Berkelindan
dok. pri. Ikhwanul Halim

Berkelindan

Views: 52

Saat itu akhir Agustus, dan umurku masih kurang sebulan untuk bersekolah. Aku ingat berjalan dengan ibuku di jalan setapak di lereng bukit dekat rumah kami di Baleh, di seberang garis pantai Barat Sumatra. Kami sedang dalam perjalanan untuk minum kopi bersama kakak perempuan tertuanya, Nyakwa Saudah tersayang. Ibu mengenakan hijab bermotif kotak-kotak yang dililitkan erat di atas rambut ikalnya, diikat dengan simpul kecil di bawah dagunya. Tepi hijab yang runcing berkibar dan berkibar tertiup angin Samudra Hindia yang kencang. Hembusan angin menyapu sisi abaya katunnya, dan dia menatapku dengan mata hijau kebiruannya yang berbinar, melemparkan seringai nakal dan memperingatkanku untuk tidak mengintip dalamannya.

“Ini sama sekali bukan pakaian terbaikku di hari Minggu. Dan, Nona Mona, itu urusanmu dan aku,” katanya, mengedipkan mata dan menggoyangkan jarinya dengan jenaka ke arahku.

Selalu ceria, selalu membuat orang-orang di sekitarnya tertawa, dan selalu membuat dirinya “berguna.”

Ketika dia meninabobokanku di malam hari, dan menceritakan dongeng sebelum tidur, aku merasa seperti anak paling beruntung di Baleh. Dia menarik imajinasiku keluar dengan ceritanya tentang dua anak laki-laki seusiaku yang bisa menahan napas, berenang ke dasar laut, dan tentang pertempuran mereka dengan makhluk laut mistis yang hidup di bawah dasar laut. Dia membuatku ingin lebih.

“Satu lagi,” aku memohon, bahkan saat dia menciumku selamat malam.

“Kita harus bersabar dan menunggu satu hari lagi untuk mendengar apa yang akan dihadapi kedua ikan tongkol kita selanjutnya.” Dia mengambil lentera minyak tanah, menempelkan jari di bibirnya, dan berjingkat-jingkat keluar dari kamarku, bayangannya mengikutinya melalui pintu.

Ibunya meninggal saat melahirkan. Aku takut waktu bersama kami juga akan singkat. Karena pada awal tahun 1900-an, bantuan medis sepanjang tahun tidak tersedia di komunitas terpencil di gampong kami dan para wanita merawat sebisa mungkin dengan obat-obatan herbal kampung. Pada akhir musim kemarau dan awal musim hujan, sebuah kapal rumah sakit, yang diawaki oleh dua perawat dan dua dokter, akan singgah di desa-desa kami, yang hanya dapat dijangkau dengan perahu. Bukan hal yang aneh bagi para ibu untuk meninggal saat melahirkan, dan bagi anak-anak untuk meninggal tanpa penjelasan, setelah menderita demam tinggi selama berhari-hari dan bermalam-malam.

Meningitis, begitulah para wanita menyebutnya.

“Alhamdulillah, si kecil yang malang itu tidak akan menderita lagi,” gumam mereka.

Ibu tahu bahwa banyak kematian dapat dicegah dengan akses ke bantuan medis yang cepat. Dokter telah memberi tahu orang tuaku tentang hal ini ketika dia mencabut gigi Ayah yang terinfeksi dengan menyakitkan pada musim semi lalu.

Malam itu dingin, tepat setelah makan malam. Ibu membantu Ayah melepaskan dan memperbaiki jaringnya, seperti yang sering dilakukannya. Ibu memiliki tangan yang kuat dan lincah dan dia menikmati tantangan untuk melepaskan simpul yang sulit dilepaskan. Mereka berdua bercanda, tawa riang Ayah bergema mengalahkan debur ombak lautan yang bergolak.

Setelah jala diperbaiki, mereka sering kembali dari garis pantai ke rumah kami, bergandengan tangan. Setiap suami istri di desa kami iri dengan cinta orang tuaku satu sama lain. Namun, malam ini, ketika Ibu meraih bola tali kasar yang basah dan kusut, kail ikan yang besar dan kotor tiba-tiba menusuk daging telapak tangannya. Darah menetes di celemeknya dan turun ke angka-angka yang tercetak di haluan perah. Dia tersentak kaget dan jatuh berlutut. Ayah bergegas ke sisinya. Tangannya masih menempel di bola yang kusut itu.

“Mona!” teriak Ayah. “Ambil tang pemotong di gudang! Cepat!”

Aku membawanya secepat yang aku bisa. Aku bisa melihat Ibu berbaring lemas di samping perahu, mencoba untuk duduk tegak agar lengannya tidak kaku. Ayah melepaskan mantelnya dan melilitkannya di sekeliling tubuh Ibu, lalu berjongkok di sampingnya dan menggendongnya.

“Bertahanlah, Besbah!” ulangnya. Warna rambut Ibu yang cerah tampak memudar. Di sepanjang garis rambut Ibu, rambut ikalnya yang merah kecokelatan menjadi basah dan kusut.

Ayah melepaskan ikatan jilbabnya dan dengan lembut menyeka keringat dari pipi dan dahi Ibu, sambil menggendongnya.

“Mona, bantu Ayah menarik jaring dari lambung perahu. Ayah akan membaringkan Ibu supaya bisa memotong kailnya.”

Aku menarik sekuat tenaga untuk mengangkat jaring yang cukup berat dari perahu agar Ayah bisa membaringkan Ibu. Ibu mencoba dengan sia-sia untuk duduk lagi tetapi langsung terjatuh. Bulu matanya yang lentik bergoyang-goyang saat matanya berkedip-kedip kebingungan. Rahangnya yang terpahat menegang karena kesakitan. Wajah Ibu sangat cantik dan sedih, pikirku.

Sambil meringis kesakitan, dia memaksakan senyum kepadaku.

Mengetahui apa yang harus Ayah lakukan untuk melepaskan kail berduri yang berkarat itu, aku berbalik dan memejamkan mata hingga cobaan itu berakhir.

Dengan bantuan Nyakwa Saudah dan para perempuan desa, kami membersihkan luka Ibu sebaik mungkin. Meskipun kami sudah berusaha, lukanya tetap bengkak dan terinfeksi. Aku dan Ayah tidur di sisinya setiap malam. Aku mencoba menghiburnya dengan menceritakan kisahku sendiri tentang kedua anak laki-laki itu.

Kami semua berharap Ibu bisa bertahan sampai jadwal kapal rumah sakit berikutnya, tetapi dia pergi meninggal kami pada malam kesembilan belas. Ketika aku melihat butiran keringat menetes di dahinya, tangannya lemas di tanganku, dan dia menghilang dari genggamanku.

Ayah menyalahkan dirinya sendiri atas kematiannya. Tidak ada yang bisa meyakinkannya sebaliknya.

Aku sudah lebih dewasa sekarang, melihat ke arah pantai dari dapur. Aku membuka sebotol selai nanas dan suara tawa riang ibuku memenuhi udara. Aku merasakan kehadirannya. Dia mengenakan celemek putih, dengan cekatan mengupas semangkuk besar kacang tanah. Perlahan, dia bangkit dari meja.

Hembusan angin mengayunkan pintu belakang terbuka lebar dan menyapu abayanya. Dia menoleh padaku saat dia melewati ambang pintu, menggoyangkan jarinya dan mengedipkan mata padaku. Kali ini, dia mengenakan dalaman terbaiknya untuk hari Minggu.

Cikarang, 5 Oktober 2024

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *