Kini setelah kau mati, kami akan menulis surat cinta untukmu.
Itu ide Dakham. Dia khawatir, dalam kesepian kami, kami berdua akan menjadi seperti dua cermin sejajar yang saling memantulkan duka tanpa akhir. Kaulah yang kuat, katanya. Pusat gravitasi kita, begitu dia menyebutmu.
Aku tak setuju. Kaulah yang membuat kami kuat. Itulah sebabnya kami akan menulis surat untukmu. Mungkin surat itu akan membuat kami cukup kuat untuk menanggung kepergianmu.
Tentu saja, kami akan mengikuti semua tata cara yang berlaku. Meski kau tidak lahir di sini, kau mati di sini, dan kau berhak mendapatkan pemakaman yang layak.
Besok.
Malam ini aku akan mengaduk panci sup ayam, menumpulkan pikiranku dengan irama gerakan yang monoton. Mungkin setelah makan malam Dakham akan menciummu—mencari sedikit obat bius bagi rasa sakitnya. Mungkin kami bisa melampiaskan rasa perih ini sampai dia menghilang.
Besok kami akan memanggil para Peratap. Mereka akan mendapatkan satu malam untuk membersihkan komunitas dari emosi-emosi yang merepotkan, yang selalu menyelimuti kami setiap kali kematian datang. Mereka akan meratap hingga larut malam, memukul genderang-genderang berat, dan menyanyikan lagu-lagu muram untuk mengusir kesedihan.
Lagu-lagu itu akan terbang seperti burung, terus membubung ke atas, membawa bangkai kesedihan akibat ketiadaanmu menuju kehampaan.
Tak diragukan lagi, Dakham akan menangis di dadaku, dan aku akan memeluknya seperti yang dulu kau janjikan akan selalu kau lakukan. Tulang-tulangku akan merasakan tubuhnya gemetar bahkan lama setelah isaknya berhenti. Aku belum tahu apakah aku sudah memaafkanmu karena mengingkari janji itu.
Setelah Ritual Berkabung selesai, rombongan para Perawat Jenazah akan membawa tubuhmu ke Bengkel Penjilidan. Di sana mereka akan menguliti tubuhmu dengan pisau-pisau perak yang tajam.
Para Perawat Jenazah bekerja dengan sangat teliti. Kematian bukan sesuatu yang asing bagi mereka. Pisau-pisau mereka akan bergerak tanpa ragu, tenggelam dalam pekerjaan sehari-hari yang membosankan, seperti tangan seorang pekerja ahli yang telah melakukannya ribuan kali.
Mereka akan berhati-hati mempertahankan setiap kerutan—setiap noda, setiap ketidaksempurnaan—karena setiap tanda di kulit seseorang adalah satu lagi kepingan dari kisah hidupnya.
Kisahmu.
Kisah kita.
Di sana ada luka yang tak pernah benar-benar sembuh, bekas yang ditorehkan Binatang itu pada tubuhmu, yang kemudian dibunuh Dakham dalam amarah untuk melindungimu.
Di sana ada bekas luka yang sering kuusap lembut pada pagi-pagi yang tenang, yang kucium dan kusentuh dengan penuh gairah pada malam-malam ketika kita sama-sama gelisah.
Selama enam bulan, kulitmu akan dibersihkan dengan minyak dan salep-salep harum. Selama enam bulan pula, para Perawat Jenazah akan membangun benteng untuk melawan serangan waktu dan usia.
Bahkan ketika kami menua, ketika otot-otot lentur Dakham mulai mengendur, ketika pikiranku tak lagi setajam dulu, kau akan tetap segar seperti saat pertama kali Ahmaad menciummu di bawah pohon apel, ketika aku menertawakan pipimu yang memerah malu.
Tak pernah ada rona merah yang berhasil kupancing darimu yang semerona itu.
Tidak seperti rona malu yang kau berikan kepada Dakham.
Setelah para Perawat Jenazah menggosok dan membersihkan setiap bagian tubuhmu hingga tak tersisa sedikit pun kemungkinan pembusukan, seorang Pakar Penjilid akan memotong dan membentuk kulitmu yang telah diawetkan menjadi lembaran-lembaran rapi.
Sisa-sisanya akan dihanyutkan ke sungai, agar air pun dapat mengetahui bahwa kau telah pergi.
Aku tidak tahu harus mengatakan apa kepada keluargamu.
Surat-surat menumpuk di ruang kerjamu, lapisan-lapisan masa lalu yang lebih ingin kau biarkan m mbatu daripada menggali dan membukanya kembali.
Kau tidak pernah menceritakan tentangku kepada mereka. Tidak juga tentang Dakham.
Haruskah aku menggali rahasia-rahasia yang kau simpan untuk mereka, seperti penjarah makam dari museum asing yang sama sekali tak memahami kehendak orang mati yang dikuburkannya?
Seorang murid magang akan mengepang rambut terpanjang dari kepalamu menjadi benang. Sang Pakar Penjilid kemudian akan menjahitnya ke dalam halaman-halaman buku.
Dengan lem yang diperas dari tulang rawanmu, halaman-halaman itu akan dijilid menggunakan tulang dan uratmu. Rambut yang tersisa akan dianyam menjadi penanda halaman, lalu dijahit menyatu dengan sampulnya.
Dengan sopan santun garing seperti kertas kuno, Sang Juru Bicara Ingatan akan mengundang kami ke suatu sudut berdebu di Rumah Duka Agung. Di sana mereka akan mengorek setiap detail tentang hidupmu dari kami.
Para murid magang akan berkerumun seperti kumbang bangkai di atas mayat yang tergeletak di pinggir jalan, berusaha menghafalkan setiap kata yang keluar dari mulut kami sampai akhirnya kami tak menyisakan apa-apa lagi.
Apa yang akan kuceritakan?
Orang-orang bilang penderitaan membangunkan jiwa seorang seniman. Tapi aku justru kehilangan akal.
Haruskah aku bercerita panjang tentang malam pertama ketika kami mengajak Ahmaad tidur bersama di ranjang kecil kita—tentang caramu memeluknya erat karena takut dia jatuh, lalu bagaimana kami tertawa saat sarapan karena menyadari bahwa kita mungkin membutuhkan kamar tidur terpisah?
Akankah aku mampu menggambarkan dengan puisi yang cukup indah caramu menari-nari di ruang duduk mengikuti musik dari perayaan entah apa milik tetangga? Bagaimana kau berkali-kali salah langkah, lalu begitu bersungguh-sungguh ingin menciptakan koreografi yang sempurna hanya karena kelucuan saat itu?
Bisakah aku menjelaskan dengan kata-kata yang cukup indah tentang lehermu yang menegang ketika Dakham melengkungkan tubuhnya ke arahmu, gerakan bibirmu saat menulis di jurnal, atau tubuh telanjangmu yang meregang malas sembari menggerutu menuju ritual mandi pagi?
Aku takut Dakham akan kehilangan suaranya karena terlalu sering menceritakan tentangmu.
Seorang Pakar Bahasa akan menerjemahkan kata-kata kami ke dalam Bahasa Tak Terucapkan, menambahkan rima dan irama yang sebelumnya tidak ada.
Kemudian, di Ruang Tulisan, seorang Kaligrafer dan Illuminator akan bekerja bersama untuk menyelesaikan bukumu. Dengan tinta-tinta cemerlang dan lapisan emas, mereka akan menghiasi halaman-halaman kulit itu dengan warna, cahaya, dan gerakan.
Sejak dulu kau memang sebuah karya seni.
Namun sekarang, kau akan menjadi lebih dari itu.
Disimpan di Perpustakaan-Katakomba, kisah hidupmu akan terbuka bagi siapa saja yang ingin membacanya.
Kecuali…
Dakham tidak bisa membaca Bahasa Tak Terucapkan.
Seperti patung yang terbuat dari es, mahakarya besar tentang hidupmu akan tetap dingin, asing, dan sunyi baginya.
Itulah sebabnya kami akan menulis surat untukmu.
Setelah segala kemegahan dan upacara selesai, Dakham dan aku akan duduk di bawah bayang-bayang pohon apel itu, lalu bersama-sama menulis surat untukmu.
Tanpa kemegahan. Tanpa hiasan kata-kata.
Kami hanya akan mengatakan kepadamu bahwa kami mencintaimu.
Bahwa sampai sekarang pun, kami masih mencintaimu.
Aku berharap itu cukup bagi kami.
Cikarang, 26 Agustus 2026
