Ada hal-hal tidak dapat kamu pahami. Bahkan dengan setumpuk kertas buram dan sehelai data dari mesin ketik yang ramai berceloteh. Tidak sebelum waktu habis. Dan waktu itu seperti kemajuan—dia tidak akan berhenti untuk siapa pun.
Jawabannya ada di luar sana, dalam cuaca.
Cuaca buruk melahirkan perbuatan buruk. Sesuatu yang biasa dikatakan ibuku. Dia mengatakannya bahkan ketika aku masih kecil, sebelum aku terjun ke pekerjaan di bidang peramalan cuaca. Sebelum aku sebagai orang muda berkarier dan kemudian komputer baru muncul dan seluruh ilmu meteorologi lenyap dan meninggalkanku. Sebelum saya menjadi seorang pria tua dengan pensil dan peta.
Dulu, aku pikir ibuku bodoh. Aku pikir dia hanya mengada-ada ketika dia menggunakan pepatah seperti itu.
Tapi sekarang aku lebih mengerti. Pepatah-pepatah itu datang dari suatu tempat. Tempat lama yang terlupakan ketika waktu mengikis kata-kata dengan keras dan berkilau seperti uang logam baru. Ketika alu mengingatnya kembali, aku rasa ibuku lebih bijaksana dari yang aku duga.
Ibu memang seperti itu. Butuh waktu yang sangat lama sebelum aku bisa duduk di sini, di meja dapur, dan mengumpulkan peralatan dari pekerjaan lamaku. Membentangkan peta cuaca yang sudah usang dan meratakannya tanpa tanganku gemetar. Memberi pemberat pada sudut-sudutnya. Meruncingkan pensilku. Berusaha untuk tidak berteriak sampai petaku bersih dan halus, data cuaca mentah sudah terikat dan siap, dan teoriku tentang apa yang salah akhirnya dapat dituangkan dalam garis-garis pensil yang tajam dan bersih.
Pola cuaca. Pola kemarahan.
Ingatan tentang Penerbangan D9031 adalah luka yang menganga di benakku. Wajah seorang wanita yang membekas di otakku selama bertahun-tahun, seperti bekas luka yang menyakitkan. Detik sebelum dia meninggal, matanya terbuka lebar dan hitam. Bibirnya pecah-pecah karena radang dingin.
Ketika dia berbicara, aku bisa melihat mulutnya penuh dengan gigi yang ternoda. Dan meskipun sangat bising di dalam pesawat itu, kata-katanya menembus kekacauan dan terngiang di telingaku dengan jelas seperti dentang lonceng.
Pesawat itu mendarat dengan selamat. Badai itu dahsyat—lebih dahsyat dari yang dapat kamu bayangkan—tetapi kami semua berhasil melewatinya.
Semua, kecuali dia.
Dan yang aneh adalah, saat kami mendarat, tidak ada satu pun dari kami yang bisa mengenali penumpang lainnya. Suami dan istri, ibu dan anak, orang-orang yang tidak dikenal.
Roda pesawat menggigit tarmak dan kami berhenti dengan begitu banyak pertanyaan yang mengganjal di tenggorokan kami.
Tapi, seperti yang kukatakan, jawabannya ada di cuaca.
Di petaku, aku bisa memetakannya dengan jelas. Aku tidak butuh salah satu komputer terkutuk itu untuk tahu apa yang kulihat. Penerbangan D9031 menuju utara di atas Laut Arab. Lima ratus mil di sebelah timur Somalia. Tanduk Afrika yang berbonggol itu menjulur membabi buta ke dalam air.
Selama musim hujan, aliran angin Somalia datang menderu dari dataran tandus itu dan tumpah ke laut lepas. Dan pada hari itu, aku yakin angin membawa sesuatu yang mengerikan bersamanya.
Aku selalu duduk di kursi dekat jendela. Sebagai mantan ahli meteorologi dan kepala peramal cuaca untuk sekitar tiga puluh ribu orang di Willow County, duduk di atas sayap pesawat dan mengamati pola cuaca hampir menjadi keharusan bagku. Aku suka mengatakan bahwa naik pesawat adalah versiku dari ekspedisi lapangan seorang ahli biologi. Aku merasa damai di sana di antara formasi awan dan termoklin.
Aku dapat memperkirankan dan menganalisis perilaku setiap fenomena cuaca yang terjadi dari Ozarks hingga dataran tinggi Tibet, tetapi kuncinya adalah keluar sana dan melihatnya berkembang—mempelajari dari mana pola itu berasal, ke mana arahnya, dan mengapa.
Tentu, komputer mungkin dapat memprediksi hingga sentimeter di mana Jupiter akan berada dalam seribu tahun, tetapi aku tantang kamu untuk menunjukkan kepadaku manusia atau komputer yang dapat memahami sepenuhnya kompleksitas badai petir sederhana di langit pedesaan.
Cuaca adalah hal kuno dan tak terkendali. Cuaca membuat jiwaku takjub. Itu sudah terjadi sejak aku cukup dewasa untuk menyipitkan mata saat matahari terbenam.
Dan badai ini … percayalah, badai ini luar biasa. Armada awan kumulonimbus yang menjulang tinggi menerjang lautan dalam formasi pertempuran. Memar dan berdenyut, diselingi sambaran petir seperti kerikil menembus pualam.
Ini adalah konfigurasi klasik—barisan awan kumulus yang bergulung diikuti oleh tiang menara utama, berbentuk seperti landasan, datang ke arah kami, rendah dan cepat di atas air yang gelap, datar di dasar tetapi menjulang setinggi sepuluh ribu kaki. Laut di sana pasti panas dan ganas. Memuntahkan energi mekanis mentah ke udara, menyalakan benda yang menjulang di atas.
Satu menit matahari bersinar terang dan bulat seperti kelereng mata kucing dan menit berikutnya dia berkedip di balik binatang buas itu.
Kami semua terlempar ke senjakala.
Aku tidak tahu bagaimana menggambarkannya, tetapi suasana hati menjadi gelap. Gemuruh mesin terdengar turun satu oktaf, mengeluarkan suara serak. Aku bisa merasakan getarannya melonjak melalui dinding pesawat, menekan lantai di bawah kakiku. Seperti suara yang terperangkap di sudut-sudut, mencoba membisikkan rahasia kepadaku dalam bahasa yang sudah mati.
Ada seorang wanita tua yang sangat baik duduk di seberang lorong. Seorang wanita berambut abu-abu dengan kacamata baca tebal dan salah satu syal tipis di lehernya. Dia sedang merajut dengan jarum panjang dan aku membayangkan bagaimana rasanya merenggut jarumnya. Untuk menusukkan jari-jariku ke sanggul rambutnya yang mulai memutih, menusukkan jarum tumpul ke bawah kacamata bacanya. Di atas pipinya dan di bawah kelopak matanya yang kendur. Memeluk kepalanya erat-erat saat dia berjuang dalam pelukanku.
Wanita itu melirik ke arahku seolah dia bisa membaca pikiranku. Aku berpaling, tercengang oleh pikiran jahatku—tetapi tidak sebelum aku melihatnya. Hanya sekejap, tetapi tidak salah lagi. Dia tidak memiliki ekspresi di wajahnya, hanya tatapan kosong di matanya yang setengah tertutup. Tetapi ada geraman tiba-tiba di bibirnya, di sana dan hilang. Aku mengerti, saat itu. Wanita tua yang baik itu sedang memikirkan pikiran jahat. Sama sepertiku.
Dan kemudian kami berada di dalam badai.
Armada itu telah bangkit dari bawah dan melahap kantong udara kecil kami yang terbungkus logam. Hujan es berkecepatan suara menghantam pesawat. Seolah-olah badai itu mencoba menguliti kami, mencoba membuka setiap jahitan dan memenggal setiap baut untuk merenggut manusia di dalamnya.
Dengungan mesin kembali terdengar, dan aku tidak yakin bagaimana mengatakannya, tetapi suasana senja yang aneh itu terasa sangat berat. Seperti menyelam terlalu dalam, tekanan menghancurkan sinusmu dari setiap sudut secara bersamaan.
Beberapa orang menjerit.
Pria di belakangku mulai bergumam sendiri. Kata-kata aneh tentang air hijau dan cabang-cabang serta gerbang kematian. Saat itu juga, aku mendapatkan gambaran di kepalaku tentang dia dengan tenggorokannya yang teriris. Kepala miring ke samping, lidah menegang saat dia mencoba menelan udara bertekanan.
Sambil mengedipkan mata, aku mencoba menyingkirkan penglihatan itu dari otakku. Namun, kegelapan badai telah menyelimuti.
Pria di belakangku mengeluarkan suara mencicit aneh, dan aku membuat keputusan yang buruk.
Aku berbalik dan mengintip dari antara kursi. Di celah kecil itu, aku menemukan pria gemuk yang tampak tak asing. Dia bersandar di kursinya, tidak nyaman, mengenakan penyangga kaki dan topi Panama. Kemeja biru, celana putih. Pria itu memegang pena perak di salah satu tangannya yang gemuk. Dan ujung pena itu, dia menjepitnya di bawah kuku jari telunjuknya, kuku jarinya yang patah miring ke atas dan retak seperti kapal yang mendorong lapisan es. Darah berdenyut keluar dalam bentuk semburan merah, memercik ke celananya.
Pria itu tersenyum di wajahnya yang berkeringat, seperti labu yang lilinnya padam. Matanya besar, kosong, dan gelap.
Dan cekikikan. Suara mencicit yang pernah kudengar sebelumnya. Cekikikan terkutuk.
Aku terkejut ketika pramugari berhenti di lorong di sebelahku. Hampir saja aku melompat keluar dari kulitku saat dia mencengkeram bahuku dengan jarinya. Aku menatap ke arah kursi seperti anak berusia tiga tahun yang tidak mau duduk diam. Kurasa aku malu.
Aku memasang senyum sopan otomatis dan menatapnya. Senyumku memudar dengan cepat.
Matanya.
Rantai emas tipis tergantung di dadanya yang berbintik-bintik. Dan matanya berkilauan sama seperti logam kusam itu—hanya saja, tidak ada kehidupan di dalamnya. Hanya pantulan mekanis mati dari kilatan petir di kegelapan. Aku mencoba berbicara, tetapi suaraku tercekat di tenggorokan dan yang bisa kulakukan hanyalah mengatupkan mulutku. Kurasa, entah bagaimana, dia tahu apa yang akan terjadi.
Dia melihat.
Sampai hari ini aku masih ingat pramugari itu dengan sangat baik, yang aneh karena aku hanya melihatnya sekilas. Seorang wanita kurus dengan seragam biru poliester yang terlalu ketat. Stoking hitam berasap. Sepatu biru kecil dengan gesper emas.
Mulutnya terbuka untuk menanyakan sesuatu padaku. Atau mungkin untuk memberi tahu sesuatu.
Namun, pesawat itu terbuka sebelum dia sempat berbicara.
Aku ingat rambutnya bergetar, seperti gelombang listrik statis yang mengalir. Kemudian langit-langit putih pucat itu tampak cekung. Raksasa itu mengetuk keras di luar sana. Meminta untuk diizinkan masuk dan tidak mau ditolak. Lalu, langit yang mengamuk terbuka di belakang kepalanya.
Kebanyakan orang tidak menyadari betapa padatnya atmosfer kita sebenarnya. Sejujurnya, di permukaan laut, orang-orang seperti ikan yang berenang di bawah air. Lambaikan tanganmu dan kamu dapat merasakan nitrogen dan oksigen memantul. Namun, di ketinggian tiga puluh ribu kaki, kondisinya sangat berbeda.
Troposfer atas adalah tempat di mana atmosfernya seperempat daripada di permukaan. Kamu tidak dapat menemukan dua molekul oksigen untuk saling bergesekan demi menyelamatkan hidupmu. Udara tipis, sitilahnya.
Itu wilayah kekuasaan badai, bukan manusia.
Saat atapnya terbuka, pesawat mengerang seperti gajah jantan setelah ditembak tembus di paru-paru. Sebagian besar penumpang mulai berteriak saat itu, tetapi tidak semuanya.
Beberapa orang mulai tertawa, Tuhan tolong kami. Sementara aku, aku terdiam, masih menatap wajah pramugari saat kabin mengalami penurunan tekanan. Badai Afrika yang dahsyat yang telah menerjang jauh di seberang lautan untuk menyambut kami akhirnya tiba dan masuk ke dalam pesawat untuk berkeliaran di antara kami.
Kami semua akhirnya berkumpul.
Pramugari itu tersentak ke udara seperti boneka di atas kawat baja. Lubang itu menganga di belakangnya, mulut yang lapar. Namun, dalam sekejap, dia berhasil menguasai diri. Lengan dan kakinya melesat keluar dengan kekuatan yang luar biasa. Koran, majalah, dan sampah melesat melewatinya dan keluar ke ngarai dinding angin yang mengamuk.
Matanya tidak pernah lepas dari mataku, bahkan saat matanya dipenuhi darah.
Saat itu juga, pramugari itu berbicara kepadaku. Kepalanya hampir keluar dari pesawat dan embun beku telah membentuk koreng di hidung dan pipinya.
Dia bertengger di atasku dengan urat-urat yang mencuat dari lehernya, lengan terentang seperti laba-laba, jari-jarinya yang berdarah mencengkeram logam bergerigi. Bibirnya bergerak membentuk senyum yang dipaksakan, dan entah bagaimana, tetapi kata-katanya sampai ke telingaku.
“Planet-planet hitam berputar,” begitulah yang dia katakan padaku.
Saat itulah aku melihat mulutnya penuh dengan gigi-gigi yang bernoda. Dan meskipun itu perasaan yang samar, aku mendapat gambaran bahwa ada lebih banyak deretan gigi di mulutnya daripada yang seharusnya. Dia berkedip sekali. Retina matanya berdarah dan aku membayangkan hiu yang sudah punah. Dan saat dia tersenyum padaku seperti hantu kematian, aku bertanya-tanya tentang kekuatannya untuk menahan diri agar tidak terlempar dari pesawat. Aku heran bagaimana kata-katanya yang aneh entah bagaimana telah menembus badai dan muncul di kepalaku.
Dan karena aku orang yang jujur, di sini, aku akan memberitahumu sesuatu yang lain: Aku senang ketika pramugari kehilangan pegangannya dan fisika yang kasar dan jahat melipat tubuh kurusnya menjadi dua dan dia menghilang melalui lubang yang compang-camping itu.
Senang.
Karena ketika dia terbang menjauh, aku merasakan kegelapan pergi bersamanya—ke luar ke jantung badai.
Di sini, di rumah kecil saya di Oklahoma, aku membiarkan jendela terbuka. Aku selalu senang membiarkan cuaca masuk. Aku suka membentangkan keset selamat datang, untuk berbicara, membiarkan dia masuk untuk menyapa dan berkunjung sebentar.
Cuaca ada di sekitarku saat aku duduk di dapur, memetakan front dan zona tekanan pada peta cuaca usang. Bahkan sekarang, aku dapat menghirup aroma angin yang dicium hujan saat bertiup dari Great Plains.
Tirai jendela tertiup angin dan aku membayangkan mereka melambaikan tangan untuk menyapa dan mengucapkan selamat tinggal.
Aku selalu suka cuaca. Meteorologi berubah ketika komputer datang dan dan meninggalkanku di belakang. Tetapi cuaca itu sendiri selalu bersamaku. Kamu mengambil data dan memplotnya, lalu memplotnya lagi sendiri, paham? Tekanan naik dan turun. Front maju dan mundur. Dan seiring berjalannya waktu, polanya meresap ke dalam pikiranmu. Kamu merasakan bagaimana fitur tertentu berevolusi seiring waktu. Dari mana cuaca berasal. Ke mana arahnya selanjutnya, dan mengapa.
Di dapurku, terkadang aku memikirkan badai itu.
Makhluk yang menyelimuti pesawat kami hari itu membawa semacam racun, menurutku. Itulah sebabnya aku melacaknya ke tempat kelahirannya. Di sepanjang tulang punggung Somalia, tempat dinding angin panas dan lembap bertabrakan dengan front dingin yang jatuh dengan keras dan cepat.
Dengan setumpuk data dan serutan pensil serta penghapus yang pecah-pecah, aku mengikuti badai sialan itu sampai ke tempat terbentuknya. Dan di sanalah aku menemukan jawabannya.
Dalam cuaca.
Secara teknis, itu ada di buku sejarah yang terbuka di meja saya.
Genosida.
Badaiku muncul dari dataran rendah di tanduk Afrika. Mereka mengatakan ladang-ladang di sana berlumuran darah suku-suku yang dibantai. Wanita dan anak-anak dibantai hingga hancur luluh. Lebih dari empat ribu orang saling mencabik-cabik dalam kegilaan, pada hari badaiku lahir. Mimpi buruk rudapaksa dan pembantaian yang berlangsung hingga tidak ada seorang pun yang tersisa untuk menceritakannya. Tidak setetes pun penderitaan yang tersisa.
Apakah badai yang menyebabkannya? Atau apakah peristiwa itu yang menyebabkan badai?
Astaga! Aku tidak tahu. Diperlukan peramal yang lebih baik dariku untuk menjawab pertanyaan itu. Mungkin beberapa anak muda berkacamata akan duduk di depan komputer mewah dan mencari tahu suatu hari nanti.
Tetapi cuaca buruk melahirkan perbuatan buruk.
Ibuku mengatakannya selama bertahun-tahun, dan aku mengabaikannya. Tetapi dia benar selama ini. Masing-masing kita adalah bagian dari angin sepoi-sepoi, hujan, dan sinar matahari. Cuaca selalu bersama kita, mengintai dengan tenang di latar belakang kehidupan kita. Dia adalah hujan badai yang menyiksa saat kamu mengganti ban yang bocor. Hembusan angin yang manis di lehermu saat kamu mencium seorang gadis di belakang kantin sekolah.
Dan cuaca adalah hal-hal lain yang lebih gelap.
CIkarang, 26 September 2024


Kayak film tentang pesawat hantu
Keren, Om👍🏻😄