Sepotong Ratu Hati Merah 01
Sepotong Ratu Hati Merah 01

Sepotong Hati Ratu Merah

Views: 5

Apa pun bisa diperjualbelikan di Pasar Malam.

Selusin lidah burung murai batu melingkar seperti siput kecil, berlumur madu dan minyak cabai, dan disajikan di atas nampan perak. Nyanyian putri duyung, terekam dalam botol kaca antik berasap. Belati berkilau yang diukir dari gading paus unicorn terakhir. Gaun cahaya bulan dan kabut, berhias renda busa laut. Buku harian masa muda yang hilang. Wahyu para nabi palsu, puisi para wali. Sepasang kacamata yang memungkinkan seseorang mengintip menembus debu kosmik dan tirai Waktu.

Apa pun bisa diperjualbelikan.

Mata uang yang tak terhitung jumlahnya berpindah tangan. Dana dipertukarkan melalui transfer elektronik, sihir termutakhir, dan hanya dengan pikiran. Tapi aku tidak menjual atau membeli. Tidak.

Aku menerima apa yang ditawarkan.

Aku menyimpan persembahan dalam kepercayaan, dalam penjagaan yang aman. Dan ketika waktunya tepat—jika diminta—aku akan mengembalikannya.

Tak semua orang cukup berani untuk meminta kembali milik mereka.

Malam ini, aku menyaksikan dari sudut Pasar yang gelap, dari lapakku yang biasa saja. Kerumunan membanjiri senja. Bulan sabit keperakan di atas menggantung.

Dia telah mencariku, mengikuti pergerakan Pasar Malam di antara dunia-dunia. Aku merasakan tarikan halus panggilannya. Tarikannya pada apa yang berdenyut di dalam kotak di dekat tanganku.

Di sinilah dia sekarang. Baru saja melangkah ke halaman ini, sudut Pasar yang terpencil ini, jauh dari gemerlap dan hiruk pikuk pertunjukan utama. Seorang perempuan mungil berjubah abu-abu kusam, tudungnya ditarik rendah. Tak ada jejak rok cerahnya yang biasa, sutra merah tua yang terkenal, dan brokat yang mewah.

Ratu Merah. Atau lebih tepatnya, dia yang dulu dikenal sebagai Ratu Merah. Permaisuri Dunia, Penghancur Nebula. Dia yang memimpin Armada Teratai Salju yang legendaris, yang menaklukkan dan membebaskan dunia dengan api dan es. Ratu yang Bercahaya, Penguasa Bermahkota Bintang, Mutiara Malam. Dia mengangkat kepalanya dan menatap mataku, dan yang kulihat hanyalah seorang gadis kecil yang ketakutan.

***

Bertahun-tahun yang lalu, aku bertemu dengannya di kota yang diguyur hujan beracun dan berkabut tebal. Pasar Malam itu langka dari malam yang cerah.

Dia datang tepat ke lapakku, seorang anak kecil. Baru berusia dua belas tahun. Kepalanya tegak, matanya ketakutan namun penuh tekad. Dia tahu apa yang diinginkannya.

Dia telah melakukan semampunya sendiri. Dia telah membentengi dirinya, menguatkan dirinya dari dalam. Menyempurnakan tatapan dingin, aura yaang berkata jangan-coba-coba-sentuh-aku. Mengabaikan ejekan dan hinaan di jalanan, terdiam di tengah omelan dan pukulan, dan lebih buruk lagi di rumah. Belajar menelan isak tangisnya. Membiasakan diri sebaik mungkin dengan dingin dan kengerian dunianya.

Itu belum cukup.

Aku mengulurkan tanganku, dan dia memberikannya kepadaku: potongan lembut pertama dari hatinya yang telah terluka.

***

Banyak pelangganku telah mencapai puncak karier mereka, seiring mereka mengukur hal-hal tersebut. Hanya sedikit yang mencapai puncak karier Ratu Merah.

Dia paling sering datang kepadaku di tahun-tahun pertama, menukar serpihan hatinya dengan logam dan es. Pada usia empat belas tahun, dia bergabung dengan Pasukan Galaksi Cahaya, berniat melarikan diri. Bakatnya diakui, dan dia dikirim untuk pelatihan khusus. Untuk pendidikan yang layak. Dia memaksakan diri tanpa henti, mengabaikan istirahat dan tidur. Haus akan prestasi, akan remah-remah penegasan pertama. Dia naik pangkat. Diberi unitnya sendiri untuk dikomandoi. Dipromosikan, dan dipromosikan lagi.

Dia datang kepadaku ketika rekan pertamanya gugur. Ketika prajurit pertama gugur di bawah komandonya. Ketika dia harus menguatkan diri untuk menghancurkan rumah dan kehidupan yang tak berdosa.

Serpihan hatinya yang hangat. Aku membantu melindunginya, sama seperti mentor dan sponsornya. Aku menyimpan serpihan hatinya tetap hidup, dalam kotak berlapis sutra. Dan dia menutup lubang-lubang yang terbentuk di dadanya dengan besi dan es.

***

Ratu Merah itu kejam dan tak kenal ampun, begitulah kata cerita-cerita itu, dan memang benar.

Ratu Merah adalah penyelamat kita yang penuh kasih, begitulah kata orang lain, dan mereka juga benar.

Dia baik hati ketika dia merasa mampu. Dia kejam ketika dia merasa perlu.

Dalam permainan politik dan perang, bertahan hidup adalah hadiah terbesar.

Dia mempelajari seluk-beluk politik Istana Galaksi. Dia mengamati pergeseran kesetiaan, kebohongan, dan intrik rahasia. Nasib para jenderal lain yang terlalu tinggi, yang mengancam kekuasaan Kaisar. Dia belajar menyanjung, menjilat, dan bersembunyi jika diperlukan. Dan ketika kesempatan itu datang, dia memanfaatkannya dengan kejam.

Mengkhianati atau dikhianati. Bertahan hidup, atau mati.

Miliaran orang berbondong-bondong ke panjinya, ke pasukan pemberontak barunya. Dia menjanjikan era baru, akhir dari korupsi kekaisaran lama. Kata-katanya yang penuh semangat, yang disiarkan ke seluruh galaksi, membuat para pengikutnya heboh. Terkadang, dia bahkan memercayainya sendiri.

***

Keajaiban memenuhi Pasar Malam.

Di lapak sebelah, ada seorang pria yang akan mengukir seluruh kisah hidupmu di atas sebutir beras. Ada buku-buku yang dijahit dengan bulu gagak, yang terbuka dan berbicara dengan suara orang mati. Ada peramal yang melempar lidi untuk meramal nasibmu, dan Kura-Kura Besar yang memanaskan dan memecahkan cangkangnya sendiri untuk meramal masa depan dari pola bekas retakan.

Ada kisah-kisah yang terekam dalam berbagai bentuk media—dikodekan dalam muatan listrik, digoreskan pada bilah bambu dan daun lontar, dilukis di atas kertas dan sutra, dan banyak lagi. Ada kisah-kisah yang berdenyut di dalam kotak-kotak di lapakku. Rahasia yang berdetak di dalam hati yang tersembunyi.

Aku membisikkan kisah-kisah ini pada diriku sendiri. Rahasia pada udara malam, dengan suara yang tak dapat didengar manusia. Dan terkadang aku membuka kotak dan mencondongkan wajahku ke dalamnya. Aku mengingatkan serpihan-serpihan yang berdenyut ini tentang dari mana mereka berasal. Tentang siapa mereka dulu dan sekarang, dan tentang apa yang mungkin mereka capai.

***

Lama sebelum dia meminta kembali kepingan pertama.

Sementara itu, dia menghancurkan setiap dunia yang melawan. Dia meruntuhkan sebuah kekaisaran dan membangunnya kembali. Mengukir dunia damai yang baru. Setiap langkah menyeretnya mengarungi lautan darah dan pengorbanan, penderitaan bercampur kegembiraan. Namanya bagaikan doa di bibir yang tak terhitung jumlahnya, melayang ke langit dalam kepulan dupa.

Musuh-musuhnya mati di hadapannya. Hancur, hilang, atau berpihak padanya.

Ratu Merah Perang menjadi Ratu Merah Perdamaian, meraih kejayaan demi kejayaan, gemilang dalam nuansa merah tua dan api. Taman-taman bermekaran di dunia gurun. Para ilmuwan mendobrak batas-batas pengetahuan. Para seniman mencapai puncak baru dalam puisi, lagu, seni visual, dan banyak lagi. Stabilitas di seluruh kekaisarannya. Kemakmuran.

Di sana, dia memberi tahu gadis kecil yang ketakutan dari jalanan tentang planet yang dieksploitasi, miskin, dan beracun.

Kau aman. Kau menang.

Namun gadis kecil itu tak pernah sepenuhnya mempercayainya.

Sesekali, di antara kotak-kotakku, aku merasakan gerakan darinya. Sebuah desakan, sebuah bisikan.

Tarikan benang tak kasat mata. Sebuah panggilan tajam dan hening.

Sang Ratu Merah merindukan apa yang telah sia korbankan, memanggil dari jarak yang tak terhingga. Potongan-potongan hati dalam perawatanku merespons, berdetak penuh harap. Dan kemudian potongan-potongan ini melambat saat panggilan itu terdiam, saat jarak menjadi terlalu jauh. Saat Sang Ratu mengalihkan perhatiannya ke tempat lain.

***

Suatu malam musim panas yang lembut ketika dia akhirnya kembali padaku, rok merahnya tersembunyi di balik jubah putih tipis. Berabad-abad telah berlalu sejak terakhir kali kami bertemu, tetapi perawatan dan mantra awet muda yang terbaik dan termahal membuatnya tampak tak lebih tua dari tiga puluh tahun.

Wajah dan sikapnya terkendali sempurna. Kecantikan kristal yang terkenal itu, tercipta dari operasi, sihir, dan tekad. Geraian jubah putihnya, keanggunannya. Namun aku bisa merasakan debaran liar dari apa yang masih hidup di dadanya. Aku bisa merasakan betapa dadanya rindu untuk utuh.

Suaranya bergetar saat berbicara, sedikit saja.

Dia adalah seorang Ratu yang bimbang di ambang masa pensiun. Sebuah sistem pemerintahan baru siap menggantikannya, praktis dan adil. Orang-orang yang dia percayai untuk melanjutkan pekerjaannya. Dia telah menciptakan kembali bintang-bintang, dan setelah darah tumpah dia telah membawa kedamaian. Dia tahu dosa-dosanya, namun diam-diam masih berharap akan penebusan.

Dia memimpikan kehidupan yang tenang dan pribadi. Sebuah taman bertembok, suara air mengalir. Aroma bunga jeruk dan melati, di bawah bintang-bintang putih.

Dan seseorang bersamanya di taman itu. Seseorang yang telah lama dikenalnya. Seseorang yang dia pikir mungkin berani dia cintai sepenuhnya.

Kamu aman, kata Ratu pada dirinya sendiri.

Dia mencoba mempercayainya.

Dia berbicara kepadaku, dan aku mengangguk lalu meraih kotak polosnya yang berpernis. Aku mengulurkannya.

Dia memegangnya di tangannya, merasakan debaran dari apa yang ada di dalamnya. Kerinduan dan ketakutan berpadu sempurna dalam dirinya. Dia menggigit bibir dan berdiri di depan bilikku untuk waktu yang sangat lama.

Akhirnya, dia mengembalikan kotak itu. Dia tak bisa mengambil kembali kepingan pertama hatinya. Tidak saat itu.

Namun sesuatu telah berubah. Sebuah kemungkinan lahir.

Kotak itu mengingat kehangatan tangannya. Kepingan-kepingan di dalamnya tahu panggilan rumah mereka. Dan dari kejauhan, hati di dadanya—semacam tambalan besi dan daging, hangat dan dingin—merasakan, betapapun samarnya, bagaimana rasanya menjadi utuh.

Suatu malam, hanya satu dasawarsa kemudian, dia siap. Dia kembali. Kali ini, dia mengambil kembali kepingan pertama yang hilang itu.

***

Di sinilah ia lagi, sekarang.

Ia kembali sesekali—setiap beberapa dasawaarsa, atau setiap beberapa tahun. Awalnya dia tak menyadari berapa banyak kepingan yang telah dia berikan. Berapa banyak kepingan yang harus diambil kembali.

Di sinilah dia, masih ketakutan setelah sekian kali kunjungan. Sulit setiap kali menyadari bahwa masih ada yang kurang. Sebuah lubang, sebuah ketiadaan, di mana kamu pikir semuanya kokoh utuh. Sebuah dinding pelindung yang lenyap, menampakkan kekosongan.

“Dia sangat mirip denganmu,” kataku padanya tentang putri remajanya. Putri itu—yang tertua—adalah yang paling utama dalam pikirannya sekarang.

Dia tersenyum kecut padaku. Jantungnya berdebar kencang di tengah kekhawatiran dan ketakutannya.

Seorang putri yang dibesarkan dalam kenyamanan, keamanan, dan kasih sayang. Segala yang dia sendiri kurang mendapatkancsemasa kecil. Seorang putri yang memiliki segalanya. Bagaimana mungkin dia meminta lebih? Bagaimana mungkin dia, beraninya dia, atas hak apa putri ini meminta, menuntut, mengharapkan, membutuhkan—

Membutuhkan seluruh kasih sayang ibunya. Seluruh hati ibunya. Hati yang dikira sang Ratu telah pulih. Telah sembuh. Namun dia terus menemukan bahwa dia salah: bahwa masih ada lebih banyak kelembutan, lebih banyak kerentanan yang harus ditemukan. Perisai yang terkelupas berlapis-lapis. Dia pikir dia telah berbagi seluruh hatinya sebelumnya: ketika dia berjanji pada kekasihnya, ketika anak-anak mereka lahir. Ketika anak-anak mereka masih kecil. Tuntutan untuk sekadar menjalani hidup, setenang mungkin. Namun di setiap tahap dia menemukan tuntutan baru, kebutuhan baru. Dan kenangan duka yang segar—untuk masa lalunya, dan hatinya yang retak.

Tapi dia di sini sekarang. Bersedia mengambil kembali sepotong lagi. Dengan segala rasa sakit yang menyertainya.

Kuserahkan kotak itu padanya.

***

Apa pun hampir bisa dibeli atau dijual di Pasar Malam. Ramuan untuk dilupakan. Ramuan untuk dikenang. Aroma buah persik matang dari kebun yang telah lama hilang di planet yang telah lama musnah.

Hujan beracun yang jatuh di malam hari di atap bergelombang yang berkarat. Berbagai aroma ketakutan. Kelembutan bulu burung hantu kecil. Cahaya bintang yang sekarat terperangkap dalam liontin kristal. Kode untuk neurotoksin yang ditargetkan untuk membunuh seseorang yang pernah kamu cintai.

Masih ada hal-hal yang tak bisa dibeli atau dijual.

Aku duduk di bilikku, dan aku menunggu mereka yang ingin aku jaga hatinya. Aku menunggu lebih lama lagi untuk mereka kembali.

Ratuku yang dulu beruntung. Sebelum dia kembali padaku, dia telah hidup berabad-abad lebih lama daripada kebanyakan manusia. Seabad untuk menaklukkan sebuah kekaisaran dan membangun kekuasaannya. Berabad-abad lagi untuk menemukan kedamaian. Untuk berjuang dan menyembuhkan. Untuk berubah, bersama dunianya.

Ketika dia berbalik meninggalkanku kali ini, kami mendengar gosip bertebaran dari lapak sebelah. Sebuah referensi tentang faksi yang pernah dibasmi Ratu. Spekulasi tentang di mana Ratu Merah tinggal sekarang, ke dunia tersembunyi mana dia berlindung, dan dengan siapa.

Kulihat sekilas senyum dingin di bibirnya. Secercah kekejaman Sang Penghancur Bintang. Dia masih akan membunuh tanpa ampun siapa pun yang melanggar batas wilayahnya. Yang mengancam nyawanya, atau nyawa orang-orang yang dicintainya.

Dia memelukku, lalu pergi.

***

Kutulis kata-kata ini di atas asap, di atas sutra laut yang kubeli dari pedagang beberapa lapak di bawah. Suatu hari nanti, mungkin aku akan membagikan kata-kata ini. Ketika semua orang yang disebutkan dalam gulungan ini telah lama mati. Ketika semua cahaya di sektor alam semesta ini telah padam.

Kamu mungkin bertanya-tanya, pembaca masa depan, tentang kisah ini. Dan tentang kisah-kisah lain yang kumiliki, dari semua hati yang pernah kukenal.

Ketahuilah ini: ada satu keping yang tak pernah didapatkan kembali oleh Ratu. Takkan pernah didapatkan kembali. Dia tak bisa, karena aku tak memilikinya dalam penjagaanku.

Itu adalah keping pertama yang diserahkan setiap manusia, bahkan sebelum mereka memiliki kata-kata. Keping pertama yang kamu tukarkan dengan baju zirah dingin. Kamu lakukan ini, karena kalau tidak, keberadaan itu sendiri akan menghancurkanmu. Kamu menyerahkan keping hatimu ini untuk bertahan hidup.

Aku tak tahu siapa yang mengambil keping-keping ini. Aku tak tahu apa yang terjadi pada mereka—kalau mereka terus berdetak, di suatu tempat. Kalau ada Pasar di luar pasar ini, dengan keajaiban yang bahkan tak terpahami oleh Pasar Malam, di mana keping-keping yang hilang ini masih bisa ditemukan.

TAMAT

Bandung, 21 Agustus 2025

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *