lalu kulihat dia di trotoar
tabrakan kilat
ciuman
di dalam bus
di lantai linoleum
dengan buku
kaki mengangkang rentang perhatian
pikiran terisi seperti balon helium
lorong. abstrak.
kaki berakar kata. absurd.
kepala karet penghapus. kuantum.
tanpa bayangan gelap. void.
lalu kulihat dia di halte bus.
seluruh tubuhnya gendang telinga
disapu pasukan oranye
tubuhnya beruang panda
fonograf tak berjarum
lubang tikus menyedihkan
di sini
dan di sini
asap tempuyung meledak
kusebut dia mengenalnya
dirinya yang penuh rahasia
ditutupi simpul tali temali
kami bicara sampai ingatan memerah
semua salah
di telepon
di pesawat terbang
jari-jariku muncul
jari-jarinya menggantung kering
di belakang kapal perang plastik
namun kakinya menyentuh tanah
tempat kotoran membuat daftar isi
yang tak berdaya dan yang diberkati
dia membersihkan riasan dari wajahnya-
untuk selamanya
kuajak dia
katanya, “Istirahatlah.”
Jawa Barat, 9 Mei 2025

