Tiga Naga
dok. pri. Ikhwanul Halim

Tiga Naga

Views: 19

Hubungan kita dengan naga adalah hubungan yang aneh.

Naga adalah mitos yang telah berkembang dan membentuk dirinya sendiri menjadi kontradiksi apa pun yang dibutuhkan zaman saat ini. Naga adalah pembawa dunia atau penimbun harta, baik atau cacat. Fra Mauro, kartografer Italia membuat peta dunia abad kelima belasnya, menepis jenis takhayul yang mempercayai binatang buas fiksi. Meskipun demikian,  di suatu tempat di petanya, sebuah pulau kecil diberi nama, “Isola de Dragoni.”

Selalu ada pengecualian di setiap zaman. Naga dari kisah literatur klasik dapat ditemukan sebagai salah satu dari tiga jenis, meskipun, seperti kebanyakan mitos, naga-naga ini mungkin saja saling tumpang tindih, dan beberapa generasi dapat mengubah dari pengabul keinginan yang baik hati menjadi musuh yang harus dibunuh.

***

1. Hati yang Kokoh Laksana Batu Karang: Naga Sebagai Kekuatan

Dalam Kita Perjanjian Lama, ada Leviathan yang menyimpan kekuatan. Agama Hindu mengenal Dewa Ananta yang menguasai alam semesta. Bumi adalah jalinan naga.

Naga adalah mitos yang kebenarannya dibuktikan oleh catatan fosil yang menyajikan sisa-sisa dinosaurus sebagai bukti nyata monster yang pernah menguasai dunia. Naga adalah monster yang menanggung beban apa pun yang kita berikan padanya—teror, pengabul keinginan, pelajaran.

Penjelmaan pertama naga adalah sebagai kekuatan yang melampaui pengetahuan, kekuatan yang begitu besar sehingga menaklukkan alam, atau menjadi alam.

Naga ini tersebar luas, muncul dalam lusinan budaya sebagai ular bersayap atau bercakar, berbulu atau bermulut cukup besar untuk menelan seratus orang. Mereka sering kali harus dipuja. Dan meskipun mereka dapat mengabulkan permintaan, mereka cepat marah, dan pedang yang diarahkan kepada mereka tidak akan mampu menahannya.

Bagi suku Indian Pueblo, Awanyu adalah naga yang menguasai air. Bersama dengan saudara-saudaranya, dalam hal spesies kalau bukan dalam geografi, adalah Ryu dari Jepang, Long dari Vietnam, dan Leviathon dari Ibrani. Kukulkan dari Maya adalah pembawa pesan matahari.

Mitos India, mungkin yang paling mempercayai naganya, Anantasesha, puncak ular, adalah dia yang menjadi sandaran bumi. Saat dia membuka dan meregang, waktu bergerak maju dan alam semesta berkembang. Saat dia meringkuk kembali menggulung dirinya sendiri, alam semesta akan berhenti, dan hanya dia yang akan tersisa. Namanya menandainya sebagai yang abadi,: “yang tersisa.”

***

2. Jejak Kaki Ular: Perempuan yang Mengerikan

Dari semua bentuk mengerikan yang dimiliki naga, tampaknya menjadi seorang wanita adalah, terlepas dari semua kemungkinan, yang terburuk dari semuanya. Contohnya Tiamat.

Meskipun kisah-kisah tentang wanita mengerikan itu muncul ribuan kilometer secara terpisah, nasib wanita itu yang sering ditemukan oleh kekasihnya sebagai ular yang menyamar tidak banyak berubah. Dalam mitos Yunani tentang Lamia dan cerita rakyat Prancis tentang Melusine, naga mengambil bentuk manusia karena cintanya kepada seorang pria. Kekasihnya memata-matainya dan menemukan rahasianya. Lalu memutuskan hubungan, dan setiap tokoh wanita mengambil bentuk aslinya dan kembali ke dunia asalnya. Beberapa, seperti Melusine, setia, dan hanya menghantui satu garis keturunan, tetapi Lamia mengambil korban mana pun yang tersesat.

Wanita mengerikan bahkan dapat datang dari dalam sarang yang bersahabat. Di Jepang, di mana naga sering kali menjadi pengabul keinginan dan pemberi nasihat, legenda Kiyohime mengisahkan seorang janda yang berubah menjadi naga yang menakutkan, mencabik-cabik biara, dan membakar biksu yang menolak cintanya. Kisah ini berakhir dengan peringatan tentang “kekuatan kejahatan di hati wanita.”

Dan terkadang, wanita mengerikan itu tidak membutuhkan wujud manusia sama sekali. sebaliknya, penaklukan naga betina diperlukan untuk mengakhiri teror. Marduk, yang menaiki bangkai naga Tiamat dalam kisah penciptaan Babilonia dan menggunakan bagian tubuhnya untuk membangun bumi, adalah yang pertama dari para pembunuh naga hebat, tetapi bukan yang terakhir. Di Portugal, naga St. George juga betina. Dan jangan lupakan Siluman Ular Putih dari Tiongkok serta Nyi Blorong dari Pantai Selatan Jawa.

***

3. Wajah Teror: Naga sebagai Ritus Peralihan

Tentu saja, naga terhebat adalah naga yang berada di dua alam keabadian dan yang fana, naga yang cukup menakutkan untuk mendatangkan malapetaka, tapi cukup lemah untuk dibantai.

Naga ketiga inilah yang membuktikan nilai seorang pahlawan.

Inilah naga modern: makhluk buas yang dibunuh oleh Sigurd, Fafnir, yang lemngkerut menjadi kadal ketika menimbun harta karun, dapat dlacak garis keturunannya langsung ke Smaug dari Gunung Kesepian. Inilah naga yang dibunuh St. George dengan satu serangan, seperti Beowulf, Gawain, dan seratus pahlawan setelahnya.

Menariknya, naga-naga ini sudah lebih manusiawi daripada nenek moyang mereka. Pergeseran yang sama dalam persepsi budaya yang membuat mereka rentan terhadap para pahlawan, membuat mereka rentan terhadap kelemahan manusia lainnya. Naga-naga ini cukup picik  karena keserakahan, dan merupakan penimbun harta karun.

Naga ini adalah rintangan yang melayani setiap tuannya sesuai kebutuhannya. Naga yang, kalau plot membutuhkan pencarian, dapat dijinakkan.

Perseus membunuh ular itu untuk memenangkan garis keturunan kerajaan dan menentang para dewa. St. George menggunakan naganya untuk menghormati dewanya, dan mengubah tiga puluh ribu orang kafir dengan kepala naga.

***

Naga Dulu dan Akan Datang

Naga, makhluk legendaris yang lebih mirip bunglon karena kemampuannya berubah bentuk, mewujudkan dunia dan masa ketika manusia yang menghormatinya, atau membunuhnya. Naga modern menyadari asal usulnya, tetapi seiring perjuangan manusia telah berubah dari sekadar bertahan hidup di dunia menjadi menaklukkannya, naga pun telah menjadi kuda tunggangan (seperti halnya naga-naga Pern), penolong (Dragon dan Smrgol milik George), majikan yang pemarah bagi para wanita muda pemberani seperti Cimorene dalam Dealing with Dragons karya Patricia C. Wrede.

Di dunia tempat manusia telah merusak alam, naga-naga berikutnya mungkin melengkapi siklus penghormatan, menjadi simbol keseimbangan alam yang terganggu, cara hidup yang telah lenyap. Atau konflik duniawi mungkin memanfaatkan naga sebagai penghalang sekaligus penyelamat, dan mereka akan memperkuat baju besi bersisik mereka dan menjadi binatang perang.

Namun di dalam hati, naga mungkin lebih setia pada dirinya sendiri daripada yang kita pikirkan. Dalam penciptaan dan kematian, naga-naga tua yang tak terkalahkan itu akan bangkit, dan menjadi bahagia.

Cikarang, 20 November 2024

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *