar biasa.

Aku memikirkan acara reuni—tahun demi tahun—kembali untuk memburu hantu Mirya. Dan tentu saja mereka akan mengundangku untuk bergabung dalam perburuan itu. Mereka berharap mendengar suaranya yang menyeramkan dan samar di perekam audio-ku. Lagipula, aku yang membuatnya takut sampai mati.

Cikarang, 31 Oktober 2024

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *