Kisah Terakhir
dok. pri. Ikhwanul Halim

Kamu mengusap mata dengan punggung telapak tangan, dan memaksa dirimu untuk kembali berdiri.

Jalan setapak membawamu pada tikungan menurun  dan berkelok-kelok hingga ke pintu sebuah rumah makan sekaligus penginapan. Cerita Hari Ini, tertulis di atas pintu. Kamu tersenyum dan masuk.

Di dalam, terasa kehangatan menguar di udara, aroma makanan yang lezat, dan sekelompok orang menyanyikan lagu-lagu yang sumbang dan lirik yang tak senonoh.

Kamu bergabung dengan mudah ke dalam komunitas kecil itu, dan merasa segar kembali setelah menikmati makanan dan minum-minum.

Akhirnya, kamu menyadari suara nyanyian telah berhenti, digantikan dengan keheningan yang menenangkan.

Ada sekelompok orang yang berkumpul di sekitar api unggun, bercerita. Awalnya, kamu hanya mendengarkan, tetapi kemudian kamu diminta untuk menceritakan kisahmu sendiri. Kisah, bukan uang emas atau perak, yang akan membayar tempat tinggalmu untuk malam itu.

Apakah kamu akan bercerita?

Kalau ya, buka halaman 47. Kalau tidak, buka halaman 62.