Tidak Ada Toleransi, Termasuk Pistol Sinar Pembunuh Alien
dok. pri. Ikhwanul Halim

Tidak Ada Toleransi, Termasuk Pistol Sinar Pembunuh Alien

Views: 14

Om Mahiwal sedang datang di kota, dan tinggal di rumah kami selama beberapa hari. Dia cukup keren untuk ukuran orang dewasa. Dia mengajakku jalan-jalan dan tidak pernah memperlakukanku seperti anak kecil. Saat dia mengemasi kopernya, aku melihat tabung keperakan di tempat tidurnya.

“Apa itu?” tanyaku.

“Psitol pembunuh alien,” katanya.

Aku menengok wajahnya untuk melihat apakah dia bercanda. Sulit untuk mengatakannya.

“Maksud Om, sinar yang digunakan alien untuk membunuh orang, atau sinarnya yang membunuh alien?”

Dia mengangkat bahu. “Nggak tahu juga. Orang yang menjualnya ke Om tidak begitu jelas. Tapi Om suka tampilannya, dan harganya cocok, jadi Om beli. Kamu mau?”

“Serius, Om?”

“Yup.”

“Untukku, bukan pinjam?”

“Pasti. Ini jadi punyamu.”

“Keren!”

Aku meraih tabung itu dan melihatnya dengan saksama. Alat itu pas di tanganku, meskipun lebih berat dari yang kuduga. Padat di salah satu ujung, dan berongga di ujung lainnya, dengan satu tombol kaca bening di dekat ujung yang padat. Aku mengarahkan tabung itu ke luar jendela dan menekan tombolnya.

Tidak terjadi apa-apa.

“Mungkin perlu baterai,” kataku.

“Mungkin alat itu hanya menembak alien,” katanya. “Atau mungkin hanya alien yang bisa menembaknya.”

“Bagaimanapun juga, terima kasih, Om.”

“Tentu. Itulah gunanya seorang om.”

***

Aku membawa pistol sinar pembunuh alien ke sekolah keesokan harinya. Aku menunjukkannya kepada temanku, Jay, begitu aku sampai di kelas.

“Apa itu?” tanyanya.

“Pistol sinar pembunuh alien,” kataku padanya.

Sebelum dia bisa mengatakan sepatah kata pun, sebuah tangan menukik ke bahuku dan menyambar tabung itu. “Anak muda, kamu dalam masalah besar,” kata guruku, Bu . Saodah. “Kamu tahu peraturan sekolah adalah tidak ada toleransi terhadap senjata.”

“Tapi—”

Aku mencoba memprotes bahwa itu bukan senjata sungguhan, tetapi dia menarik lenganku cukup keras untuk memaksaku berdiri, dan menyeretku menyusuri lorong. Sepanjang perjalanan, dia terus bergumam tentang semua “perusuh bengal yang suka kekerasan yang merusak sekolah.”

Berikutnya yang aku tahu, aku sudah berada di kantor Kepala Sekolah Bu Amhar.

“Ini sangat serius,” kata Bu Soadah. “Membawa senjata ke sekolah. Saya terkejut.”

“Itu bukan pistol sungguhan,” kataku.

“Tidak masalah. Kita punya peraturan tentang senjata tidak ada toleransi sama sekali. Tidak masalah apakah itu mainan, atau bahkan gambar senjata. Senjata apa pun akan membuat kamu diskors selama lima hari. Saya yakin orang tua kamu akan setuju bahwa ini harus dilakukan. Itulah satu-satunya cara untuk menjaga kita tetap aman.”

Dia meraih telepon.

“Tolong—”

Aku tidak pernah terlibat dalam masalah apa pun. Ini sangat buruk. Aku bisa merasakan lututku gemetar, disusul dengan seluruh anggota tubuhku lainnya.

“Maaf. Tidak ada pengecualian. Bahkan—”

Apa pun yang dikatakan Bu Amhar selanjutnya tenggelam oleh suara gemuruh. Rasanya seperti dua puluh jet tempur terbang Angkatan Udara di atas kepala sekaligus.

Kemudian suara gemuruh itu semakin keras. Seluruh ruangan bergetar. Buku-buku memantul dari rak di belakang Bu Kepala Sekolah Amhar, dan pigura yang membingkai ijazah S2-nya jatuh dari tembok.

Aku berlari ke jendela. Sebuah piring terbang, bulat dan besar serta dipenuhi lampu yang berkedip-kedip, mendarat di depan sekolah. Ketika aku sedang menatapnya, palka terbuka, dan sekelompok makhluk berlari keluar. Mereka tinggi besar, mungkin setinggi dua atau dua setengah meter. Kepalanya sangat besar dengan empat mata. Mereka memiliki empat lengan, masing-masing membawa sesuatu yang kupikir pasti senjata.

Ibu Kepala Sekolah membuka mulutnya, tetapi yang keluar hanyalah dengus mendesah ketika bola matanya berputar ke belakang dan dia pingsan. Dia terjatuh ke lantai. Untungnya, karpet di kantornya tebal.

Aku mengambil pistol sinar pembunuh alien dari meja dan berlari kembali ke jendela. Aku mengarahkan sinar itu ke alien terbesar dan menekan tombolnya.

Aku berdoa.

Benar-benar berhasil.

Pantaku hampir tembok ketika seberkas energi yang kuat melesat dari tabung. Alien itu berdesis sesaat, seperti daging sate yang sedang dibakar di atas panggangan yang membara disiram kecap, lalu menghilang dalam kepulan asap hijau.

Aku menembaki mereka semua. Untungnya, aku sudah terbiasa bermain video game, dan cukup banyak menonton kartun, untuk mengetahui posisi seperti apa yang harus digunakan dengan senjata jenis ini.

Aku menyingkirkan semua alien yang kelihatan. Namun, beberapa dari mereka telah masuk ke dalam gedung sekolah. Aku berlari keluar kantor, dan memburu mereka semua.

Ketika aku yakin telah membasmi semua alien, aku kembali ke kantor. Ada satu alien terakhir di sana. Dia memegang ibu kepala sekolah dari belakang, dan mengarahkan semacam pistol ke kepalanya.

“Tolong saya,” kata Bu Kepala Sekolah Amhar.

“Tidak ada toleransi?” tanyaku. “Tidak ada pengecualian?”

“Itu konyol,” katanya. “Selalu ada pengecualian.”

Aku memanggang alien terakhir, lalu memasukkan pistol sinar itu ke dalam kantungku. Aku menuju pintu supaya aku bisa kembali ke kelasku untuk mengikuti pelajaran pertama. Namun, aku berbalik beberapa saat kemudian.

“Bisakah saya mendapatkan surat izin terlambat?” tanyaku. “Bu Saodah suka memberikan hukuman.”

“Yah, menurut peraturan, keterlambatan berdasarkan tindakan disiplin tidak dapat dimaafkan,” kata Bu Kepala Sekolah Amhar.

“Jadi saya akan mendapat hukuman?” tanyaku.

“Aku rasa begitu.”

“Oh tidak! Alien!” Aku menunjuk ke luar jendela.

Bu Kepala Sekolah Amhar menjerit dan melompat dan tiarap di lantai. Kemudian dia merangkak ke jendela dan mengintip dari ambang jendela.

“Apa? Di mana?”

“AKu keliru,” kataku. “Aku berani bersumpah tadi tampaknya lebih banyak lagi alien datang. Itu pasti awan atau burung atau semacamnya. Jadi, bagaimana dengan izin terlambat itu?”

“Tidak masalah.” Dia bangkit dari lantai, meraih buku catatannya, dan mulai menulis.

“Terima kasih.” Aku mengambil surat itu dan kembali ke ruang kelas.

Aku berpikir untuk berlari menyusuri lorong, tetapi itu melanggar peraturan. Dan ada peraturan yang sebenarnya memang hampir masuk akal.

.

Cikarang, 16 November 2024

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *