Anjing dan Tikus yang Mewakili Manusia
dok. pri. Ikhwanul Halim

Anjing dan Tikus yang Mewakili Manusia

Views: 65

Senja selintas lewat di Kafe Pojok Sepi Sendiri. Tidak seperti namanya, warung kopi yang menyaru sebagai kafe itu sudah ramai dengan para kastemer dan pemirsa setia acara Bincang Full Itique Kafe Pojok Sepi Sendiri dengan moderator Alfonso Gomez, sarjana strata satu Publisistik yang bekerja sebagai satpam pabrik di kawasan industri. Sebagai narasumber tunggal telah hadir Profesor Hutul Sarbin Taylor. Gelar profesor asli dari tiga universitas bintang lima, bukan Honoris Causa. Sembilan Doktor diperoleh dari dua universitas bergengsi papan atas, atas segalanya, di benua Eropah dan Amerika.

“Selamat selepas senja para pemirsa. Topik kita pada malam ini yang sedang viral tentang “Dewan Perwakilan Dinasti dan Pengusaha”. Kita tahu bahwa sekitar 61 persen anggota DPR punya background sebagai pengusaha, dan 30 persen punya hubungan dinasti politik. Kami persilakan Profesor Hutul Sarbin Taylor untuk terlebih dahulu memaparkan hasil penelitiannya.”

Profesor Hutul mengelus dagunya yang tak berambut.

“Sebelumnya aku harus meluruskan dulu kata-kata kau, Fulgoso. Tidak ada yang perlu diteliti dalam hal ini, karena yang sudah terjadi adalah takdir Ilahi. Que sera sera. Kue apem terserak-serak. Ayam kate terberak-berak.”

(Disambut oleh pemirsa dengan paduan suara, “Cakeeep!”)

“Sudah menjadi tradisi di negeri ini sejak era kuda gigit nikel dan batubara, kasta ksatria dan waisya yang mengelola segala-galanya. Cerdik cendikia, pemimpin umat, harus pandai menjilat kalau mau selamat dunia bukan akhirat.”

(Lagi-lagi pemirsa bersatu padu berseru, “Cakeeep!”)

Alfonso yang berwajah masam karena namanya diganti dengan Fulgoso, mengajukan bantahan. “Tapi, Prof. Bukankah berdasarkan pengalaman sejarah, mereka-mereka itu tak ubahnya tikus yang rajin menjarah dan anjing yang kepadanya disodorkan tulang akan menjulurkan lidah? Belum lagi semua fraksi partai menjadi pembebek ya tuan menyembah penguasa dari kiri kanan depan belakang atas bawah.”

(Hanya Christine Ricci, janda muda bahenol tanpa anak pemilik merangkap pengelola sekaligus barista dan waitress Kafe Pojok Sepi Sendiri, yang berseru lirih, “Cakeeep!”. Entah karena prosa liris Alfonso, atau terpesona oleh ketampanan tiada tara sang bujangan pelanggan setia.)

Profesor Hutul mendengus, mengusir debu yang menempel di kumisnya yang baplang.

“Siapa bilang? Lima ratus delapan puluh kepala tak mungkin satu pikiran satu suara. Pasti suatu ketika akan ada yang mbalela. Ketika kepentingan pribadi atau kelompok tak mendapat apresiasi, maka sejumlah kursi akan balik kanan hadap kiri mengoposisi.”

(Kali ini hanya sedikit yang berucap “Cakep.” Ternyata gelas dan cangkir kopi beserta juadah rupa-rupi sedang didistribusikan oleh Mpok Christine Ricci).

“Pertanyaan terakhir, Prof. Dengan utang yang segunung, anggota dewan yang tanpa malu melahap uang rakyat untuk rumah dinas baru dan kendaraan dinas baru belum lagi dana aspirasi dan uang perjalanan dinas ke luar negeri, bagaimana dengan ramalan Jokowi bahwa Indonesia akan menjadi Negara Superpower Ekonomi Baru?”

Sambil menyeruput kopi sanger dingin yang baru saja diletakkan Mpok Christine Ricci di hadapannya, Profesor menjawab, “ Ya ndak tau, kok tanya saya. Tanya sama Fufufafa.” Kemudian Profesor Hutul Sarbin Taylor mencomot lemang bakar dari piring kecil yang dalam bahasa Sunda Empire disebut pisin.

Mendadak saja listrik padam sehingga suasana kafe gelap gulita. Samar-samar dari jauh terdengar denting sendok mengetuk mangkok dari gerobak tukang bakso berwalkie-talkie.

Cikarang, 10 Oktober 2024

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *