Pembalasan Lord Banzeyr Panzeyton
Pembalasan Lord Banzeyr Panzeyton

Pembalasan Lord Banzeyr Panzeyton

Views: 5

Pangeran Kegelapan Banzeyr merasakan anggota tubuhnya terbentang saat dia meregang hingga setinggi dua meter sepuluh senti. Dia menampakkan diri di sebuah gang remang-remang yang berbatasan dengan jalan lebar tempat sebuah pesta sedang berlangsung. Aroma odading di goreng yang manis dan menjijikkan menyerbu hidungnya. Di ujung jalan, sebuah band memainkan musik dangdut rock jazz metal k-pop koplo, mengingatkan pada saat Banzeyr ditangkap, ditawan, dan dipaksa hidup tanpa wujud fisik selama seratus tahun.

Kepulan asap mengepul di sekitar sang penyihir, menciptakan pemandangan yang menakutkan saat dia beralih ke seorang gadis sendirian yang bersandar di dinding bata lorong. Sebuah poster yang mengiklankan perayaan seratus tahun kota berkerut di balik lingkaran rambut ikal gelapnya.

Banzeyr berteriak, “Akulah Pangeran Kegelapan Banzeyr Panzeyton, pembawa malapetaka.”

Suaranya bergema di lorong, menenggelamkan suasana pesta. “Aku dipenjara selama seratus tahun, tapi usiaku sudah berabad-abad dan belenggu fana tak mampu menahan—”

“Punten, kamu bilang kamu Banjir Panjeiton?” Gadis itu mengangkat sebelah alisnya yang lebat.

Banzeyr terdiam.

“Ya. Ehem. Aku datang untuk membalas dendam pada keturunan para pendiri Ykaen.”

Dia menjentikkan jubahnya dengan penuh gaya nan gilang gemilang dan menunggu gadis itu berlutut di kakinya mereka memohon pengampunan.

“Abah dan ambu kamu ngasih nama kamu Banjir Panjeiton? Berutal.” Dia mengerutkan hidung dan meneguk minuman bir pletok.

“Kau tak dengar aku, Nak? Aku datang—Ya ampun, berhenti menyeruput. Tidak sopan. Aku sedang membuat pernyataan.”

“Maap.” Gadis itu membiarkan sedotan jatuh dari bibirnya.

Banzeyr menyipitkan matanya menjadi celah hijau yang menyala.

“Sebentar lagi, kalian akan benar-benar menyesal saat aku melenyapkan kota ini dari muka bumi. Kau akan berada di antara mereka yang menderita—”

PING!

Gadis itu mengeluarkan kotak logam kecil dari sakunya dan menelusuri permukaannya dengan jarinya.

“Apa itu?”

Banzeyr melangkah mendekat, melihat sekilas gambar-gambar yang berkelebat bagai sihir di tablet itu. Gadis itu menggigit bibirnya sementara air mata mengancam akan mengalir di pipinya. Dia berbalik, menyembunyikan wajahnya.

“Bagus. Ya, benar sekali. Memang agak terlambat, tapi kau seharusnya menangis ketakutan. Sembunyikan wajahmu, gadis perawan, tapi aku akan menang.”

Isak tangisnya semakin keras.

“Kamu malah bilang aku perawan? Aku sangka aku sama kamu, teh, berteman.”

“Teman? Tidak! Aku bukan—Tunggu. ‘Perawan’ itu pujian, kan?” Banzeyr menyadari bahwa banyak hal telah berubah dalam seabad.

“Kamu mah, sama aja sama tukang buli di sekolah.”

Wajah Banzeyr mendung. Guntur menggelegar di atas kepala meskipun langit malam cerah. Banzeyr membenci tukang buli.

“Apa ini?” tanyanya.

Gadis itu mengangkat kotak perak di tangannya. Sebuah gambar lonthé muda yang membawakan lagu dan tarian tentang Sandra Di terbayang di permukaannya.

“Dan kau Sandra Di?” tanya Banzeyr.

“Sandra,” isaknya. “Kita nonton pelem Grease. Sekarang semua manggil aku Sandra Nodi. Karena…” Wajahnya memerah di bawah bintik-bintik yang bertebaran. “Aku tidak pernah punya di, seperti di—”

“Baiklah,” Banzeyr menyela. “Banzeyr mengerti.”

Air mata Sandra mulai mengalir.

“Mereka membenciku,” bisiknya.

Air matanya mengusik sesuatu yang telah lama terlupakan di hati Banzeyr. Dia teringat saat anak-anak mengejeknya karena tinggi badannya yang tidak umum, menyebutnya lord bambu petung.

“Lalu?” tanya Banzeyr, “Apa yang akan kau lakukan?”

Sandra menarik napas dalam-dalam dan mengangkat dagunya. “Bersikap seolah-olah tidak kenapa-kenapa.”

“Apa? Tidak. Kau harus membalas dendam.”

“Balas dendam?” Mata Sandra terbelalak. “Ambu bilang kalau orang kejam, biasanya mereka sendiri yang menderita.”

Penyihir hitam itu memutar bola matanya.

Benar-benar ucapan seorang ibu.

“Katanya aku harus membunuh mereka dengan kebaikan,” kata Sandra.

“Aku suka bagian pertama.”

“Hah?”

“Bunuh mereka,” geram Banzeyr.

“Kamu tidak boleh gitu aja bunuh orang.”

Sandra mengetuk benda pipih persegi panjang itu. Banzeyr mencondongkan tubuh dan memperhatikan wajah-wajah tertawa dan lambang hati bermunculan.

“Apa yang kau lakukan?”

“Kalau aku tertawa, mungkin aku ikut bercanda,” pintanya saat lebih banyak hati bermunculan.

“Tidak. Berhenti membuat hati. Berhenti sekarang! Banzeyr memerintahkannya.”

Dia merobek persegi panjang pipih itu dari tangan Sandra dan melemparkannya ke dinding bata. Benda itu mendarat dengan bunyi berdentang dan berubah gelap. “Mereka harus mati!”

“Kita tidak bisa membunuh mereka. Itu dosa.”

“Baiklah, tapi kau harus membela diri, Nak. Ketika kau membiarkan orang lain memperlakukanmu dengan buruk, kau mengajari mereka untuk melanjutkan cara-cara jahat mereka.”

Sekelompok remaja berjalan terhuyung-huyung sambil tertawa. Sandra melambaikan tangan dan tersenyum penuh harap ketika seorang anak laki-laki melirik ke arah gang.

Anak laki-laki itu mendengus dan berbalik.

Sandra mendesah.

“Kamu benar juga.”

“Jadi, kita balas dendam?”

“Balas dendam seperti apa?”

“Mereka mengejek kebaikanmu, maka aku akan mengutuk sifilis pada tubuh mereka.” Banzeyr tertawa maniak di tengah malam yang gelap.

Sandra menatap Banzeyr dengan skeptis.

 “Sipilis, mah, gampang diobatin. Cuma bikin malu aja.”

“Aaah.”

Banzeyr mempertimbangkan.

“Kita bisa membuat kuku mereka rontok, membuat mereka muntah ular selama seminggu.”

Sandra tersentak. “Ih, jijiiik!”

“Dengar, aku hanya sedang bertukar pikiran.” Banzeyr memutar bola matanya.

“Kita bisa melempari rumah mereka dengan telur.”

Sandra mendongak, senyum nakal tersungging di bibirnya.

“Mengubah rumah mereka jadi telur?” Banzeyr menggosok-gosokkan tangannya dengan penuh harap.

Sandra menggelengkan kepala. “Bukan. Lempar telur ke rumah mereka. Susah bersihinnya.”

Banzeyr mengangguk. Ini permulaan.

“Kau akan jadi antek yang hebat untuk Pangeran Kegelapan Banzeyr Panzeyton.”

“Kalau gitu, kita berteman?”

“Kita mungkin berteman.”

Banzeyr menendang batu, tiba-tiba merasa malu. Dia tidak ingat apakah dia pernah punya teman.

“Ayo kita ke Kafe Susu Mbok Doremi dan merencanakan balas dendam sambil minum milkshake.”

Sandra merangkul lengan Banzeyr. Asap dari aura Banzeyr menguarg dan menyelimuti dirinya saat keduanya berbalik ke arah musik dan lampu perayaan.

“Rasa apa saja yang mungkin ada?”

“Cokelat Stroberi paporit aku,” jawab Sandra dengan antusias. “Kadang mereka ngijinkan kita bikin setengah-setengah, tapi tergantung siapa yang kerja.”

Mata Banzeyr menyipit. “Oh, mereka akan mengizinkan anak-anak blasteran atau aku akan menimpakan wabah ke rumah mereka.”

Sandra tertawa. “Mungkin kita minta baik-baik aja dulu.”

“Kita bisa minta baik-baik,” Banzeyr menyetujui, “Tapi Lord Banzeyr Panzeyton tidak akan menolak membuat anak-anak blasteran.”

Cikarang, 21 September 2025

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *