“Singkong Beracun Food Estate. Ada yang bisa saya bantu?”
Seorang wanita yang terdengar putus asa berbicara di telepon dengan napas tersengal-sengal.
“Ya, halo? Saya ingin membuat pengaduan. Empat orang jatuh terkapar dan meninggal saat jamuan makan di rumah saya siang ini.”
Syauki bersandar di kursinya.
Sudah mulai lagi.
“Saya turut prihatin mendengarnya, Bu. Apakah Anda tidak ingin mereka mati?”
“Tentu saja tidak!”bentaknya. “Saya benar-benar malu. Seluruh kompleks akan membicarakan ini selama berbulan-bulan. Saya ketua RT, demi Tuhan! Akan menjadi keajaiban kalau tetangga saya masih ada yang menaruh hormat kepada saya.”
“Begitu,” kata Syauki, berusaha sebaik mungkin agar terdengar simpatik. “Ibu tidak melihat label peringatan di kardus, Bu? Yang ditulis dengan huruf tebal besar.” Syauki menyesap kopinya. Oh, masih terlalu panas.
“Oh, yang benar? Saya tidak memperhatikan.”
“Dan stiker tengkorak yang ditempel di singkong? Ibu tidak memperhatikannya juga?”
“Saya kira tengkorak dengan dua tulang bersilang itu artinya untuk menurunkan berat badan.”
Syauki menepuk jidatnya. “Tidak, Bu. Itu artinya berracun, seperti yang tersirat dari nama kami.”
“Bagaimana saya bisa tahu? Serius, kalian seharusnya memberi lebih banyak peringatan untuk sesuatu yang mematikan seperti singkong beracun.”
“Kasir yang menghitung belanjaan Ibu tidak memperingatkan Ibu? Mereka diwajibkan oleh hukum untuk melakukannya.”
“Apa iya? Saya kalau ke luar rumah pakai earphone.”
Syauki memutar bola matanya. “Maaf, Bu. Kedengarannya kami telah memenuhi kewajiban kami untuk memberikan peringatan yang memadai.”
“Saya tidak peduli,”bentak wanita itu. “Saya ingin uang saya kembali. Tiga Empat orang bestie saya meninggal!”
“Baiklah. Tenang saja. Saya akan menyambungkan Anda ke bagian pengembalian uang. Tunggu sebentar.” Syauki menutup telepon.
“Satu lagi?” tanya Bulbul dari bilik di dekatnya.
Syauki menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin membuat semua orang senang.”
“Beda dengan yang aku dapat barusan.” Bulbul tertawa. “Aku baru saja berbicara dengan seseorang yang kesal karena singkong kita tidak cukup mematikan!”
“Andai saja aku mendapat pelanggan seperti itu. Istirahat ngopi sore?”
“Ya,” kata Bulbul. “Sebentar aku ambil bekal makan siangku. Aku kewalahan sehingga tidak punya waktu untuk memakannya.”
Syauki baru saja akan menjawab bahwa dia akan menunggu, lalu matanya mendadak membelalak lebar menyaksikan Bulbul mengeluarkan singkong dengan stiker perusahaan dari tasnya.
“Bulbul!” teriak Syauki, menepis singkong dari tangannya. “Itu singkong produk kita!”
Mata Bulbul membelalak. “Aku tadi sudah sempat mengeluarkannya untuk makan siang, tapi ada pengaduan yang masuk. Aku pasti menaruhnya kembali ke dalam tas!”
“Mungkin tidak usah bawa singkong untuk makan siang lagi, ya?”
“Betul. Ide yang bagus.”
“Sayang sekali kalau sampai kehilangan kamu juga,” kata Syauki sambil menepuk punggung temannya ketika mereka berjalan menuju lift. “Kamu satu-satunya rekan kerja selain aku di bagian ini yang berhasil melewati masa kerja setahun. Kita harus saling menjaga.”
“Terima kasih, Bro.”
Cikarang, 8 November 2024


Udah sering makan produk sendiri dong ya? Hehehe,