Ada seekor anjing di jalan. Seekor anjing jenis cocker spaniel, menurutku. Kepalanya gepeng dan jejak ban membentang di tengah punggungnya. Ketika aku dan Yurike pertama kali menikah, kami menyelamatkan seekor anjing jenis cocker spaniel dari tempat penampungan hewan liar. Itu adalah salah satu cara untuk “mendekatkan kita”.
Aku menghabiskan lima ratus ribu untuk anjing itu dan kemudian tiga ratus ribu lagi untuk mensterilkannya. Untuk berterima kasih kepadaku karena telah menyelamatkan hidupnya, dia kencing di karpet. Yurike selalu suka menyelamatkan apa saja. Dia adalah ratu dari hal-hal yang sia-sia.
Tanda pengenal anjing itu berwarna merah terang bertuliskan ‘Namaku Kitty – Milik Jenny’, dan nomor telepon yang berlumuran darah. Kaki belakang Kitty menunjuk ke selatan dan kaki depannya menunjuk ke utara. Dia menyeberang melawan cahaya matahari dan sekarang tubuhnya yang berbulu tampak seperti huruf S hitam dan putih. Ada seorang gelandangan berdiri di samping anjing itu, setumpuk koran di kakinya. Dia mirip Ucok Baba yang berjanggut, kurus dan kumuh, menjual surat kabar untuk membeli rokok dan tuak. Ucok Baba menangis tersedu-sedu. Dia menyesal tidak menghentikan Kitty padahal dia punya kesempatan.
Lihat layang-layang di atas sana, melalui jendela mobil polisi. Pasti ada selusin layang-layang, melesat menjauh dari lokasi kecelakaan. Salah satu berbentuk kepala leak, yang lain lengkung pelangi. Seekor kepik. Bola sepak, Dora the Explorer muncul di bagian belakang.
Dora yang malang. Anakku mencintainya. Dia menontonnya sebelum sekolah setiap pagi, bertahun-tahun sebelum hari ini ketika polisi mengunciku di belakang mobil bergaris biru dan putih untuk melihat lalat hinggap di anjing cocker spaniel yang mati.
Sekarang, anak itu tidak peduli dengan Dora. Aku harus menjemputnya sepulang sekolah. Dia latihan marching band pukul empat, latihan silat pukul enam. Hanya itu yang dipedulikan anak itu.
Festival layang-layang itu konyol. Hanya akan terbang mengikuti angin, tidak ada keterampilan. Di atas kepala, leak itu melaju di depan kepik. Dia pasti lebih aerodinamis. Atau mungkin itu keberuntungan.
Banyak hal terjadi karena keberuntungan. Seperti tidak menabrak anjing di persimpangan jalan.
***
Anakku harus lebih baik atau dia harus mengikuti les tambahan waktu liburan sekolah. Kami harus membatalkan acara liburan ke Bali. Darah menetes dari telinga anjing itu. Borgol ini membunuhku.
Waktu aku melewati persimpangan jalan, ada bayangan merah lalu bunyi tabrakan … sekali, dua kali. Satu… dua, tiga, seperti Count von Count di Sesame Street. Anakku juga menonton acara itu. Acara itu ditayangkan setelah Dora, ketika anak itu masih kecil.
Aku memberi tahu polisi bahwa sinar matahari menyilaukan mataku.
Tidak, Pak Polisi, saya tidak mabuk.
Sebuah ambulans meraung beberapa blok dari sini, datang ke sini.
Tidak perlu terburu-buru, aku tidak terluka.
Aku harap mereka tidak mengirim ambulans untukku. Atau Kitty.
Yurike masuk ke tempat parkir di seberang jalan dan keluar.
Apa yang dia lakukan di sini?
Sudah terlambat, Yurike. Anjingnya mati. Tidak bisa menyelamatkannya.
Yurike menyeberang melawan lampu merah dan berdiri di samping Ucok Baba. Satu lagi penyeberang jalan ilegal. Mengapa gelandangan itu tidak menghentikannya? Tidak ada yang mau membaca korannya yang jelek. Paling tidak yang bisa dia lakukan adalah menghentikan anjing dan orang yang menyeberang melawan lampu merah.
Bagaimana Yurike tahu aku di sini?
Mungkin aku yang menjadi berita. Dua hari dari sekarang, koran yang dijual Ucok baba akan menayangkan berita dengan tajuk “Seorang Pria Menggilas Anjing Hingga Tewas”. Seharusnya ‘hingga ditulis dengan huruf kecil.
Mengapa ada tiga kali suara tabrakan? Satu misteri lagi di hari yang kacau ini.
Di ujung jalan, sekelompok pria berkerumun di tengah jalan. Aku punya tenggat waktu di pagi hari. Presentasi untuk dewan komisaris.
Lalat mengerumuni kepala anjing yang mati itu, memakan genangan darah di sana.
Mengapa polisi tidak membiarkanku pergi? Salah satu dari mereka memberi isyarat kepada Yurike dan ucok baba untuk minggir. Dia mengambil beberapa foto Kitty, lalu menutupinya dengan terpal hitam.
Untuk mengusir lalat.
Anakku menangis tadi malam waktu aku bilang bahwa dia tidak mendapatkan uang saku. Mengapa dia harus mendapatkan uang dariku padahal nilainya jelek. Dia tidak pantas mendapatkan apa pun.
Yurike dan aku bertengkar setelah itu. Aku tidur di sofa ruang keluarga.
Mobil-mobil lewat, melaju pelan, ingin sekali menonton pertunjukan. Hei, lihat pria berjas itu. Dia mengenakan borgol karena membunuh seekor anjing. Kitty memakai tali kekang berwarna merah muda. Tali kekang berwarna merah muda dan kalung berwarna merah. Tali kekang itu cocok dengan tanda pengenal anjingnya. Panggil Jenny, katanya. Ambulans yang meraung-raung itu berbelok di ujung jalan, di seberang Kitty. Polisi itu membuka bagasinya dan memasukkan anjing kampung itu ke dalam, lengkap dengan terpal.
Kitty yang malang, dengan tanda pengenal anjingnya yang bertuliskan Panggil Jenny. Tidak perlu ambulans. Bolehkah aku pergi sekarang?
Yurike Patricia, Ucok Baba, polisi, dan semua orang yang suka melihat-lihat menatap orang-orang yang bekerja di sana, dekat tempat ambulans berhenti. Aku benci mereka semua.
Layang-layang itu sebagian besar sudah hilang. Mereka telah melayang pergi, kecuali Dora the Explorer.
Dia datang untuk menemui manajer proyek yang diborgol yang menabrak seekor anjing karena matahari menyinari matanya dan dia berhenti untuk minum minuman dalam kaleng seharga sepuluh ribu saat happy hour.
Atau mungkin angin bertiup ke arah yang salah.
Ambulans itu diparkir tujuh puluh meter—kurang lebih—dari persimpangan. Itulah yang akan dikatakan polisi di persidangan, empat bulan, dua hari, dan delapan belas jam dari sekarang, karena di sanalah jasadnya mendarat.
Jenny.
Orang tua gadis itu akan menangis, hakim akan mengetuk palunya, dan jaksa akan menunjukkan bahwa aku mengemudi terlalu kencang ketika aku menabrak gadis berusia dua belas tahun yang sedang menuntun anjing cocker spaniel-nya yang bernama Kitty menyeberang jalan.
Seorang polisi menutupi gadis itu dengan jaketnya, pengemudi ambulans mematikan lampunya, dan layang-layang terakhir lewat. Dora the Explorer melayang menghilang dari pandangan.
Dia meninggalkan tempat kejadian perkara.
Cikarang, 25 November 2024

