Dia membuka pintu, berdiri di sana sejenak sebelum menyalakan lampu. Di dinding seberang, di seberang pintu, dia melihat foto Jane Russell.
Melangkah masuk ke kamar, dia kemudian meletakkan tas dan mawar-mawar itu di atas tempat tidur. Tas itu berat, dan dia tak semuda dulu.
Lengannya terasa sakit.
Ia berjalan mengitari tempat tidur Kamar 137 dan berdiri di depan foto. Jane kini telah tiada, tetapi dia ingat pernah menontonnya di bioskop Sabtu sore ketika dia masih kecil.
Jane begitu cantik. Begitu anggun.
Dia memandangi foto itu sejenak lebih lama, lalu beralih ke tas di atas tempat tidur.
Dia membungkuk dan batuk yang hebat mengguncang tubuhnya dan membakar tenggorokannya. Sesaat kemudian, batuk itu berlalu, tetapi dadanya terasa sakit karena kelelahan.
Kanker telah menggerogotinya hingga menjadi manusia seramping tongkat. Dokter telah memvonisnya enam bulan untuk hidup lebih dari delapan bulan yang lalu. Dia hidup dengan waktu pinjaman.
Dia membuka tas itu dan mengeluarkan keempat tripod. Memasang mekanisme pada tripod dan meletakkannya di keempat sudut ruangan. Setelah selesai, dia duduk di tempat tidur dengan terengah-engah, dan memandangi foto Jane Russell di dinding.
“Sampai jumpa,” katanya.
Dia telah menjalani hidup yang panjang dan kaya, tetapi waktunya telah berakhir. Pada masanya, dia dianggap sebagai salah satu fisikawan terbaik di dunia. Setelah pensiun, dia mengalihkan perhatiannya pada konsep perjalanan waktu.
Dia memegang remote control di tangannya yang berkeringat.
Haruskah aku? pikirnya.
Dia terkekeh.
Apa ruginya? Kemungkinan besar aku akan mati besok.
Itu adalah kenyataan yang mengerikan.
Dia memandangi remote control. Tak pernah beristri, tak pernah punya anak. Dia sendirian di dunia ini, hanya ditemani perpustakaan video film-film Jane Russell seperti The Outlaw dan Hot Blood.
Dia telah menonton semuanya ratusan kali dan, dengan caranya sendiri, dia mencintai Jane Russell.
Tapi, akankah Jane mengerti?
Dia berharap begitu.
Dia mengulurkan tangan dan mengambil buket mawar. Dia tahu bahwa Jane Russell cantik. Bahwa para pria tergila-gila padanya.
Dia memutuskan untuk menulis catatan dan meninggalkannya bersama mawar itu, di samping tempat tidurnya. Dia tak ingin menjadi beban.
Dia pergi ke meja dan menulis catatan, menulis ulang berkali-kali hingga dia puas. Dia melipat catatan itu dan menyelipkannya di antara mawar-mawar, lalu berdiri di samping meja, berharap tak ada benda fisik yang menempati ruang itu pada tahun 1986 ketika Jane bermalam di sana.
Dia menarik napas dalam-dalam dan menekan tombol remote.
Itu bukan kilatan cahaya terang, bukan terowongan warna-warni yang berputar. Itu semua adalah kemewahan Hollywood. Melainkan, itu seperti kedipan mata.
Sesaat, dia berdiri di kamar hotel pada tahun 2019, saat berikutnya, dia berada di sana pada tahun 1986.
Suasana ruangan itu gelap, tetapi dia bisa mendengar napas pelan.
Jane tertidur.
Matanya menyesuaikan diri dan dia melihat Jane berbaring di sana. Sendirian, seperti dirinya.
Dia berdiri di sana beberapa saat.
Lalu, ketika dia tahu dia tak bisa tinggal lebih lama lagi, dia meletakkan bunga-bunga di samping tempat tidurnya.
***
Tim kebersihan menemukannya keesokan paginya di tempat tidur, dengan setangkai mawar di tangannya. Dia meninggal di tengah malam dengan foto Jane Russell di sampingnya.
Tak seorang pun menyadari bahwa di dalam foto itu, Jane Russell kini memegang mawar.
Cikarang, 15 Oktober 2025

