“Bu Guru. Bu Guru. Lihat, sarkofagus!” bocah kecil itu berteriak dengan gembira.
“Bukan, Dino, ini peti mati, ayo jalan terus.” Seorang wanita memakai topi merah muda dengan logo sekolah yang terpampang di bagian belakang menggiring anak laki-laki bercelana pendek abu-abu ke area pameran berikutnya.
Aku tak dapat menahan diri, “Kamu benar, ini sarkofagus,” kataku.
“Om itu bilang itu sarkofagus.”
Si bertopi merah muda melotot
“Oh, diamlah.”
Tidak salah lagi, ada racun dalam suaranya.
“Kasar sekali,” balasku.
Dino menatapku dan mengedipkan mata.
“Siapa itu?” dia menunjuk papirus di dinding.
“Ammit, Pemangsa orang-orang yang meninggal.”
“Dino, ayo jalan. Jangan bikin Bu Guru kembali lagi ke sini.” Si topi merah muda muncul lagi
“Jangan ganggu anak itu. Kalau tidak, aku akan melaporkan Anda.”
“Aku suka gigi Pemangsa.” Dino tersenyum, memperlihatkan gigi-gigi kecil kekuningan.
“Apa yang kamu bicarakan, Dino? Ayo, teman-teman sekelasmu yang lain sudah menunggu, ini sudah jam makan siang.”
“Ya, dia berkepala buaya,” kataku.
“Namaku berarti dinosaurus. Apa yang dia lakukan?”
“Memakan hati orang jahat,” jawabku.
“Jangan ganggu anak itu, aku akan memanggil pihak berwenang.” Topi merah muda mengeluarkan walkie-talkie dari saku dan memutar kenop. Terdengar bunyi berderak keras.
“Bagaimana dia tahu siapa yang jahat?” tanya Dino.
“Lihat timbangan itu?”
Dia mengangguk.
“Itu menimbang hati untuk melihat seberapa baik seseorang.”
“Jadi, kalau kamu melakukan hal-hal buruk, akan dimakan.”
Mata kuningnya berkilau dan dia mengertakkan giginya.
“Saya butuh bantuan.” Topi merah muda berbicara ke walkie-talkie-nya.
“Kita di dekat … apa ini namanya?”
“Sarkofagus, Bu.”
Walkie-talkie mendesis. Topi merah muda melangkah mundur dan kakinya tersandung. Dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Dari walkie-talkie terdengar “Apa masalahnya?”
Dino menelan ludah sebelum menjawab “Tidak ada masalah apa-apa.”
Cikarang, 29 November 2024

