Gitarku teronggok di pojok sana, di atas dudukannya. Agak berdebu, jarang dimainkan. Gitar itu masih cantik, Guild enam senar yang kubeli saat kuliah. Harganya lebih mahal daripada yang aku mampu, tetapi prioritasku berbeda waktu itu.
Aku ingat ketika pertama kali membelinya di toko musik kecil yang funky di pusat kota Yogyakarta dan memainkan senar logam itu dengan pick.
Rasanya seperti cinta pada nada pertama.
Aku belajar otodidak bermain gitar Takamine tua usang yang kubeli dari seorang yang butuh uang dengan berlangganan majalah Top Chords, dan sebagai perbandingan, bunyi Guild yang hangat dan berat itu bagaikan paduan suara bidadari di telingaku. Untuk waktu yang lama setelah itu, gitar itu tak pernah jauh dariku.
Itulah masa-masa ketika orang-orang membawa gitar ke pesta, dan kami begadang sampai pagi, minum, merokok, memainkan semua lagu yang kami tahu dan mempelajari lagu-lagu baru. Dirimu menjadi sehebat apapun yang kau mau setelah minum beberapa gelas, dan tentu saja itu zaman ganja dan jamur ajaib murah meriah.
Wah, kami semua bagaikan bintang rock di benak kami di malam-malam panjang nan indah itu, dan Guild-ku bagaikan orkestra lengkap.
Saat perjalanan akhir pekan, Guild ikut menemani, aku bahkan membawanya keliling Nusantara di liburan semester antara tahun pertama dan kedua. Gitar itu membuatku punya teman di 19 provinsi yang berbeda. Meskipun aku tak mengerti bahasa lokal, aku selalu bisa menemukan lagu yang pernah didengar semua orang, dan tiba-tiba, semua orang menjadi sahabat.
Aku membawanya ke mana-mana dalam kotak hitam pekatnya, yang lama-kelamaan mulai dipenuhi stiker-stiker dari perjalananku dan mulai terlihat seperti diseret di belakang bus AKAP. Gitar itu sendiri juga memiliki beberapa bekas luka pertempuran. Kayu di bawah pickguard aus karena petikan yang terlalu bersemangat. Bagian belakangnya tergores oleh selusin gesper sabuk yang berbeda, dan lapisan di bagian belakang lehernya menipis karena jempolku yang bergeser ke atas dan ke bawah. Tapi suaranya selalu semanis saseperti pertama kali aku membelinya.
Aku telah mencoba entah berapa banyak set senar untuk gitar itu, selalu memilih yang perunggu karena aku menyukai nada-nada cerah di ujung nada tinggi.
Aku belajar menyetem dengan cukup baik, meskipun aku akui bahwa penyetem elektronik pertamaku terasa seperti keajaiban teknologi.
Tentu saja, hidup terus berjalan. Aku lulus, mendapatkan pekerjaan, dan akhirnya aku merasa agak sulit menemukan waktu untuk bermain. Awalnya, aku akan pergi ke bar-bar kecil dan coffeshop pada malam-malam open-mikedan, setelah minum beberapa gelas bir, berdiri dan bermain untuk orang banyak, biasanya sebagian besar terdiri dari teman-teman yang aku bujuk untuk ikut.
Singkat cerita, aku bertanya-tanya apakah aku benar-benar bisa mencari nafkah sebagai musisi, bahkan sempat berpikir untuk membentuk band. Tapi aku tak punya bakat menulis lagu, dan aku cukup realistis untuk tahu bahwa tak akan banyak nafkah bagi seseorang yang hanya memainkan lagu-lagu folk dan country rock lawas.
Maka selama bertahun-tahun, aku semakin jarang bermain, dan akhirnya gitar tetap di rumah, sebagian besar menjadi penghibur bagiku, menawarkan balada-balada lambat di malam-malam sepi ketika aku berpesta terlalu keras, memaafkanku atas cara jari-jariku yang mabuk menyelip dengan canggung di fret gitar.
Lalu, akhirnya aku bertemu gadis yang kelak menjadi istriku dan gitar kembali berjaya, membantuku membuatnya terkesan dengan kepekaan artistikku, membantuku memenangkan hatinya.
Namun momen itu tak bertahan lama.
Setelah menikah, hidup kami menjadi sibuk dengan tujuan bersama dan optimisme baru, dan gitar pun jarang dibutuhkan. Gitar itu dipajang di tempat terhormat di ruang keluarga, dan di sanalah dia berada saat ini.
Selama bertahun-tahun, aku jarang memainkannya, dan ketika aku memainkannya, aku tidak bisa memainkannya terlalu lama. Kapalan di ujung jariku hilang. Aku sepertinya tidak bisa mengganti kord dengan cepat, dan aku sudah lupa sebagian besar lagu yang dulu kuhafal dengan baik.
Namun, ada secercah harapan bagi teman musikku yang diterpa cuaca buruk, yang ku temukan baru-baru ini secara tidak sengaja. Aku mencoba mengalihkan perhatian putriku yang berusia lima tahun yang gelisah di suatu sore yang hujan. Ternyata dia suka mendengar Ayahnya bernyanyi.
Jadi sekali lagi Guild tua-ku mendapatkan teman dan memenangkan hati seorang gadis, dan aku rasa aku tidak perlu heran bahwa lagu kehidupan mereka masih dimainkan dengan sangat ciamik.
Planet Bekasi, 9 Juli 2025

