Kafe Terakhir
Kafe Terakhir

Kafe Terakhir

Views: 2

Lonceng di puncak Katedral Saint-Sulpice berdentang, mendominasi udara pagi. Ada pemakaman, dan lonceng berdentang selama tiga menit: pertama dalam tiga set, lalu setiap detik, lalu setiap dua menit. Dentang lonceng bergema di jalanan. Menenggelamkan suara turis dan bus, dan turis di dalam bus.

Di sebuah kafe kecil di seberang jalan, duduk seorang pria dan seorang wanita, dan di antara mereka ada dua gelas espresso dan beberapa makanan sarapan. Mereka tidak berbicara, hanya memperhatikan kerumunan yang lewat dan mendengarkan bunyi lonceng berdentang. Ketika bunyi lonceng berakhir, espresso hampir dingin.

Pagi itu cuaca panas, dan espresso mungkin terasa nyaman dalam kondisi seperti itu, jika bukan karena rasa pahitnya. Saat lonceng berhenti berdentang, suara turis yang melongo menggantikannya.

“Ini bukan salahmu,” katanya.

“Benarkah?”

Alun-alun di depan mereka ramai dengan kehidupan, dan matahari merayap di atas lanskap kota, tetapi keheningan menemani kedua pengunjung kafe kecil di Paris itu.

Pria itu menyesap minumannya dan memperhatikan pasangannya memainkan bibir cangkir dengan jarinya. Meja bergerak pelan mengikuti irama kakinya yang gemetar, tetesan-tetesan kecil kopi memercik ke tangannya dan piring di bawah cangkir dan meja—cangkir itu hampir kosong.

“Biar kuambilkan satu lagi,” katanya.

Hening.

Dia memberi isyarat kepada pelayan dan memesan dua espresso lagi. Karena cangkirnya tidak ada, wanita itu memilin-milin rambutnya dengan jari yang sama.

Seorang pemandu wisata berjalan mundur melewati mereka. segerombolan orang yang mengamati mengikutinya, menabrak meja dan warga setempat. Meminta maaf dengan bahasa Prancis terbaik mereka yang berantakan.

Mereka datang bergelombang hingga akhirnya surut seperti laut yang tenang.

Seorang perempuan berkacamata hitam tebal memisahkan diri dari rombongan untuk memotret kafe dan para pelanggannya. Menatap layar di bagian belakang, dia tersenyum mengingat kenangan yang dia abadikan. Momen yang akan abadi di album foto. Kemudian, menyadari bahwa dia sendirian di jalan yang ramai. Dia terus berjalan mencari teman-temannya.

“Aku hanya sedih, itu saja,” kata si wanita akhirnya.

“Katakan padaku bagaimana cara memperbaikinya.”

“Tidak akan bisa.”

“Pasti ada sesuatu—”

“Berhenti.”

Pelayan mereka kembali ke meja dengan dua espresso segar. Dia membungkuk dan meletakkannya di atas meja, memperlihatkan noda keringat di ketiak kemeja putihnya.

Kafe itu menjadi ramai, dan ia punya lebih banyak hal untuk dilakukan daripada sekadar mengisi ulang minuman.

Perempuan itu menyibakkan rambutnya yang terurai ke belakang telinga dan kembali memutar cangkirnya. Dia memperhatikan dengan saksama uap mengepul dari penjara putihnya yang kecil. Betapa bebas rasanya menguap begitu saja.

“Pernahkah kau mendengar tentang kintsugi?” tanya pria itu.

“Apa?”

“Kurasa itu dari Jepang—mangkuk dan vas pecah yang disatukan kembali dengan emas.”

“Aku belum pernah melihatnya.”

Si pria terdiam. Keringat mulai mengucur di dahinya sebelum akhirnya membasahi kedua sisi wajahnya.

“Kamu tahu aku tak bisa mencintaimu,” kata si wanita.

“Aku tahu.”

Si pria menatap sekumpulan wajah asing di dekatnya, masing-masing semakin asing. Dia menyesap minumannya hingga habis, menikmati rasa hangat dan pahitnya. Matanya bertemu dengan mata wanita itu, hangat dan biru seperti air musim panas. Dia tersenyum. Wanita itu mengalihkan pandangannya.

“Aku haus naik kereta berikutnya,” katan si wanita.

“Kamu mau ke mana?”

Wanita itu berdiri dari meja dan mengambil dompetnya, menyisakan empat euro untuk mereka berdua. Pelayan menarik koin-koin itu sambil berlalu.

“Beograd, Berlin, Boston, Budapest. Siapa tahu.”

Di pergi ke Metro dengan senyum kecil perpisahan, sementara pria itu duduk sendirian. Cangkirnya kosong, cangkir si wanita penuh.

Dalam sekejap, si wanita terhanyut dalam lautan wajah-wajah asing. Hanya wajah wanita itu yang dia kenal.

Kereta datang dan pergi, dan wanita itu pun lenyap.

Si pria menunggu lonceng katedral berdentang sekali lagi, tetapi tak jua kunjung berbunyi.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *