Tambahan Waktu
dok. pri. Ikhwanul Halim

Tambahan Waktu

Views: 22

“Ingat, teruslah bicara.” Mata biru kobalt Dr. Mirae terpaku pada mataku. Ekspresinya serius seperti topeng leak Bali. “Kau dapat membantunya membuat pilihan yang lebih baik.”

Kekhawatirannya terasa nyata, seperti tangannya membebani pundakku.

Aku mencoba menyamakan ekspresi wajahnya dan mengangguk.

Hutan tampak berkedut, burung pipit dan serangga berceloteh sesaat sebelum kembali bersuara.

“Kami siap, Tuan Syauki,” katanya.

***

Aku melangkah keluar dari hutan. Jalan tanah yang sudah kukenal dipenuhi sampah berkelok menuju pondok  yang kubeli bersama mendiang istriku, Devita, tiga puluh dua tahun silam. Kami membawa Rick ke sini setiap liburan sekolah selama belasan tahun, mungkin lebih. Dinding papannya yang bolong berangin, lantai yang berderit, dan pipa air dingin selalu lebih sesuai dengan selera Devita dan Rick daripada seleraku.

Setelah Devita meninggal, setelah Rick dan aku mulai menjauh, pondok itu terbengkalai.

Talang air yang tersumbat daun mengelilingi atap sirap dan panel surya yang ditutupi terpal hijau. Anak tangga di teras depan tampak siap patah. Angin sepoi-sepoi yang sejuk menari-nari di antara dedaunan yang memerah, mengusap kulitku seperti belaian yang tidak diinginkan.

Aku seharusnya menjual tempat ini bertahun-tahun yang lalu.

Anakku seorang pembunuh. Bom yang dia tanam menewaskan empat anggota dewan Metaterra, dan sekarang mereka berkata hanya aku yang bisa menolongnya.

Aku ingin berada di sini, kataku pada diriku sendiri.

Menjejakkan kakiku di anak tangga pertama terasa seperti pengakuan kegagalanku sebagai orang tua. Anak tangga kedua lebih mudah.

Sebelum buku-buku jariku yang rematik mampu mengetuk pintu, suara Rick berteriak, “Siapa di sana?”

“Ini Papa. Aku sendirian.”

Hening selama sepuluh, lima belas detik. Kemudian, “Masuklah.”

Perlahan, aku memutar kenop pintu, menikmati cat antikarat yang retak dan hancur di bawah jari-jariku, sensasi yang sangat segar.

Pintu terbuka dan memperlihatkan ruangan berdebu yang ditembus cahaya pucat matahari yang menembus jendela bertirai kotak-kotak. Rick ada di meja, mengenakan kaca pembesar LED. Ada batu bata abu-abu yang tampak seperti tanah liat dan beberapa papan partikel.

“Berani sekali, orang tua, datang ke sini.”

Dia tidak bangkit. Ada pistol di lantai di sebelahnya, hitam dan menyeramkan, sama tidak terduga seperti ular kobra di bak mandi. Fluks yang terbakar, alkohol gosok, dan kayu kering. Baunya bercampur menguar di udara, mengingatkan kenangan akan kebakaran gedung, orang-orang berteriak.

Tenang! Kamu aman!

Kata-kata itu berkedip dalam huruf kapital merah terang di sudut mataku.

“Jadi. Sebenarnya, kenapa Papa di sini? Mereka menyuruhmu masuk untuk membujukku keluar pintu dan masuk ke dalam peluru penembak jitu?”

“Bukan, Rick,” kataku. “Kau anakku.”

“Tentu,” katanya, “tetapi mereka masih di luar sana. Satu-satunya cara agar aku bisa meninggalkan pondok ini adalah mati, atau menjadi tamu di alam pikiran.”

Dia menyeringai. “Tidak yakin mana yang lebih buruk.”

Dia kembali bekerja, menghubungkan penerima nirkabel ke papan chip di depannya.

Terus bicara. Kenali.

“Nak, dengar. Aku mengerti. Dunia sedang terbakar, tetapi kau perlu lebih yakin pada kemanusiaan, lebih banyak harapan.”

“Lebih banyak harapan? Yang kumiliki hanyalah harapan. Jangan pernah putus asa. Jadilah gigih dan keras kepala serta jangan pernah menyerah, seperti yang tertulis dalam buku motivasi yang bagus.”

“Devita seharusnya tidak memberimu benda bodoh itu,” gerutuku. “Itu menginfeksimu seperti virus.”

Fokus.

Rick mendesah puas, meletakkan besi solder, menyeka dahinya.

“Perusahaan milikmu, Papa, dunia virtual yang kalian bangun, itu hanya pengalih perhatian. Peradaban sedang runtuh. Badai Zita baru saja mengubah Kalifornia menjadi Atlantis. Kampala kekeringan. Sidney terbakar. Tidak ada aplikasi untuk membangkitkan kembali….”

Dia terdiam, tiba-tiba tampak bingung.

“Apa, Rick? Untuk membangkitkan kembali apa?”

“Tidak masalah,” katanya.

Satu tangannya mendekati pistol.

“Papa tahu,” katanya. “Aneh. Aku punya firasat seperti deja vu, kan? Dan ada yang lain lagi, ketika aku merasa seperti tidak bisa mengingat dengan jelas apa yang kulakukan sebelum aku bangun di sini dan mulai bekerja. Papa pernah merasa seperti itu?”

“Deja vu? Tentu. Kita sudah berdebat selama bertahun-tahun. Namun orang-orang beradaptasi. Beberapa kota berkembang pesat. Lihat saja Anchorage atau Oslo atau Jakarta sekarang. Tembok Laut Benteng Nusa sudah selesai. Keadaan menjadi lebih baik.”

“Maaf, tapi menurutku Papa salah soal itu,” katanya dan mengambil pistol. “Katakan pada sipir penjara untuk bekerja lebih baik dengan potongan memori saat mereka mengulang penyiksaan kecil ini.”

Aku bahkan tidak merasakannya saat raungan itu datang.

***

Aku berkedip dan aku kembaliberada di ruang antarmuka, satu dari lusinan ruang di pusat reorganisasi psikologis penjara. Ada ratusan tempat seperti ini, masing-masing menjalankan Metaterra mereka sendiri. Masing-masing didedikasikan untuk membantu mereka yang suka kekerasan dan terganggu.

Pekerja sosial Rick membutuhkan masukan pribadiku. Sekarang, menatap wajahnya yang datar, keraguanku kembali muncul.

“Itu mengerikan.”

“Kalau dia menyerah,” katanya. “Kalau dia menyerahkan diri, kami rasa dia akan siap untuk perawatan penuh. Dengan latihan, aku yakin kamu bisa membantunya bangkit.”

“Aku tidak ada di sana, kau tahu,” kataku sambil menunduk menatap tanganku. “Kupikir idenya tentang Metaterra yang berbahaya itu omong kosong.”

Layar dinding memperlihatkan anakku, berbaring lemah di dalam podnya. Lingkaran cahaya Metaterra hampir tak terlihat di dahinya.

“Tuan Syauki?” Mirae akhirnya berkata, “Kami siap untuk mencoba lagi. Bagaimana denganmu?”

Masih menatap Rick, aku berkata, “Jangan pernah putus asa, dokter, dan jangan pernah menyerah, kan?”

Lalu aku memejamkan mata.

***

Hutan menjulang seperti tirai hijau.

Cikarang, 22 November 2024

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *