Kecelakaan
dok. pri. Ikhwanul Halim

Kecelakaan

Views: 14

Duma membanting pintu bagasi mobil hingga tertutup rapat dan berbalik untuk menunggu Edison.

“Di mana kau, O Belahan Jiwaku?” panggilnya, tetapi Edison tidak muncul.

Dia ingin melihat senyum ironis yang membuatnya tidak sabar untuk menikahi Edison sekarang, di usia paruh baya mereka.

Duma bergerak dari satu kaki ke kaki lainnya, seolah menginjak pecahan kaca. Maybelle di gendongan di kursi belakang mengeong, tidak menyembunyikan kecemasannya.

Edison kembali ke dalam rumah untuk memastikan bahwa jendela terkunci.

Dia keluar dari rumah dengan gemetar.

“Kau yang menyetir,” katanya. “Aku tidak sanggup hari ini.” Kemarin, untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, dia akhirnya menyetir sendiri ke minimarket.

Duma membayangkan bunyi dentuman keras dan anak laki-laki itu terlempar dari jok sepedanya ke trotoar. Dia membayangkan trotoar itu panas dan kasar.

Duma tidak ada di sana saat kejadian.

Edison menatap pintu mobil yang terbuka dan menarik ujung kausnya.

“Aku bahkan tidak pernah menabrak tikus di jalan. Mullop bilang kalau dia pernah menabrak anjing. Dia kesal karena kap mobilnya penyok.”

“Mullop brengsek. Dia percaya bahwa dialah yang menggantung bulan di langit. Dia adalah jemaat tunggal gereja Mullop.”

“Aku bermimpi tadi malam. Dalam mimpiku, anak laki-laki itu tidak menoleh ke belakang ke arah teman-temannya dan tertawa. Dia menghentikan sepedanya tepat sebelum menabrak spatbor. Sebuah parasut mengangkatnya dan dia berteriak, ‘Pak Halomoan, sori aku bikin Bapak kaget.’ Aku tak tahu bagaimana dia bisa tahu namaku.”

“Itu mimpi.”

“Iya.”

“Abang harus mencoba melupakannya. Abang harus mencoba. Anak laki-laki itu masih hidup—cuma patah tulang tangan.”

“Iya.”

Duma meletakkan tangannya di bahu Edison. “Aku tahu mengunjungi mamakku membuat Abang stres, tetapi kemudian kita akan pergi ke danau. Kita akan bersenang-senang.”

“Iya.”

Mamaknya pasti terkejut, meskipun Duma sudah meneleponnya empat kali dan mengatakan bahwa dia akan datang bersama tunangannya.

Ibu Edison sudah lama meninggal.

Satu orang yang perlu dikhawatirkan berkurang.

Duma mengipasi dirinya sendiri dengan tangannya, mungkin karena panas yang menyengat. Suhu tubuhnya sama dengan suhu udara di luar.

Mamaknya biasa bercanda tentang panas yang menyengat. “Terangi dunia.”

Bagasinya penuh. Koper, tabir surya, topi, obat nyamuk. Banyak pelindung terhadap lingkungan.

Sinar matahari menusuk menyilaukan mata. Dia mencari kacamata hitamnya di tasnya dan memakainya.

Pikiran mamaknya mulai kacau. Duma menepuk pinggangnya sendiri.

Bagian dalam tubuhnya hancur. Tidak ada lagi telur yang mengambang—sebetulnya bagus juga.

Kacamata hitam itu menggelapkan dunia. Dia mencengkeram gagang pintu—logam panas ini tidak akan meleleh sampai matahari membakar planet Bumi dalam kobaran api karena panas.

Dia tidak akan ada di sana. Edison tidak akan ada di sana. Maybelle tidak akan ada di sana. Mereka sudah lama tiada saat itu—sebetulnya bagus juga.

Edison menjatuhkan berat badannya ke kursi penumpang.

“Mullop bikin aku kaget. Dia pernah bilang waktu kecil dia pikir dia akan menjadi pendeta. Seorang misionaris. Dia ingin memberi makan orang, menyembuhkan mereka. Dia ingin menyelamatkan bayi-bayi pagan.”

“Aku ingin menjadi biarawati waktu aku masih kecil. Amri Pakpahan ingin menyelamatkan hewan.”

“Jadi, apakah Amri Pakpahan ingin menyelamatkan Mullop?”

Croline mengatur posisi kursi. “Yah, dia memang binatang.”

“Yang tdak kita tahu adalah ibunya memukulinya. Dia mabuk dan marah, menginjak-injak tentara mainannya, berteriak padanya.”

Duma mengangkat bahu. “Kita semua punya masalah.”

“Dia memaafkannya. Dia bilang bahwa ibunya tidak bisa menahannya. Ibunya meminta maaf keesokan harinya.”

“Setidaknya dia punya sopan santun.”

“Mengapa kau mesti sinis begitu, hah?”

Duma menarik napas. “Maaf. Aku kesal dengan pekerjaan di kantor, mamakku, bahkan bayi-bayi pagan. Dunia, pemanasan global.”

Edison meraba-raba sabuk pengaman dan berhenti. “Bagaimana dengan pekerjaanmu?”

“Copywriter yang baru dipecat.”

“Soni dipecat juga?”

“Aku mungkin yang selanjutnya.”

“Kau terlalu penting.”

“Kalau Tonggar memutuskan untuk menutup perusahaan—”

“Kau bisa tinggal di rumah dan mengerjakan karya senimu. Haleluya. Sebuah kesempurnaan yang sangat diharapkan. Melukis dan bersantai.”

“Mamak biasa bilang, ‘Di dalam kubur, aku akan tidur.’ Berarti dia tidak punya waktu untuk bersantai.”

“Aku tahu.”

“Berarti dia kecapean. Berarti dia mendambakan kedamaian. Berarti dia harus terus bekerja.”

Duma menatap kaca spion dan melirik ke belakang mobil, meskipun dia tahu tidak ada seorang pun di sana. “Mamak tidak mengatakannya lagi. Sekarang dia berbicara tentang sepeda yang diinginkannya, Schwinn Meteor merah. Sepeda anak perempuan 26 inci. ‘Gampang didayung,’ katanya.”

Duma menepis seekor nyamuk, tidak ingin menangkapnya, dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. “Aku punya sepeda merah yang sangat kusukai.”

“Aku juga. Dan aku punya bola dunia besar dengan benua-benua yang dicetak dengan warna hijau dan cokelat. Aku bermaksud mengunjungi setiap benua.”

Edison meletakkan tangannya di lututnya. “Aku sudah mengunjungi dua benua. Haruskah aku kecewa?”

“Kita belum mati.”

Edison merentangkan tangannya di lututnya. “Tanganku keriput.”

Duma meraih tangan yang paling dekat dengannya dan meremasnya dengan lembut sebelum melepaskannya.

Maybelle mengeong. Edison berlutut di kursi depan dan menghadapinya.

“Kucing pintar. Dia tahan dengan kita dan kandangnya.”

Duma memasukkan kunci ke dalam lubang kunci kontak.

“Kau tahu aku mengunjungi Mamak minggu lalu. Dia bercerita mencuci syal sutranya. Dia merendamnya semalaman dan ketika dia meremasnya di dalam air, dia merasakan ada yang keras di jari kelingkingnya. Ternyata seekor kumbang. Kumbang itu pasti merangkak ke sana untuk minum dan mati. Mamak terkejut. Dia bertanya-tanya apa artinya. Mata kumbang itu mirip mata manusia kecil yang menatap ke atas. Waktu Mamak cerita, dia menjatuhkan nampan, supnya tumpah ke gaunnya. ‘Lihat aku,’ katanya, air mata mengalir di muka Mamak. ‘Aku berantakan.’ Yang bisa aku lakukan cuma memeluknya.”

Maybelle mengeong di dalam kandangnya. Edison balas mengeong dan memasukkan jari-jarinya ke bagian depan kandang.

Kucing itu bangkit  dan bergerak ke pintu kandang, dan menempelkan kepalanya ke jari-jari Edison.

Edison berbalik dan menatap ke jalan.

“Makhluk yang baik,” katanya.

Cikarang, 8 Desember 2024

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *