Label lengket yang telah terkelupas dari kaset video hanya menyisakan potongan-potongan kertas putih kotor yang tipis dan compang-camping. Aku mengamati noda-noda di kertas, mencoba mencari tahu apa yang pernah ditulis di sana, tetapi tidak dapat memahami garis-garis samar yang tersisa.
Angin bertiup kencang mendera dinding, menekan bagian luar rumah. Jendela berderit, kaca bergeser di bingkai-bingkai kusen lapuk. Aku melirik ke luar, melintasi puncak-puncak pohon yang bergerigi di taman seberang ke arah hamparan kota yang terang benderang.
“Ini salinan generasi ketiga,” pria di pub itu berjanji kepadaku. “Salah satu film pendek terakhir Bunyamin, dibuat sebelum dia meninggal.”
Aku meraba-raba gulungan-gulungan itu, memutar salah satunya dengan ibu jariku yang terjepit di celah. Plastik itu berderit. Pita yang terbungkus dalam kotak ramping itu berdesis saat melilit roda-roda bagian dalamnya.
“Tidak ada judulnya, sejauh yang bisa kutemukan. Itu hanya cuplikan pertunjukan pendek, yang dimaksudkan sebagai trailer untuk menarik sponsor bagi proyek yang lebih panjang yang ingin disutradarainya.”
Wajah pria itu dipenuhi bekas jerawat. Tangannya yang besar dan persegi menelan gelas bir yang kubawakan dari bar.
Aku tidak tahu nama pria itu, tetapi kami diperkenalkan oleh seorang bajingan kelas teri bernama Bulbul Effendi, seorang teman dan sesama penggemar sinema. Bulbul dan aku sama-sama menyukai film horor yang tidak dikenal, dan Bunyamin Jaya adalah salah satu dari sedikit sutradara yang kami kagumi—meskipun kekagumanku sendiri terhadap sutradara yang aneh itu jauh lebih besar daripada kekaguman Bulbul.
Bagi yang belum tahu, Bunyamin telah membuat beberapa film pada tahun 1980-an, tewas dibunuh di Karawang, bahkan sebelum sempat membuat namanya dikenal lewat karya-karya pendeknya.
Setelah kematian sutradara pemberontak itu, terjadi gelombang kecil peminat karya-karyanya. Beberapa bioskop komunitas independen menayangkan musim-musim retrospektif, sebuah dokumenter didanai oleh Dinas Kebudayaan tetapi tidak pernah ditayangkan karena alasan hukum yang tidak disebutkan, dan berbagai majalah film memuat fitur satu halaman tentang gaya hidupnya yang dekaden alih-alih film-film yang ditinggalkannya.
Tidak ada yang menarik minatku sama sekali. Aku hanya ingin menonton film-filmnya. Tidak ada yang benar-benar hebat dalam pengertian konvensional, tetapi setidaknya secara teknis film-film itu bagus.
Favoritku adalah Kembang untuk Makam Bunga, yang didasarkan pada novel seorang penulis horor kelas kakap (yang juga sudah meninggal), tetapi film itu pun kekurangan anggaran dan ketidakmampuan sutradara untuk membuat penampilan yang layak dari siapa pun kecuali bintangnya yang seksi dan terkadang jadi kekasihnya, Luna Vaniya yang terkenal kejam.
Ketertarikanku pada film-film tersebut terutama disebabkan oleh fakta bahwa mendiang ayahku pernah muncul sebagai figuran dalam salah satu film pendek awal -awal karier Bunyamin, dan setelah aku menemukan salinannya saat memilah-milah informasi tentang dirinya setelah kematiannya, aku jadi tertarik dengan film-film yang agak murahan dan kontroversial yang kemudian dibuat oleh Bunyamin.
Rekaman yang diberikan kepadaku oleh lelaki di bar itu diduga merupakan salah satu dari sedikit salinan yang beredar dari rangkaian adegan berdurasi sepuluh menit. Film-film yang dibuat Bunyamin beberapa minggu sebelum dia dibunuh oleh seorang gelandangan yang menggumamkan pembalasan dendam yang tidak jelas.
Aku telah membaca tentang rumor tentang keberadaan film tersebut, tetapi telah kehilangan harapan untuk benar-benar menontonnya sampai suatu malam Bulbul Effendi meneleponku, dalam keadaan mabuk dan terengah-engah, memberitahuku bahwa dia telah berhasil melacak salinannya.
Percakapan itu kaku. Bulbul jelas sedang mabuk, dan dilihat dari kebisingan di latar belakang, dia menelepon dari sebuah pesta atau tempat yang sedang berlangsung huru hara. Bulbul adalah lelaki aneh dan sering kali berbahaya, tetapi untuk beberapa alasan hubungan kami bertahan selama beberapa tahun. Aku menikmati gaya hidup subkulturalnya yang berisiko. Dia suka bergaul dengan seorang kutu buku, hanya untuk memberinya apa yang selalu disebutnya “paradigma baru”.
Aku berjongkok di depan pemutar VHS lama yang kusambungkan ke televisi di kamar tidurku. Sudah kebih dari setahun aku menggunakan benda itu, dan bahkan tidak yakin apakah masih berfungsi dengan baik. Hampir semua film yang ada tersedia dalam bentuk streaming online akhir-akhir ini, yang bisa diunduh dan dikonversi dari Internet.
Saat menekan tombol on/off, aku mengalami momen panik yang singkat dan anehnya menyenangkan ketika tidak terjadi apa-apa … tetapi kemudian lampu hijau menyala dan aku menekan tombol eject. Rak kaset bergetar keluar dari bagian depan mesin, dan aku menyelipkan kaset itu.
“Oke, Bunyamin. Kita lihat apa yang kamu punya.”
Aku pindah ke kursi berlengan di tengah ruangan, membuka kaleng minuman soda yang kuambil dari kulkas, dan duduk di depan layar yang penuh dengan suara statis yang mengganggu. Sambil mengangkat remote control, aku menekan tombol play, dan menunggu untuk kecewa.
Aku tidak begitu siap untuk percaya bahwa ini benar-benar seperti yang diklaim oleh lelaki di bar itu. Tidak untuk jumlah yang relatif sedikit yaitu lima ratus ribu dan beberapa pint bir lokal yang pahit. Kalau ini adalah barang asli, harganya akan beberapa kali lipat dari jumlah itu di Internet, dijual kepada seorang kolektor pribadi. Namun lelaki itu bersikeras bahwa dia tidak melakukannya demi uang.Dia ingin rekaman itu diberikan kepada seseorang yang akan menghargainya, dan tampaknya Bulbul Effendi telah menjamin bahwa aku ada dalam kapasitas itu.
Suara statis mulai menghilang. Aku menyipitkan mata di ruangan yang remang-remang dan berusaha keras untuk melihat gambar. Setelah beberapa saat, sebuah pemandangan muncul di layar.
Seorang pria muda berjanggut duduk di kursi berlengan di tengah ruangan yang kumuh. Ada televisi di hadapannya, tetapi mustahil untuk mengetahui apa yang sedang ditontonnya—bagiku, itu tampak seperti pantulan dirinya sendiri, atau mungkin adegan lain yang menampilkan sosok serupa di kursi berlengan, tetapi kali ini jorok dan tidak terawat.
Pria itu menatap layar, menyeruput sesuatu dari gelas. Aku meneguk min uman bersodaku. Di layar, pria itu tampak gugup, hampir termenung. Wajahnya buram, tetapi dia tampak mengerutkan kening.
Aku mencondongkan tubuh ke depan, ingin melihat lebih banyak.
Pria di layar itu mencondongkan tubuh ke depan.
Aku kemudian mengalami momen déjà vu yang diwarnai dengan vertigo akut, seolah-olah jatuh melalui ruang yang pernah kuimpikan, dan tahu bahwa apa yang menungguku di dasar akan mempunyai wajah yang tak asing.
Tiba-tiba, seolah-olah pengeras suara baru saja dinyalakan, soundtrack film yang di-dubbing dengan sangat buruk mulai terdengar. Melalui badai statis, aku mendengar apa yang terdengar seperti tepukan keras tetapi segera menyadari bahwa itu sebenarnya adalah kepakan sayap sesuatu yang besar.
Pria muda itu meninggalkan kursinya dan pergi ke jendela. Papan-papan kosong yang diinjaknya kotor dan usang. Dinding-dinding ruangan yang mengelupas miring ke dalam, bercak-bercak plester menunjukkan tanda-tanda lembap dan lapuk.
Ketika dia mencapai jendela, pria muda itu mengulurkan tangan dan membuka kait, lalu menggeser bingkai jendela ke atas. Suara itu semakin keras. Apa pun yang membuatnya ada di luar, dan semakin dekat.
Kamera berputar-putar, sebuah pendahuluan yang memusingkan untuk teknik pengambilan gambar tersentak-sentak, dan aku dapat melihat dari balik bahu pria muda itu keluar jendela. Pepohonan di taman di seberang bergetar dan lampu-lampu kota di luar buram, seperti lukisan cat minyak yang buruk yang dibuat oleh tangan orang gila.
Sesuatu mendekat, terbang rendah meluncur sejenak tepat di atas ketinggian pepohonan, dan meskipun jauh, tumbuh lebih besar saat mendekati pria muda di jendela.
Dia mencengkeram kusen kayujendela yang lapuk hingga pecah dan patah di tangannya. Kemudian, karena panik, dia menurunkan tirai jendela dan mundur ke tengah ruangan.
Bokongnya bertabrakan dengan kursi berlengan yang compang-camping dan dia berhenti.
Kamera kemudian menawarkan pemandangan lain dari jendela, tetapi kali ini langit kosong tanpa ada apa pun selain bintang-bintang dan pantulan cahaya redup dari kota di bawahnya. Bahkan pepohonan pun telah lenyap, meninggalkan kehampaan yang entah bagaimana tampak penuh makna.
Aku duduk di kursi dan menatap layar abu-abu kecil, mencoba memahami apa yang kulihat.
Apakah itu semacam lelucon rumit yang dibuat oleh Bulbul Effendi, mungkin sebagai balas dendam atas luka masa lalu yang tak kuketahui? Namun Bulbul tidak memiliki imajinasi maupun dana untuk usaha yang ambisius seperti itu. Saat ini dia sedang menganggur—baik di mata hukum maupun di luar sistem, mengklaim bansos, dan hampir tidak dapat mengumpulkan cukup uang untuk membeli segelas bir di bar lokal.
“Lelaki itu?”
Bagaimana dengan dia? Si berwajah dengan codet bekas luka tanpa nama yang telah menjual rekaman itu kepadaku.
Aku berdiri, pergi ke jendela, dan melihat pemandangan di luar
. Langit gelap. Serpihan awan tipis melayang di atas kanvas abu-abu yang datar. Di kejauhan, hampir terlihat, bintik hitam tergantung di cakrawala. Ketika aku melihatnya, aku membayangkan bintik itu semakin dekat, seolah-olah ditopang oleh sayap yang besar.
Aku mengenakan mantel dan meninggalkan rumah. Bar itu masih buka—tidak pernah tutup, tidak sejak undang-undang minuman keras diubah untuk mengizinkan layanan sepanjang hari demi kenyamanan wisatawan yang berkunjung.
Udara dingin menampar wajahku ketika aku berjalan melewati blok-blok apartemen kosong yang runtuh, gudang-gudang yang terbakar, dan sisa-sisa toko yang tutup bertahun-tahun lalu. Program revitalisasi yang dicanangkan pemerintah belum mencapai wilayahku. Kami masih menunggu persetujuan dewan pusat. Lingkungan di sekitarku sebagian besar terdiri dari tembok bata yang runtuh, jendela baja pengaman, dan fondasi beton yang terbengkalai.
Lelaki itu berdiri di bar saat aku memasuki bar. Tangannya yang besar bertumpu pada permukaan kayu yang terluka. Sebuah gelas kosong berdiri di hadapannya, tetapi dia tidak bergerak untuk mengisinya kembali.
Aku mendekatinya tanpa berbicara. Dia melirikku, lalu mengembalikan tatapan apatisnya ke gelas kosong.
“Dua gelas,” kataku kepada bartender—seorang pria gemuk yang jarang berbicara, tetapi tetap berhasil menarik perhatian orang banyak ke tempatnya. Mungkin kurangnya obrolannya adalah daya tarik utamanya.
“Apakah kamu sudah menontonnya?” tanya lelaki codet itu.
Bartender menyajikan minuman kami dan mundur ke ujung bar, untuk menatap tayangan ulang pertandingan sepak bola sebelumnya di TV kecil yang terpasang di dinding.
“Ya. Aku baru saja menontonnya.”
“Bagus,” kata lelaki itu, sebelum meneguk minumannya. “Itu akan menyelamatkan kita dari banyak diskusi yang tidak penting.”
Aku memperhatikan tangannya. Tangannya bergerak perlahan, tetapi tidak begitu halus. Buku-buku jarinya rusak parah, penuh luka kecil dan bengkak, seolah-olah dia baru saja berkelahi.
“Kenapa itu?” aku menunggunya menjawab.
“Film itu. Gara-gara film sialan itu.” Bibirnya yang bengkak menggeliat di bagian bawah wajahnya. Bayangan tebal memanjangkan dagunya, membuat kepalanya tampak seolah-olah terlalu besar untuk tubuhnya yang kekar.
“Ya, aku tahu itu. Tapi apa itu?”
Ia menoleh ke arahku, akhirnya memberiku perhatian penuh. Ada air mata di matanya dan dahinya baru saja berkeropeng. Darah segar berceceran di salah satu alis, bercampur dengan rambut hitam. “Entahlah. Aku bahkan belum menontonnya. Orang-orang memberitahu agar aku tidak menontonnya. Mereka bilang itu hanya berhasil pada satu orang, dan aku tidak layak untuk melihat kehebatannya. Dasar orang gila.” Dia mengalihkan pandangan, berkedip.
“Siapa mereka, orang-orang ini?”
“Orang-orang yang religius. Aku bertemu mereka di pameran film di Bandung. Aku menjual film porno buatan sendiri dan mereka punya semua DVD yang seharusnya berisi rekaman malaikat. Omong kosong. Yang kulihat hanyalah beberapa anak terbelakang di panti asuhan yang mengenakan sayap kertas.”
Dia berhenti sebentar untuk minum lagi.
“Tapi aku membeli banyak barang lain dari mereka. Banyak film horor lama, beberapa barang langka yang sudah kubeli, dan barang yang kujual padamu. Barang Bunyamin itu.”
Aku menjilat bibirku. Di belakangku, pintu terbuka dan langkah kaki berat memasuki bar, berhenti di belakangku; ketika aku menoleh untuk melihat, tidak ada seorang pun di sana dan pintunya tertutup rapat menghalau malam.
“Bagaimana aku bisa menghubungi orang-orang ini? Apakah kau punya alamat, nomor telepon? Apa saja. Aku akan membuat ini sepadan dengan usahamu.”
Sekali lagi ia menoleh ke arahku, ekspresi ketakutan terpancar di matanya yang lebar dan basah itu. “Mereka datang menemuiku tadi malam, setelah aku memberimu rekaman itu. Mereka bilang mereka mengawasiku, dan kalau aku mencoba menghubungi mereka, mereka akan membunuhku.”
Ia mengangkat tangannya, membuka tinjunya untuk menunjukkan tanda-tanda yang kulihat sebelumnya. “Aku orang yang keras, tetapi mereka lebih keras. Mereka menunjukkan foto-foto orang terakhir yang melanggarnya.” Dia meraih gelas bir-nya dan menghabiskan isinya, tidak ada sedikit pun rasa tidak suka di wajahnya.
Aku teringat Bulbul Effendi dan bagaimana dia pernah terlibat dengan kelompok-kelompok tertentu di masa lalu—anarkis, sempalan, aliran sesat pseudo-religius yang tidak jelas. Aku pikir dia telah melupakan semua itu, tetapi mungkin aku salah.
Apakah aku adalah akhir dari ritual gila, atau mungkin utang Bulbul kepada sekelompok orang yang seharusnya tidak dia ganggu—orang-orang yang jauh lebih berbahaya daripada yang dia duga?
Semua ini tampak tidak nyata, seperti alur dari salah satu film yang aku sukai.
Ketika aku meninggalkan bar, aku merasa seperti ada yang membuntutiku. Bayangan bergerak di setiap sudut, suara-suara datang dari setiap pintu gelap yang kulewati. Setiap kali aku melihat ke langit, aku berharap untuk melihat sesuatu meluncur ke arahku, meraihku seperti burung hantu yang menyambar tikus di sawah.
Aku mengunci diri di dalam rumah, menaiki tangga, dan berlutut di depan VCR, sekali lagi menekan tombol eject. Kasetnya tidak ada di sana. Aku meninggalkannya di sana ketika aku kembali ke bar, tetapi sekarang sudah hilang. Seharusnya aku sudah menduganya. Aku bukan orang bodoh.
Aku mencoba makan roti lapis mentega tetapi rasanya seperti kardus. Air dari keran terasa pahit seperti tembaga. Aku minum wiski yang kusimpan untuk keadaan darurat. Banyak sekali.
Satu-satunya jalan keluar adalah mabuk berat. Mungkin dengan begitu aku tidak akan dapat melihat apa pun itu ketika akhirnya dia datang padaku…
Akhirnya, aku kembali ke kursi berlengan di kamar lantai atas untuk menatap layar televisi yang mati. Wiski sudah hampir habis, tetapi aku belum cukup mabuk untuk mematikan pikiranku.
Layar TV tiba-tiba menyala. Cahayanya terang disertai suara letupan samar. Meskipun tidak ada kaset video, gambarnya hampir sama seperti sebelumnya: seorang pria muda duduk di kursi berlengan yang kotor, dengan minuman di tangannya. Aku mengangkat gelasku, pria muda itu mengangkat gelasnya. Aku condong ke depan, pria muda itu merunduk maju di kursinya.
“Tidak.”
Kami mengucapkan dialog itu serempak, dua orang pemain di panggung yang gelap. “Silakan.”
Kemudian, akhirnya, suara kepakan sayap yang besar mendekat, tanpa terhalang oleh lapisan kaca dan dinding tipis tempat tinggalku, atau dia.
Kami—aktor dan aku—berdiri dan berlari ke jendela. Makhluk itu semakin dekat, dan aku lihat bahwa makhluk itu kurus kering dan jelek, seperti mayat yang kulitnya telah mengering dan melekat pada tulang yang menguning. Kepalanya besar, seperti tengkorak anjing yang dikuliti, dan rongga matanya dipenuhi cahaya yang menyala seperti bohlam dari serangkaian lampu busur dalam film tentang kehancuranku.
Namun, keseluruhannya menyerupai kostum yang buruk, efek khusus yang dibuat-buat. Detailnya lusuh. Aku hampir bisa melihat benang yang menyatukan jahitan yang sudah usang pada garis luarnya. Entah mengapa, aku merasa ide ini lebih mengganggu daripada jika makhluk itu tampak nyata.
Aku menoleh ke layar televisi. Lawan mainku memunggungiku.
Kemudian, dengan penuh ketakutan, aku melihat layar saat makhluk itu menabrak jendela tanpa suara, mencengkeram punggung pria muda itu, dan mulai mencabik-cabik kepala dan wajahnya yang terbalik. Dia mengangkat tangannya, mencoba menepisnya, tetapi makhluk itu terlalu kuat dan menjepitnya dengan mudah ke lantai papan yang berdebu. Kepalanya yang besar dan terkulai menunduk di atas wajah pria muda itu yang menjerit.
Semuanya berakhir dalam hitungan detik. Monster itu menyeret sisa-sisa pria muda yang berlumuran darah ke jendela dan membawanya pergi, mungkin ke sarang mengerikan yang terletak jauh di sana, di tempat lain, yang terbuat dari potongan-potongan seluloid yang dibuang.
Aku menoleh dengan kaku ke jendela, tetapi tidak ada yang terlihat. Seperti adegan yang akan datang, apa yang aku saksikan di layar hanyalah sebuah pertanda, cuplikan dari apa yang akan terjadi selanjutnya.
Aku melangkah ke jendela. Malam di luar benar-benar gelap, seperti layar bioskop di antara pertunjukan. Kemudian, satu per satu, lampu-lampu kecil menyala dalam kegelapan, dan aku terkejut melihat sejuta layar televisi berkedip-kedip seperti lampu tidur masa kanak-kanak.
“Mengapa aku ? Mengapa memilihku?”
Tidak ada jawaban selain dengung lembut mengiringi cahaya televisi.
Aku sekali lagi merasa bahwa aku sedang diawasi, atau mungkin dimanipulasi oleh kepribadian yang tersembunyi: penulis dan sutradara, yang bekerja sama untuk kolaborasi terakhir, sesuatu yang pada akhirnya akan menjangkau seluruh semesta menuju pemirsa yang sama sekali berbeda…
“Aku tidak penting. Aku tidak punya apa-apa untuk ditawarkan. Aku tidak punya cerita untuk diceritakan.”
Kata-kataku terputus dalam kegelapan. Jejak kebingungan yang akan segera menjadi jalanku menuju kehancuran. Kata-kataku, yang sekarang kusadari, bukan lagi bagian dari naskah syuting.
Aku menatap layar yang sebenarnya adalah mata. Layar itu tergantung di kehampaan, tergantung dari bintang-bintang yang tak terlihat dan ekor-ekor komet aneh yang tetap tak kasat mata. Aku berbalik dan meraih kursi berlengan, menariknya ke jendela, tempat aku duduk dan menatap ke arah jemaat digital, menunggu babak ketiga yang sering kali sulit untuk dimulai.
Ppasrah, aku bertanya-tanya, layar mana yang cukup besar untuk menampung jiwaku.
Cikarang, 10 Oktober 2024


Selalu bikin mumet. Dari mana aja idenya? 😅