Ada ibu-ibu di sekeliling kita. Tentu saja ibu-ibu yang kita lihat. Yang mendorong kereta dorong, menyeka wajah yang basah dengan air liur, selalu terikat tangan dengan anak-anaknya yang menangis. Ibu-ibu yang sedih dan ibu-ibu yang ceria. Ibu-ibu yang lincah dan ibu-ibu yang lamban. Beberapa ibu yang bahkan sama sekali tidak menyadari bahwa mereka adalah ibu.
Dan kemudian ada ibu-ibu yang tidak kita lihat. Ibu-ibu yang mengintip dari jeruji selokan, bersembunyi di balik tiang lampu, menatap keluar dari sisi lain cermin. Ibu-ibu di pepohonan dan di bawah kolong tempat tidur. Ibu-ibu di lemari dan laci meja, duduk di rak-rak di belakang buku-buku. Inilah ibu-ibu yang menempati tepian.
***
Rukmini bertemu dengan ibu-ibu setelah dia kehilangan bayinya. Sartono mengantar mereka pulang dengan Rukmini meringkuk di kursi penumpang, memeluk lutut ke dada.
Beberapa blok dari rumah, ada getaran di kaca spion, tetapi ketika Rukmini mengalihkan pandangannya untuk menangkapnya, getaran itu, seperti banyak hal lainnya, telah hilang.
Di rumah, Sartono menyiapkan tempat tidur untuknya di sofa ruang keluarga. Dia menuangkan Kratingdaeng ke dalam cangkir dan menambahkan sedotan bengkok, seolah-olah Rukmini berusia delapan tahun dan pulang dari rumah sakit karena flu.
“Terima kasih,” kata Rukmini, dan Sartono mencium keningnya. Sartono naik ke atas untuk menyiapkan makan malam.
Saat itu sore menjelang malam, dan melalui cahaya yang miring semuanya tampak hampa. Dinding yang terbuat dari multipleks, TV, lampu, meja ujung semuanya adalah potongan kertas. Rukmini mengulurkan tangan dan mendorong lampu dari meja.
Ketika banyak tangan terulur dan menangkapnya sebelum jatuh ke tanah, Rukmini melihat bahwa para ibu ada di sekelilingnya.
***
Sartono kembali masuk kantor, meninggalkan Rukmini di rumah tetapi tidak sendirian. Dia melihat para Ibu merayap, meluncur di bawah papan lantai dan di balik lukisan-lukisan di dinding. Melihat mereka membuatnya tertawa, dan mereka senang dengan tawanya.
Mereka menyelinap ke kamar bayi, dan Rukmini mengikutinya, masih tertawa. Salah satu ibu membungkus dirinya dengan selimut bayi kuning dan mengeluarkan suara-suara merengek dan menangis.
Rukmini mengangkatnya dan mengayunkannya maju mundur, maju mundur. Menatap ke bawah ke wajah ibunya yang keriput.
***
“Bagaimana kondisimu?” tanya Sartono pada suatu malam.
“Lebih baik,” kata Rukmini. Bibirnya pecah di sekitar huruf “b.” Sungguh misterius bagaimana dia berhasil membentuk kata-kata. Giginya mengatup dan terbuka, dan daging lidahnya tertekuk, terlipat di langit-langit mulutnya.
“Bagaimana menurutmu,” kata Sartono. “Apakah kamu tidak ingin segera kembali bekerja?”
Rukmini yang sedang menjelajahi bagian belakang gigi dengan lidahnya, tidak berkata apa-apa.
“Mungkin itu baik untukmu,” kata Sartono. “Kamu tahu, keluar dari rumah.”
“Mungkin,” kata Rukmini, “tetapi aku bersenang-senang di sini.”
***
Beberapa hari kemudian, para ibu mengajari Rukmini cara merangkak bersama mereka.
Triknya adalah membiarkan dirimu pergi, tenggelam di belakang dan di bawah, menyelinap melalui celah-celah ke tempat di mana ruang dan waktu tidak dapat menangkapmu.
Dan dengan ini, Rukmini menyadari pastilah begini bayi itu melakukannya.
***
Ketika Sartono sampai di rumah, Rukmini berada di dalam dinding.
“Rukmini?” panggil Sartono dan berjalan menuruni tangga.
“Rukmini?” panggilnya dan berjalan kembali ke atas.
Rukmini terkikik dari balik pegangan tangga, dan Sartono menoleh mendengar suara itu. Saat itu Rukmini sudah pergi, naik, naik, naik ke kamar mandi lantai dua, dan turun, turun, turun ke saluran pembuangan bak mandi berkaki cakar.
Para ibu berbisik padanya, menyemangatinya, terkekeh dan menggoyangkan cakar mereka. Sartono berjalan menyusuri lorong menuju kamar mandi, dan sekarang Rukmini ada di belakangnya. Rukmini berjalan mendekat. Nnapasnya menggerakkan kerah kemeja Sartono. Ujung jari Rukmini ingin sekali menyentuh. Dia melihat tonjolan tulang belakang Sartono, daging dan kulitnya, dan melihat betapa mudahnya semua itu jatuh dari tepian.
Sartono berbalik dan melihat Rukmini menunggu.
***
Rumah itu sunyi, dan Rukmini sedang beristirahat di langit-langit. Dengan mata terpejam, dia tidak dapat melihat siapa pun, dan tidak seorang pun dapat melihatnya.
Rukmini meregangkan tubuh. Dia menguap.
Para ibu bersenandung dengan nada mengantuk.
Di suatu tempat, ada bayi menangis.
Jawa Barat, 8 Mei 2025

