Aku membunuh seseorang hari ini.
Yah, bukan hari ini. Tapi “Aku membunuh seseorang kemarin sore dan aku baru saja dibebaskan dari penjara” kedengarannya tidak sedramatis itu. Mereka melepaskanku, jadi aku berjalan pulang. Tanpa jaket, tanpa sarung tangan, tanpa sepatu, dengan tangan dimasukkan ke dalam saku. Termometer di otakku memberi tahuku bahwa suhu di luar setidaknya minus satu juta derajat, dan ingin tahu mengapa aku tidak berada di dalam, di suatu tempat yang terasa hangat?
Tapi aku harus menggelindingkan batu besar, dan ini bukitku.
Memori otot mendorongku maju sambil menggerutu. Masuk ke serambi, menatap layar autentikasi suara yang tidak kooperatif. Layar itu tidak mau menerima kata sandiku. Agak baru, tapi belum pernah bermasalah sebelumnya. Setelah percobaan ketiga, aku menyadari layar itu tidak berfungsi karena “Maaf” bukan kata sandiku.
Masuk, dan aku duduk. Berdiri. Melangkah. Duduk lagi di kursi yang berbeda.
Menatap lampu di atas meja. Aku tak pantas mendapatkannya, tapi aku meracik minuman.
Sedetik. Menatap lagi. Mondar-mandir. Bagaimana mungkin aku melakukan ini? Ini tidak seperti perang. Hal-hal seperti ini terjadi.
Tidak. “Ini terjadi” berarti kecelakaan, sesuatu yang tak tercegah, sebuah “ups”. Tidak. Aku bahkan seharusnya tidak ada di sana kemarin. Aku tak perlu salah belok ke jalan kecil itu. Aku tak perlu melaju secepat itu, aku tidak terburu-buru. Aku tak perlu mengutak-atik iPod, mencoba mencari lagu yang bahkan tak kuingat sekarang.
Mendongak, dan membeku. Panik. Bereaksi. Memori ototku kembali.
Rem.
Rem menghentikanmu, tapi kenapa aku tak berhenti? Roda itu, kenapa tidak membuatku melaju lurus? Oh, benar. Basah, dan dingin, dan basah ditambah dingin sama dengan “oh sial”.
Lalu aku bergidik hebat. Aku bahkan tak melihat wajahnya.
Kaget, mungkin? Syok? Apa dia menyadari kehadiranku?
Karena aku sedang menatap ikat pinggangnya, dari semua benda. Celana khaki. Itu, dan tepat di bawahnya, adalah tempat bemper akan berada. Dan bemper ada di sana.
Merah di mana-mana. Ledakan warna di tiang lampu. Biologi yang rumit menyebar di mobil di sana. Kurasa aku berteriak.
Atau menjerit? Aku akhirnya berhenti sekitar satu meter setelah aku seharusnya tidak menabraknya. Aku duduk, tertegun, lalu membuka pintu dan melakukan tindakan heroik yang sia-sia. Pertolongan pertama yang kutahu tidak akan berhasil untuknya.
Tepat setelah aku mulai mendengar sirene, lampu padam. Tak perlu jadi pakar, aku tahu tahu dia sudah pergi. Dua ambulans, satu mobil polisi, satu truk tim tanggap khusus, semuanya datang satu demi satu, hanya saja agak terlambat. Lampu-lampu yang berkelap-kelip menerangi lingkungan seperti diskotek tahun seribu sembilan ratus sembilan puluhan. Aku iri dengan ban-ban mereka yang berpaku.
Kepahlawanan yang sia-sia. Pembalut listrik. Kantong setengah liter berisi cairan penting untuk kehidupan. Mereka melakukan apa yang sudah mereka pelajari, memuatnya semampu mereka, lalu pergi. Aku ditinggalkan sendirian bersama polisi yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan memalukan yang sudah kutanyakan pada diri sendiri: Apa yang aku lakukan? Ke mana aku pergi? Kenapa aku ada di sana?
Mobilkuhancur total. Sudah tua, jadi beratnya pasti hampir 200 kilogram. Rasanya seperti menabrak tempat sampah. Radiatornya ambruk. Kap mesinnya penyok. Kaca depan hilang. Atapnya remuk. Campuran air, es, dan isi perutnya yang mengilap melapisi semuanya. Aku tak bisa mengemudikannya lagi meskipun mereka bisa memperbaikinya. Akan cukup sulit untuk kembali ke kursi pengemudi. Mungkin kereta mulai sekarang.
Sebuah truk derek membawanya pergi, dan polisi membawaku pergi. Dengan tangan diborgol. Mereka tidak yakin apa yang harus dilakukan dalam situasi ini. Di bawa ke kantor polisi. Kepala polisi tahu formulir yang benar. Mereka akhirnya menyelesaikan dokumen mereka, dan karena keadaan, membebaskanku tanpa jaminan.
Hore.
Sekarang aku butuh pengacara. Aku tidak tahu apakah asuransiku akan menanggungnya. Apakah aku punya pertanggungan yang tepat. Suara monoton dari perusahaan robotika pemiliknya sudah menelepon, membicarakan tentang pencadangan dan hal lainnya.
Aku bilang aku tidak bisa bicara sekarang. Aku perlu berpikir.
Cikarang, 28 Agustus 2025

