Senja meluruh di Teluk Kepala Ikan yang tenang.
Seorang lelaki asing masuk ke toserba milik koperasi karyawan pelabuhan. Tidak ada yang melihatnya datang, karena memang tidak ada yang memperhatikannya.
Bukan hal biasa, karena hanya sedikit yang melakukan perjalanan menjelang malam sampai sejauh ini. Feri penyeberangan terakhir sore sebelum ashar. Dalam kungkungan malam pemukim dan pendatang terkungkung di kota, bak laron terjebak pada pendar sinar lampu jalan.
Tubuh orang asing itu tinggi jangkung tanpa sehelai pun rambut. Kulitnya sepucat mayat. Mantel hitam panjang menutupi dirinya bagai kulit kedua sementara kacamata hitam menyembunyikan matanya.
Senyumnya dingin ketika dia menanyakan lokasi Jalan Terusan Syeh Muara pada anak laki-laki di balik meja kasir.
Jalan Terusan Syeh Muara berada di pinggiran kota. Hanya ada satu rumah hunian di atasnya. Sementara bangunan lain tersebar di sisi jalan, beberapa kios warung kopi yang buka sampai sore hari. Gedung-gedung tua dari zaman kolonial telah lama lenyap disapu gelombang tsunami.
Bertahun-tahun yang lalu, walikota mencoba meremajakan tempat itu dengan taman kecil di salah satu lahan terbuka di sepanjang Jalan Terusan Syeh Muara, tetapi walikota itu kalah pada pemilihan berikutnya, dan tidak seorang pun kecuali Pak Tua yang mengunjungi taman yang kini rimbun.
Orang Asing mengangguk kepada anak laki-laki itu, berbalik, dan meninggalkan toko tanpa berkata apapun. Anak laki-laki itu menelan ludah dan bertanya-tanya mengapa jantungnya berdebar begitu cepat.
Di Jalan Terusan Syeh Muara, Pak Tua melangkah dari rumah kecilnya, dengan tongkat di tangan dan mulai berjalan terhuyung-huyung di jalan setapak ke taman kecil. Bangkunya lebih kecil lagi dibandingkan bangku taman umumnya.
Hanya sendikit penduduk setempat yang tahu tentang Pak Tua. Dia telah tinggal di Banda hampir seabad silam. Orang-orang yang tahu tentangnya telah lama hilang. Umumnya oleh usia tua sebelum tsunami.
Dia tetap menyendiri, membeli barang keperluan sehari-hari dari berbagai pasar dan toserba yang tersebar di kota dan kadang-kadang mengajukan pertanyaan yang canggung kepada orang-orang.
Sesungguhnya Jalan Terusan Syeh Muara telah dihapus dari peta kota dan tidak ada yang pernah mengunjunginya. Kadang-kadang, nelayan yang pulang akan melihat Pak Tua duduk di bangku di taman Syeh Muara, menatap langit malam jauh dari cahaya kota dan peradaban. Bintang-bintang berkelip dengan anggun, menghiasi semesta dalam kemegahan ketika planet kecil dan tak penting ini berputar di tepi Bima Sakti. Langit malam di atas Banda sangat luar biasa dan wajar saja jika ada manusia yang duduk menikmatinya.
Dan malam ini adalah malam yang luar biasa. Langit malam tak berawan, galaksi-galaksi terhampar berkelap-kelip dengan semua keindahannya yang tak berbatas kata-kata.
Pak Tua duduk di bangkunya dengan tenang, menatap bintang-bintang.
“Mengapa ada air keluar dari matamu? Apakah tubuhmu bocor?” Orang Asing itu berdiri di belakang Pak Tua. Tidak terdengar suara saat dia datang.
Dia melangkah maju dan duduk di bangku kecil lainnya di samping Pak Tua. Pak Tua tidak menoleh, tatapannya tetap mengarah ke bintang-bintang.
“Manusia menyebutnya ‘air mata’. Ini adalah manifestasi fisik dari ‘kesedihan’. Jika kau hidup cukup lama di antara mereka, kau mulai menyerap beberapa sifat mereka,” ‘Pak Tua menjawab perlahan.
Tetapi kemudian dia mulai mempercepat kata-kata, seakan-akan sudah lama ingin dimuntahkan.
“Aku punya teori bahwa sebenarnya aku memiliki ciri-ciri emosional itu sejak dulu, tetapi aku tidak menyadarinya. Aku pikir, kita semua tidak menyadarinya. Tentu, kita dapat melakukan perjalanan lebih jauh dan lebih cepat daripada manusia dan kita memiliki teknologi yang lebih baik, tetapi manusia jauh lebih berevolusi secara emosional daripada kita. Kita dapat belajar hal-hal hebat dari mereka tentang pengetahuan tersembunyi ini.”
Orang Asing itu melepas kacamata hitamnya dan meletakkan ke dalam saku jubahnya, lalu melipat tangannya di dada.
Dia melirik ke Pak Tua—yang tidak mengalihkan pandangannya dari bintang-bintang di atas—dan kemudian mendongak melihat ke langit malam.
“Kami menurunkanmu berpasangan—”
Kata-kata Orang Asing itu tak selesai karena Pak Tua menoleh dan menatap lurus ke arahnya, menyela dengan tawa kecil.
“Kalian selalu mengirim kami berpasangan. Selalu berpasangan.”
Pak Tua mencondongkan tubuh ke depan dan menghapus air mata sebelum melanjutkan. “Separuh diriku yang lain hilang. Cahaya kosmik pasanganku padam ketika salah satu perangkat transportasi mekanis manusia, Toyota Avanza, yang dikemudikan oleh manusia mabuk melanggar sinyal tanda berhenti dan menabraknya saat menyeberang jalan. Delapan belas tahun yang lalu. Manusia menyebutnya ‘meninggal’. Dia meninggal delapan belas silam.”
Wajah Orang Asing itu tak terbaca, tapi tatapannya beralih dari bintang-bintang di langit ke Pak Tua di sebelahnya.
Air mata mengalir semakin deras di wajah si Pak Tua. “Dia meninggal dalam pelukanku, dan delapan belas tahun telah berlalu sejak saat itu. Tubuh yang kalian berikan padaku menua dan mulai kedaluwarsa, tapi yang kuinginkan hanyalah pasanganku kembali.”
Pak Tua menyeka matanya dan mendesah dalam-dalam, sebelum menengadah untuk melihat bintang yang berkelap-kelip jauh di atas.
“Banyak manusia percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian, dan aku berharap begitu. Meskipun tubuhnya telah hilang, cahaya kosmiknya masih bisa ditangkap oleh kita di luar sana, kan? Aku terus mencarinya di suatu tempat di luar sana, di salah satu galaksi kita, atau bagian tersembunyi dari semesta yang masih akan kita temukan ….”
Suaranya memudar. Dia menjatuhkan pandangannya ke tanah. Orang Asing itu masih menatapnya.
“Aku tidak mengerti,” Orang Asing itu menggelengkan kepalanya, “apa yang kamu bicarakan? Mungkin kami meninggalkanmu di planet ini terlalu lama, tapi aku menantikan laporan lengkap.”
Pak Tua menoleh ke Orang Asing dan tersenyum. “Dari semua hal yang telah aku pelajari di sini dan dari semua hal yang telah diajarkan manusia kepadaku, inilah pengetahuan terbesar. Apa yang aku rasakan adalah cinta, dan kita semua dapat merasakannya juga. Cinta adalah yang terbesar dari semua emosi, dan aku akan mengajari bangsa kita tentang itu. Ayo, saatnya pergi. Aku akan memberitahumu semua tentang itu di rumah.”
Orang Asing itu mengangguk.
Pak Tua tersenyum, lalu bangku itu kosong.
Pak Tua tidak akan pernah terlihat lagi, begitu pula si Orang Asing. Tapi, keesokan harinya, penduduk Banda dihebohkan tentang kabar dua bola cahaya yang sangat terang terbang rendah di atas Teluk Kepala Ikan larut malam.
Beberapa penduduk setempat bahkan bersumpah bahwa mereka melihat cahaya ketiga di atas sana, bergabung dengan dua cahaya lainnya.
Cakung, 15 Maret 2021

