Membersihkan Lemari
dok. pri. Ikhwanul Halim

Membersihkan Lemari

Views: 34

Ibuku menyimpan sebotol Sepi di lemari. Pojok kanan atas, di sebelah bungkus Benci. Keduanya sudah kedaluwarsa. Keduanya mengeras dan mengkristal di udara yang menyesakkan dada. Aku mohon padanya untuk membuangnya.

“Sekarang ada yang lebih baik,” kataku. “Seperti Optimisme yang dibicarakan semua orang, menghilangkan noda dan cacat pesimis hanya dalam beberapa kali perawatan, kata mereka.”

Tapi tidak. Ibu selalu berkata tidak. Dia tidak punya cukup uang. Tapi tentu saja dia punya.

Terletak di bawah wastafel, di sebelah Cerdas. Kalau saja Ibu mau menggunakan uangnya lagi, seperti yang pernah dia lakukan, dan aku yakin kalau dia melihat, dia juga akan menemukan galon berisi Tekad yang biasa dia tuangkan ke dalam semuanya— terkadang tanpa dilarutkan — hingga tempat itu bernyanyi bersamanya.

Namun sekarang tidak lagi.

“Bagaimana mungkin?” katanya, dengan getir. “Bagaimana mungkin setelah apa yang dilakukan ayahmu?”

Dan aku akan mendesah.

Ayahku tak mungkin menahan diri untuk tidak meninggal, meskipun Ibu tidak melihatnya seperti itu. Aku ada di sana ketika seorang tetangga datang, meninggalkannya sekantong kecil Persahabatan yang cerah dan berkilau dan masih hangat karena sentuhannya. Itu disertai dengan saran: minum kopi pagi, nonton film ke teater, dan berkebun.

Ibuku menerima kantong itu dan mengucapkan terima kasih kepada tetangga dengan sopan, senyum rigamortis, lalu menaruhnya di rak paling bawah.

Kantong itu tidak pernah dibuka.

Ini awal musim hujan, bunga-bunga mekar di mana-mana,” kataku padanya. Saatnya membersihkan lemari itu, dan aku membuka pintu lemari, mengambil sebotol Bosan. Dia telah menimbunnya selama bertahun-tahun, dengan kekuatan penuh. Tidak ada yang tak jenuh ganda seperti milik ibuku. Ini adalah Bosan yang pekat. Bosan yang ia sebarkan di seluruh rumah, mengisi celah-celah dengan sekop kecil, kain lembut, dan amarah yang tak terbatas.

Aku katakan padanya itu tidak baik untuknya.

“Akan membunuh Ibu pada akhirnya,” kataku.

Sekarang ada pengganti yang lebih sehat, seperti dosis yang baik dari Semangat Komunitas, dengan testimoni orang-orang yang bersumpah dapat menghasilkan keajaiban.

Namun ibu menggelengkan kepalanya dan membuka senjatanya yang paling mematikan, senjata yang telah menggosok dan membersihkan masa kecil kami, mengupas kulit kegembiraan kami, dan membunuh semua mimpi yang dikenal — mati.

Martir—diwariskan oleh ibunya dan ibunya sebelumnya. Aku bisa mencium keasamannya, merasakan sifat korosifnya. Dan, seperti biasa, aku meringkuk di hadapannya.

Ketika aku mempunyai anak sendiri, Ibu membuka lemarinya dan memberiku Emosi dan Pemerasan ukuran contoh dalam bentuk semprotan dan berbau seperti kesengsaraan, “Tetapi garansinya seumur hidup,” katanya.

Aku tahu betul itu. Aku tidak menginginkannya.

“Tidak, Ibu, tidak,” kataku. “Lemari Ibu bukan lemariku. Generasiku menggunakan hal-hal yang berbeda, seperti Toleransi dan Pengertian … seperti Cinta.”

“Ah… Cinta.” Dia tertawa muram.

“Itu benar-benar akan membunuhmu,” dan menambahkan, “Ketika generasimu menjadi generasiku, maka lemari akan menjadi satu-satunya yang tersisa bagimu. Tahukah kamu? Simpanlah selagi bisa.”

Jadi aku mengambil pemberiannya, mendorongnya ke bagian belakang rakku sendiri, tempat mereka berfermentasi seperti apel busuk dan merusak udara.

Aku harus membuangnya, kataku pada diriku sendiri. Aku tidak membutuhkannya. Tetapi kemudian aku melihat penawaran khusus, dua-untuk-satu-harga, dan aku dapat melihat penghematannya. Jadi aku memesannya. Aku mungkin bahkan tidak akan menggunakannya. Ada hal-hal lain yang lebih baik, seperti Daya Tahan dan Tabah, tetapi tidak ada salahnya menyimpannya.

Tidak ada salahnya sama sekali.

Dan, mungkin Ibu benar. Yang terbaik adalah menyimpannya selagi mampu.

Cikarang, 1 November 2024

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *