Mahiwal Si Pengrajin Tembikar menggunakan metode pemlintiran tangan untuk membuat piring-piring yang indah dan mangkuk-mangkuk yang cantik. Ia membuat cangkir-cangkir yang cantik dan kendi-kendi yang paling cantik. Ketinggian artistik yang dicapai oleh cawan-cawannya tak tertandingi.
Para seniman dan pakar budaya menangis kegirangan saat melihat cawan-cawan buatan Mahiwal. Para saingan sesama pengrajin tembikar menghancurkan roda-roda putar dan menghancurkan tungku-tungku mereka saat melihat salah satu ciptaannya.
Perang antar negara terjadi, dan uang tebusan dibayarkan untuk mengoleksi cawan-cawan buatannya.
Maka dia dikenal dari ujung Kekaisaran Barat hingga pesisir Kepulauan Timur sebagai Mahiwal Sang Pemlintir Cawan. Mahiwal dan seluruh warga desanya berkembang pesat dari perdagangan cawan-cawannya yang unik.
Suatu hari di lapangan berumput di tengah alun-alun desa, muncullah sosok wanita tua yang menyeramkan. Bersandar pada tongkat kayu hitam yang dipangkalnya bertatah kristal tengkorak bergerigi yang berdenyut dengan cahaya merah jahat, adalah Veh-Rah Sang Penyiksa, seorang penyihir hitam yang memiliki reputasi buruk.
“Serahkan padaku Mahiwal Sang Penyihir Lawan! Terlalu sering aku mendengar namanya disebut sebagai penyihir terhebat di seluruh dunia!”
Mahiwal dipanggil dan dia mencoba menjelaskan kepada Veh-Rah bahwa dia bukanlah seorang penyihir, melainkan seorang pembuat cawan dengan metode memlitir tanah liat, seorang pengrajin tembikar yang membuat piring. Veh-rah tidak mau mendengarkan penjelasannya. Patut diduga pendengaran Veh-Rah bermasalah.
“Dasar pengecut! Aku menantangmu untuk pertandingan sihir. Pemenangnya akan menjadi penyihir terhebat yang pernah dikenal dunia, yang kalah akan mati.”
Mahiwal menyadari bahwa penyihir hitam ini tidak punya akal sehat.
Berpikir cepat, dia berkata, “Baiklah, karena kamu yang menantangku, sudah sepantasnya aku yang memilih jenis kontes yang diadu. Kekuatan terbesarku adalah tidur. Aku akan tidur selama 100 tahun, tidak ada yang akan menggangguku, dan aku akan bangun tanpa menua sehari pun.”
“Kalau begitu aku akan tidur selama 200 tahun, dan bangun satu tahun lebih muda dari usiaku saat ini,” seru Veh-Rah.
Keduanya segera berbaring di atas rumput.
Ketika Veh-Rah mulai mendengkur, Mahiwal bangkit dengan senyum kemenangan dan kembali ke sanggar kerjanya.
Sejak saat itu, ia dikenal sebagai Mahiwal Sang Penyihir Tembikar, dan Veh-Rah Sang Penyiksa sebagai Veh-Rah Penyihir Tidur Mendengkur Dibelit Sulur Jelatang Gatal Merambat.
Cikarang, 12 Oktober 2024


Menarik ~