“Terima kasih. Bagus sekali,” kata Mira sambil mengambil rok dari kotak. Dia berusaha terdengar senang. Rok itu tidak terlalu buruk, tetapi modelnya sudah ketinggalan zaman berapa abad.
Mungkin dia bisa menukarnya dengan sesuatu yang disukainya.
“Kamu akan terlihat sangat manis memakainya,” kata mamanya. Dia menunjuk tumpukan kotak kosong dan tersenyum. “Sepertinya ada hadiah yang hilang.”
“Benarkah?” tanya Mira. Memang tepatnya begitu. Setiap ulang tahunnya, dia mendapat satu hadiah yang sangat istimewa dari mamanya. Sejauh ini, belum ada tanda-tanda akan mendapatkannya.
“Tetaplah di sini. Mama menyimpan yang terbaik untuk detik-detik terakhir.” Senyum mamanya berubah menjadi seringai rahasia sambil berlari keluar dari ruang tamu.
Mira bertanya-tanya apakah mamanya telah memberinya pemutar DVD eksternal yang dimintanya. Atau mungkin televisinya sendiri untuk kamar tidurnya. Keduanya akan lebih bagus. Dia tahu tidak masuk akal untuk mengharapkan keduanya.
Sesaat kemudian, mamanya kembali dengan sebuah bungkusan yang ukurannya kira-kira dua kali lipat kotak sepatu. Harapan Mira perlahan memudar saat ia menerima hadiah itu.
“Terima kasih.” Ia menggoyangkannya. Sesuatu yang padat berdenting menabrak sisi-sisi kotak. Kotak itu tidak terasa cukup berat untuk sebuah pemutar DVD, dan terlalu kecil untuk televisi.
“Hati-hati,” kata mamanya. “Kamu akan menyakitinya.”
Menyakitinya? Mira merobek kertas pembungkus. Karena ini adalah hadiah terakhir, dia tidak ingin terburu-buru. Begitu kado itu dibuka, dia merasa bahwa sisa hari ulang tahunnya hampir sama seperti hari-hari lainnya.
Di bawah kertas pembungkusnya, dia menemukan sebuah kotak kardus berwarna merah muda. Huruf-huruf putih keriting di tutupnya bertuliskan,
Sama Sepertiku.
Dengan bingung, Mira menyingkirkan tutupnya. Kemudian dia menyingkirkan kertas tisu merah muda yang menutupi isinya.
“Astaga!”
Dia mendapati dirinya menatap wajahnya sendiri—lebih kecil, kaku, tidak bergerak, tetapi wajahnya itu serupa dengannya, sampai ke poni cokelat tua yang menutupi dahinya dan bintik-bintik cokelat muda yang menghiasi pipinya.
Poni? Tidak lagi. Mira meletakkan tangannya di kepalanya. Dia telah mengubah gaya rambutnya setengah tahun yang lalu.
“Suka?” tanya mamanya.
Mira mengangguk, meskipun dia tidak yakin bagaimana perasaannya. Dia terlalu tua untuk bermain dengan boneka. Dia telah mengemasi semua bonekanya saat terakhir kali dia membersihkan kamarnya. Melihat lebih dekat, dia menyadari boneka itu tampak lebih muda.
“Ada seorang kakek-kakek di Dago Atas yang membuatnya,” kata mamanya. “Dia membuatnya dengan melihat potret.”
“Foto mana yang Mama kirim?” tanya Mira.
“Foto waktu liburan tahun lalu. Mama rasa kakek itu melakukan pekerjaan yang luar biasa. Boneka itu mirip sekali dengan kamu.”
“Keren, Ma,” kata Mira. Dia mengambil boneka itu, tetapi dia tidak memegangnya terlalu dekat. Dia merasa tidak nyaman saat menatap versi kecil dirinya sendiri. Rasanya seperti tahun lalu, saat dia bermain drama sekolah.
Pertama kali dia melihat wajahnya di cermin dengan riasan panggung, pemandangan itu membuatnya merasa aneh. Semuanya terasa tak asing, tetapi juga sedikit aneh.
Mamanya tersenyum. “mama tahu kamu akan menyukainya. Mama tidak sabar untuk memberikannya ke kamu.”
Mira membawa boneka itu ke kamarnya dan mencari tempat untuk menaruhnya. Dia tidak sanggup memberi nama pada boneka itu. Dia akan menyebut boneka itu dengan sebutan apa? Mira Kecil? Mira Kedua? Mira Muda?
Tidak.
Memang untuk saat ini, boneka itu adalah miliknya. Tetapi dia butuh tempat untuk menyimpannya. Mira tahu hati mamanya akan terluka kalau dia menaruh boneka itu di lemari. Atau di tempat sampah.
Dia memutuskan untuk menaruhnya di rak yang berada di sepanjang dinding di atas tempat tidurnya. Dengan begitu, setidaknya, dia tidak akan melihat boneka itu saat dia berbaring di tempat tidur.
Sebelum tidur, dia mengecek secara daring. Pembuat yang menciptakan boneka itu punya situs web. Betapa terkejutnya dia ketika mengetahui boneka itu harganya lebih mahal daripada harga satu DVD eksternaldan satu TV.
Pemborosan, pikirnya saat dia berbaring di tempat tidur.
Ketika Mira bangun keesokan paginya, dia merasakan sesuatu yang keras di dekat kepalanya. Dia mengulurkan tangan, matanya masih terpejam, dan merasakan plastik yang dingin. Dan rambutnya yang kusut.
Mira segera duduk, sambil terkesiap.
Boneka itu ada di tempat tidur bersamanya.
Pasti jatuh, pikir Mira sambil menjauh darinya. Namun, itu tidak menjelaskan bagaimana boneka itu berakhir di bawah selimut di sebelahnya. Mira tidak ingin memikirkan itu. Dia meletakkan boneka itu kembali ke rak dan turun untuk sarapan.
“Tolong ambilkan koran,” kata mamanya saat Mira masuk ke dapur. Mereka masih berlangganan koran lokal yang dilemparkan ke teras oleh loper setiap pagi.
“Tentu.” Mira mengenakan mantelnya dan pergi ke halaman depan.
Ketika dia kembali ke dapur, dia hampir menjatuhkan koran itu. Boneka itu duduk di meja dapur, bertengger di kursi, ditopang oleh setumpuk buku.
“Mama rasa dia harus bergabung dengan kita,” kata mamanya.
Mira mengangguk dan duduk. Dia melihat mamanya telah menyiapkan tempat untuk boneka itu.
“Jadi,” tanya mamanya. “Apakah kamu sudah memberinya nama?”
“Belum,” kata Mira. “Aku masih memikirkannya.”
“Bagaimana dengan Febri?” usul mamanya.
“Tapi….” kata Mira. Febri adalah nama akhirnya. Papanya yang memberi nama Mira. Mamanya memberi nama Febri. Jadi mereka memberinya nama Mirawati Febri.
Mamanya membelai rambut boneka itu. “Ya. Febri. Mama suka nama itu. Bagaimana dengan kamu?”
“Tentu, Ma,” kata Mira. “Febri nama yang bagus.” Dia melirik jam dinding.
“Sebaiknya aku segera berangkat.” Ia meraih ranselnya dan bergegas menyusuri lorong menuju pintu depan. Saat menoleh ke belakang, dia melihat Febri duduk di meja, menatap dengan mata yang tak bergerak, menunggu dengan sabar seseorang untuk menggendongnya atau membelai rambutnya dan mengatakan padanya betapa baiknya dia.
Saat Mira pulang sekolah, dia mendapatkan Febri duduk sofa. Mira selalu duduk di pojok kiri sofa untuk mengerjakan pe-ernya.
Mamanya yang meletakkan Febri di sana.
Mira memindahkan boneka itu ke sisi lain ruangan, ke kursi kulit besar yang sangat disukai papanya untuk bersantai. Kursi yang selalu didudukinya sebelum dia meninggal tahun lalu.
Mira duduk di sofa dan mulai mengerjakan tugas sekolahnya. Beberapa menit kemudian, dia mendengar mamanya berjalan di lorong. Dia menyadari mamanya pasti ingin tahu mengapa dia memindahkan Febri. Mira berlari menghampiri dan membawa Febri kembali ke sofa, lalu meletakkannya di bantal tengah.
“Wah, kalian berdua kelihatan imut sekali,” kata mamanya, berjalan ke sofa dan memeluk Mira.
Kemudian, ia mengulurkan tangan dan menepuk Febri. “Pasangan yang menggemaskan.”
Mama mengangkat tangannya yang lain yang memegang sisir, dan mulai menyisir rambut Febri.
“Kami tidak berpasangan,” gerutu Mira.
Kulit kepalanya terasa geli saat berbicara. Dia berpaling dari boneka itu dan terus mengerjakan pekerjaan rumahnya, mencoba mengabaikan dengung mamanya yang fals menyanyikan lagu Timang-Timang.
Febri bergabung untuk makan malam, malam itu. Sekali lagi, mamanya menyiapkan piring untuk boneka itu. Setidaknya Mama tidak memberinya makanan, pikir Mira sambil menyantap makanannya.
Malam itu, setelah mereka bertiga menonton televisi, mamanya berdiri dan berkata, “Waktunya tidur, Mirawati Febri.”
Mira hendak menjawab ketika dia menyadari bahwa mamanya sedang berbicara dengan boneka itu.
Mirawati Febri? Pikir Mira. Pasti mamanya keceplosan. Keceplosan yang bodoh.
“Baiklah,” gumamnya sambil naik ke atas untuk bersiap tidur. “Kalau itu yang Mama inginkan. Baiklah. Mereka bisa saling memiliki.”
Dia berjalan dengan langkah gontai menyusuri lorong menuju kamar mandi. Setelah selesai menggosok gigi, dia masuk ke kamarnya.
Febri sedang duduk di tempat tidurnya. Mira membeku di ambang pintu. Di ujung lorong, dia bisa mendengar mamanya di kamar tidurnya sendiri.
“Sebentar lagi aku akan ke sana untuk mengucapkan selamat malam,” seru mamanya.
Mira duduk di kaki tempat tidur, jauh dari Febri. Mamanya masuk dan mengucapkan selamat malam kepada mereka, sambil menatap lurus ke arah boneka itu sepanjang waktu. Begitu mamanya pergi, Mira melempar Febri ke atas raknya. Dengan kasar.
Dia tersenyum mendengar suara kepala boneka itu membentur dinding.
Tidurlah yang nyenyak, pikir Mira sambil merangkak di bawah selimut.
Mira terbangun di tengah malam, kepalanya sakit. Dia tahu, tanpa memeriksanya, bahwa Febri sudah tidur di sebelahnya lagi. Mira memejamkan mata, meringkuk membelakangi boneka itu, dan mencoba tidur.
Keesokan harinya, sepulang sekolah, Mira punya ide. Ia akan memperbaiki keadaan agar Febri tidak terlihat seperti dirinya lagi. Kemudian mamanya akan tersadar dari keanehan ini.
“Bujuk dia,” katanya sambil pergi ke dapur dan mengambil pisau.
“Operasi plastik,” gumamnya. Ia sudah setengah jalan menuju sofa ketika teriakan mamanya membuatnya terdiam.
“Kamu mau apa?” tanya mamanya menunjuk pisau.
Mira mengangkat bahu dan melontarkan kebohongan pertama yang terlintas di benaknya. “Tidak apa-apa. Aku hanya akan memotong rambutnya. Poninya terlalu panjang.”
“Dengan itu? Apa kamu sudah gila?”
Mamanya menyambar boneka itu dari sofa dan memeluknya erat-erat, mendekap boneka itu di dadanya. “Hush, hush,” katanya. “Tidak apa-apa.”
Mira berbalik dan kembali ke dapur. Setiap kali melangkah, dadanya terasa semakin sesak. Dia sangat kesal, dia hampir tidak bisa bernapas. Dia menaruh kembali pisau itu ke dalam laci, lalu duduk di meja.
Beberapa saat kemudian, dia mendengar suara langkah kaki.
“Mirawati Febri memaafkan kamu,” kata mamanya. “Dia sangat pengertian. Semua orang bilang dia boneka yang sempurna.”
Mira mengangguk, tetapi tidak menatap mereka. Dia mendengar mamanya meletakkan boneka itu di kursi. Napasnya sendiri kini menjadi lebih lega.
”Aku tidak ingin dia di kamarku malam ini,” kata Mira. “Tentu saja,” kata mamanya. “Lagipula—itu juga kamarnya.” “Tidak, bukan!” Mira berdiri dan menghadap mamanya. “Ini kamarku. Dia boneka! Dia tidak nyata!”
Mamanya mengulurkan tangan dan menutup telinga boneka itu. “Ssstttt. Mama tidak tahu apa yang terjadi padamu.”
Mira keluar rumah dengan marah. Dia berjalan tanpa tujuan selama beberapa blok, membayangkan bagaimana dia akan menghancurkan boneka itu.
Rumahnya gelap gulita ketika dia sampai di rumah. Mamanya sudah tidur.
Mama bahkan tidak menungguku, pikir Mira. Di lantai atas, di kamarnya, boneka itu menunggunya. Boneka itu ada di tempat tidurnya, terselip di bawah selimut. Gelang kesayangan Mira diikatkan di leher boneka itu. Pasti mamanya yang menaruhnya di sana.
“Cukup!” kata Mira. Dia berlari menyeberangi ruangan dan meraih boneka itu. Dia meraba-raba pengait gelang itu, lalu berhenti. Dia takut akan merusaknya. Ada cara yang lebih mudah untuk melepaskannya. Cara yang jauh lebih memuaskan. Dia memutar kepala boneka itu, ingin sekali merobeknya dari tubuhnya. Dalam benaknya, dia melihat dirinya melemparkan kepala itu melalui jendelanya. Dalam benaknya, dia melihat dirinya berteriak pada mamanya, mengatakan kepadanya betapa salahnya semua ini. Dalam benaknya, dia melihat dunia kembali seperti semula.
Di lehernya, dia merasakan sakit yang menusuk yang menyakitinya lebih dari apa pun yang bisa dia bayangkan.
Boneka itu jatuh dari tangannya dan jatuh ke tempat tidur. Mira terhuyung mundur, memegangi tenggorokannya yang terluka. Dia menabrak dinding, lalu jatuh ke lantai. Terdengar desahan lemah dari bibirnya. Dia tidak dapat membuat suaranya lebih dari sekadar bisikan. Rasa sakitnya terlalu hebat. Dia bahkan tidak bisa menoleh ke depan.
Di tempat tidur, dia melihat boneka itu, kepalanya terpelintir pada sudut yang tidak wajar.
“Mira!” teriak mamanya, berlari ke kamar.
Mira mengulurkan tangan dan mengucapkan kata, “Leher.”
Mamanya berlari melewatinya. Ia meraih boneka itu dan mendekapnya di lengannya. “Ya, ampun. Lehermu. Sungguh mengerikan. Ya ampun. Jangan khawatir, Mama akan mengurusmu. Kamu akan baik-baik saja. Kamu akan baik-baik saja. Mama janji.”
Mamanya bergegas keluar kamar, masih berbicara dengan boneka itu. “Jangan khawatir. Mama tahu seseorang yang dapat memperbaikimu. Dia tinggal di seberang kota.”
Mira, berjuang untuk menelan ludah, memperhatikan kepergian mamanya.
Setengah jam kemudian, saat dia duduk di lantai di sudut kamarnya, lehernya tiba-tiba terasa lebih baik.
Dia tahu, boneka itu telah diperbaiki.
Mamanya akan segera kembali. Mamanya dan Mirawati Febri. Mirawati Febri yang sempurna, yang tidak pernah membangkang. Yang tidak pernah merajuk atau cemberut. Yang tidak pernah tumbuh dewasa.
“Tidak,” katanya keras-keras. “Aku Mira. Dia hanya boneka. Aku Mira. Bukan dia. Aku.”
Namun, bahkan di telinganya sendiri, suaranya terdengar datar dan hampa. Tidak seperti manusia, sungguh. Bukan suara manusia yang bernyawa.
Cikarang, 11 Oktober 2024


Waduh, membacanya buat merinding, Pak.