Yang Tak Terucap
dok. pri. Ikhwanul Halim

Yang Tak Terucap

Views: 22

“Kalau kita membuat bayi, warnanya akan sama dengan minumanmu,” kata Siena.

Aku tersedak, dan meletakkan kopi dingin itu di atas cincin gelap yang ditinggalkannya di tangga teras.

“Kita bisa memberinya nama Kopi Dingin.” Dia terkekeh.

“Itu tidak lucu.”

“Kau benar. Pemberian nama seharusnya mencerminkan perhatian. Apa aku sudah pernah bilang namaku adalah anagram dari Anies, nama ayahku? Keren, kan?”

Aku menyeka keringat di dahiku. “Kamu minum pil, kan?”

“Ah-hah.” Dia mengalihkan pandangannya, dan menyingkirkan debu kapur dari bawah kukunya. rambut ikalnya yang tidak teratur jatuh menutupi wajahnya.

Aku menatap halaman rumput yang baru saja kupotong.

“Tidakkah kamu menyukai garis-garis hijau muda dan hijau tua yang berselang-seling?” tanyanya.

“Aku sedang melihat bayangan panjang pohon dedalu kecil.”

“Ini, aku membuat sesuatu untukmu.” Dia menyerahkan patung gipsum yang sedang dikerjakannya. Kaki patung itu menempel pada kerang laut, dan tangannya menutupi bagian pribadinya.

“Itu Venus karya Botticelli.”

Dia suka memahat. Itu sebabnya dia ke ISI untuk belajar Seni Rupa.

“Jam berapa penerbanganmu ke Yogya besok?” tanyaku.

“Siang.”

“Aku bisa mengantarmu ke bandara.”

“Kurasa Ibu tidak akan suka itu.”

Rahangku mengatup. Siena berjanji untuk melawan Dr. Amira setelah kejadian bulan lalu ketika wanita itu—ibunya—marah padaku karena berbicara dengan putrinya.

“Sebaiknya aku pergi,” kataku sambil berdiri.

“Jangan marah.”

Dia memelukku, tidak terganggu oleh bajuku yang berkeringat. Melihat lengannya yang gelap menempel di lenganku, aku teringat bangku mahoni dan betula yang baru saja kubuat.

Kaosnya terbalik. Aku tak bisa menahan senyum melihat kecerobohannya. Tiba-tiba tubuhnya menegang dan dia melepaskan diri.

“Ada apa ini?” Suara Dr. Amira menggelegar.

“Tidak ada apa-apa,” kata Siena, wajahnya merah padam.

Dr. Amira melotot ke arahku lalu ke mesin pemotong rumputku, seolah dia ingin membelahku dengan itu.

“Aku membayarmu untuk bekerja di sini, bukan untuk berhubungan dekat dengan putriku.”

Aku menyuruh Siena mengatakan bahwa aku pacarnya, tetapi dia hanya menunduk—bodoh seperti patungnya.

“Sheena dan aku pacaran,” kataku.

Siena menggelengkan kepalanya, matanya membelalak karena takut. Aku merasa seperti orang bodoh.

Sambil mendengus, Dr. Patel merogoh tasnya untuk mengambil dua lembar lima puluh ribuan dan melemparkan uang itu kepadaku. Uang itu jatuh ke tanah.

“Sekarang, pergi dari rumahku. Untuk selamanya.”

Aku mengumpat dalam hati dan pergi.

“Bikin malu.” Aku mendengarnya mendesis pada Siena.

***

Siena berangkat ke Yogyakarta  dan aku pindah ke rusun dekat akademi  tempat aku belajar pertukangan. Karena egoku terluka, aku tidak menelepon atau mengirim email kepadanya. Begitu pula dia.

Kemudian sekitar dua bulan kemudian, dia meninggalkan pesan di ponselku yang mengatakan bahwa dia punya sesuatu yang penting untuk dibicarakan, dan bahwa aku harus segera menelepon balik.

Meskipun aku sangat merindukannya, aku membuatnya menunggu selama dua minggu penuh sebelum menelepon kembali.

Dia tidak menjawab.

Aku pulang ke rumah ketika Lebaran tiba. Aku sangat ingin bertemu Siena sehingga aku menghabiskan waktu lama untuk menyapu dan mengantongi daun-daun yang gugur di halaman rumahku. Hari sudah malam saat aku selesai dan Ibu datang memanggilku untuk makan malam. Saat itulah Dr. Amira masuk ke jalan masuk rumahnya. Ibu menyapa tetapi wanita itu tidak menanggapinya.

“Dia sedingin stetoskopnya,” gumam Ibu.

“Siena pulang Lebaran?” tanyaku, memperhatikan bahwa kursi penumpang mobil ibunya kosong.

“Tidak melihat gadis itu sejak dia mencarimu.”

“Kapan itu?”

“Sekitar bulan lalu. Aku bilang padanya kamu mungkin di kampusmu, dan dia bilang dia akan meneleponmu.”

Mungkin saat itulah dia meninggalkan pesan suara. Aku merasa tidak enak karena tidak segera menelepon balik. Tiba-tiba jendelanya—yang terbuka karena cabang mangga yang tersangkut di kusennya—bersinar.

Aku bergegas ke halamannya dan mengarahkan ranting kering ke jendelanya. Tirai renda itu terbuka, dan wajahnya—yang anehnya lembut dan bulat seperti Venus yang dia berikan padaku—muncul di balik kaca. Aku memberi isyarat padanya untuk turun. Dia menutup tirai dan menghilang.

Aku menunggu, mataku terpaku ke pintu.

Angin sepoi-sepoi melepaskan daun-daun rapuh terakhir dari ranting-rantingnya. Dia tidak keluar.

***

Baru pada bulan Mei tahun berikutnya, ketika aku pulang untuk merayakan Lebaran lagi, aku melihat Sheena. Dia sedang memetik melati putih dari tanaman merambat yang melilit pagarnya. Tanah di bawahnya ditutupi bunga-bunga tempuyung liar berwarna kuning.

Aku penasaran apa yang dilakukannya di Bandung  selama minggu ujian. Yogyakarta telah menambah beberapa kilogram berat badannya. Gaun birunya yang panjang tampak sedikit ketat, dan matahari tengah hari telah menciptakan bayangan gelap di bawah matanya yang membuatnya tampak lebih tua dari sembilan belas tahun. Dia berjalan ke pohon dedalu, dan berlutut untuk meletakkan bunga-bunga di gundukan jarum cemara yang mengelilingi pohon.

Aku berlari ke arahnya.

Dia menatapku dan kemudian mengalihkan pandangan ke bunga melatinya, wajahnya tiba-tiba pucat.

“Bisakah kau berhenti mengabaikanku?” kataku.

Dia mengambil segenggam jarum cemara dan melemparkannya ke atas bunga-bunga. Ketika dia bertemu pandang denganku lagi, matanya berbinar.

“Dengar, aku minta maaf karena tidak segera membalas teleponmu, tetapi menurutku reaksimu berlebihan.”

Alih-alih menjawab, dia bergegas masuk kembali, gaun jerseynya memeluk pinggul dan kakinya.

Penasaran mengapa dia meletakkan bunga-bunga itu, aku membuka gerbang dan menerobos masuk ke halamannya. Ketika aku menyingkirkan jarum cemara dari tempat dia meletakkan melati, aku menemukan lempengan tanah liat yang diukir dengan cetakan tangan mungil dan kata-kata:

“Musim tidak memberi kehidupan bagi Diana binti A. Maulana, 13 April 2018.”

“Aidan Maulana, kau melanggar batas,” suara Dr. Amira menggelegar.

Darah mengalir deras ke wajahku dan berdenting di telingaku ketika aku mendengar namaku, dan menatap nama yang tertera di lempengan itu.

Cikarang, 25 November 2024

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *