“Tapi bagaimana aku harus memilih, Eyang?”
“Kamu akan tahu.”
Pria tua itu meletakkan tangannya di bahu cucunya.
Dia sudah dewasa sekarang. Sudah besar.
“Tapi aku tidak tahu, Eyang. Aku tidak tahu.”
Gadis itu diam dalam kesedihannya, tetapi itu justru menghantam keras tubuh ringkih pria tua yang bungkuk seperti angin kencang. Bahunya bergetar saat cucunya membenamkan kepalanya di tangan berkulit keriput.
Pria tua itu memperhatikannya dan air mata mengaburkan pandangannya.
“Semuanya akan baik-baik saja, Sayang,” katanya. Dia bersungguh-sungguh tetapi dia tidak merasakannya lebih dari gadis itu.
Tika mengusap air mata di pipinya dengan telapak tangan itu.
“Dia bilang aku harus memilih,” katanya sambil menatap eyangnya. “Kanada atau dia. Tuhan tahu aku sudah mencoba. Tetapi aku tidak bisa. Aku tidak tahu harus berbuat apa.”
Tika menggelengkan kepalanya dan melihat ke arah laut. Langit dipenuhi dengan awan kelabu tanpa kata.
“Bagaimana aku tahu apa yang benar, Eyang?” tanyanya.
Pria tua itu juga melihat ke arah laut. Seberkas langit biru tampak muncul di cakrawala.
“Tidak ada yang benar, Tika. Itu hal yang tersulit. Yang ada hanyalah apa yang kamu lakukan dan ke mana kamu akan dibawa. Dan itu adalah pertaruhan, dari sudut pandang mana pun.”
Pria tua itu menatap cucunya lagi. Tangannya masih berada di bahunya, dan dia bisa merasakan ketenangan kembali di pipinya yang memerah.
Mereka duduk tanpa bicara.
“Kurasa cuacanya cerah,” akhirnya Tika berkata, melepas isak terakhir.
Pria tua itu mengangguk.
Tangerang Selatan, 28 September 2024

