Pernahkah kamu bertemu seseorang yang kamu tahu menyembunyikan rahasia gelap yang sangat dalam? Seperti dia telah membunuh seseorang di negara lain, dan mereka melarikan diri ke negara kita? Atau ketika dia selalu punya aura seperti itu di sekitarnya, seperti dia bisa mematahkan leher kamu kalau kamu berpaling terlalu lama?
Bagaimana dengan mata-mata super? Apakah kamu kenal seseorang seperti itu? Seseorang yang kebetulan menyelamatkan negara dengan melakukan pekerjaan mata-mata super rahasia, lalu menjadi guru sebagai penyamarannya?
Itulah Bu Thalea, si mata-mata super.
Aku mulai mencurigainya di kelas sebelas ketika dia mengisyaratkan hal itu dengan bercanda di salah satu ceritanya. Dia sepertinya selalu punya waktu untuk menyelinapkan cerita setiap hari, dan setiap cerita menambah kecurigaanku. Tentu saja, aku hanya berpikir aku menambah diriku ke dalam daftar statistik “orang pintar-pintar-bodoh” dan menyingkirkan semua teori konspirasiku … sampai aku bertemu dengannya lagi di tahun ketiga. Saat itulah teori-teori bertebaran bak bendera partai dan wajah caleg saat kampanye pemilu.
Sahabatku, Jacinta, dan aku menyatukan ide-ide kami dan bertemu di satu titik: Bu Thalea adalah mata-mata super. Dari mobil mata-mata supernya, mobil silver ramping dengan jendela gelap, hingga pakaian profesional yang menonjolkan superioritasnya, kami tahu dia menyembunyikan sesuatu. Tentu saja, kami tidak bisa begitu saja mengatakan bahwa kami tahu rahasianya. Kami harus berhati-hati. Kami meninggalkan petunjuk pura-pura tentang apa yang kami ketahui dan bahkan membuat daftar semua alasan mengapa dia adalah mata-mata super, tetapi ada hal-hal yang bahkan tidak berani kami sebutkan.
Bu Thalea, sang mata-mata super, bertugas sebagai agen Badan Intelijen di Cina, Rusia, India, Iran, dan Suriname. Dia pernah ‘ditahan’ karena berkonspirasi sebagai anggota geng Anargadis, faksi khusus dalam kelompok ekstremis Anarkonda. Meskipun tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa dia sebenarnya Olga Wong, agen ganda yang mencabik-cabik manusia dan merampok bank, kita semua tahu itu dia.
Apalagi sertifikat dari Departemen Pertahanan yang memujinya atas ‘metode dan dedikasi pengajarannya’. Kecurigaan kami membuat kami percaya bahwa itu sebenarnya untuk sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan mata-mata yang luar biasa.
Bu Thalea tidak punya sidik jari. Kamu bisa bayangin punya guru tanpa sidik jari? Dia bisa membunuh kita semua dan tidak pernah tertangkap! Tapi, tentu saja, dia tidak akan melakukannya karena dia seorang mata-mata. Badan Riset terlibat dalam cerita itu. Mereka memindai jarinya dengan laser dan peralatan mata-mata supersonik yang membuatnya menjadi agen, dan sekarang dia tidak punya sidik jari karenanya.
Bu Thalea adalah salah satu guru yang bisa menyelinap masuk apa saja. Dia bisa tiba di belakangmu dan berkata, “Hai,” tanpa kamu sadari, lalu muncul di seberang ruangan sedetik kemudian. Kalau kita tidak tahu dia mata-mata super, aku berani bersumpah dia itu seorang ninja. Serius, aku belum pernah melihatnya tanpa pakaian berwarna hitam. Aku hanya menunggu dia muncul dengan topeng hitam dan katana untuk memenggal kepala para penjahat.
Sayangnya, kalau aku melihat itu, kalian tak akan pernah mendengar apa-apa dariku lagi. Kurasa itu ada hubungannya dengan, “Kalau aku katakan padamu, aku harus membunuhmu,” itu.
Kalau itu belum cukup menakutkan, bayangkan seorang guru yang selama tiga tahun siap menghabisi kamu kalau kamu tidak bisa menjaga rahasianya!
Tentu saja, hidupku tidak benar-benar dalam bahaya, karena sebenarnya, dia tak akan pernah memberitahuku rahasianya.
Tapi aku tahu. Aku selalu tahu.
***
Semuanya berawal di kelas sebelas ketika dia bercanda dengan murid-muridnya di kelasku bahwa murid-muridnya selalu mengira dia agen rahasia. Aku akhirnya menyadari bahwa dia sebenarnya menantang murid-muridnya yang pintar atau sok pintar untuk menggertaknya. Atau menaikkan taruhannya? Cukup dengan plesetan dramatis Macao dan Monaco.
Aku menghabiskan waktu di komputer rumah mencari nama ‘Thalea Chandra’ di Google dan tidak menemukan apa pun, tetapi itu tidak menghentikanku. Waktunya mencari Geng Anarkonda di Google, dan saat itulah aku menyadari kebenarannya. Bu Thalea bukan sekadar agen rahasia. Dia adalah mata-mata super rahasia, yang disumpah untuk menjunjung tinggi dan melindungi kedaulatan bangsa dan negara, termasuk negara lain yang tergabung dalam ASEAN!
Kedengarannya seperti pahlawan super, bukan?
Tepat seperti yang aku maksud. Meski tidak mempunyai kemampuan terbang dan kekuatan super, dia adalah pahlawan modern bagi umat manusia.
Dia pernah menghentikan kartel narkoba ilegal di Myanmar yang membentang hingga ke Jazirah Arab, dan menjatuhkan seorang diktator di tempat yang sekarang dikenal sebagai Republik Lengkuas. Tidak percaya? Cari di Google! Informasinya ada di sana! Meskipun aku tidak bisa melepaskan semua detailnya, intinya, Bu Thalea adalah mata-mata super.
Tahukah kalian bahwa aku belum pernah bertemu suaminya? Setelah tiga tahun, suaminya, di tengah masa mudanya yang mulai menua, masih bisa menghindariku.
Sudah saatnya aku melakukan pekerjaan mata-mata sendiri. aku melacak Toyota GR 86 Coupe miliknya, salah satu dari… oh, entahlah… 25 – 100 mobil yang sama di Ibu Kota. Butuh waktu sepuluh hari, tetapi akhirnya aku menemukannya. Dengan memasang perangkat GPS global di mobilnya, saya mengikuti ke mana pun dia pergi, dan seperti yang aku takutkan, dia berhenti di markas rahasia Badan Intelijen di Jonggol. Siapa sangka? Seorang mata-mata super menikahi mata-mata super!
Aku tertawa terbahak-bahak. Akhirnya aku berhasil mendapatkan bukti yang membenarkan kecurigaanku terhadap rahasia Bu Thalea. Sayangnya, aku kebingungan.
Aku tiga jam dari rumah dan satu menit lagi dari markas rahasia Badan Intelijen yang menjulang tinggi.
Saatnya LARIII!
Terlambat. Tepat saat aku memutar sepeda motorku, aku dikepung oleh beberapa SUV hitam besar dengan sirene halus yang ditanam di dalam bodi mobil. Tentu saja kebodohankulah yang menyebabkan kematianku.
Kenapa aku tidak sadar kalau mata-mata super tahu ada GPS yang terpasang di mobilnya?
Tak ada yang lebih menakutkan daripada menatap laras dua puluh pistol, sepuluh senapan mesin ringan, dan dua belas senapan serbu otomatis penuh.
Kurasa salah satu dari mereka berteriak seperti, “Tiarap!” tapi tak banyak gunanya. iran kental tempatku meleleh sudah sedekat mungkin dengan tanah.
Entah karena ketampananku, atau karena keberuntunganku mengenal Bu Thalea, mereka membiarkanku pergi setelah menginterogasiku selama dua jam tujuh belas menit, menghujaniku dengan tuduhan, dan bersumpah akan menculik anak sulungku kelak.
Bu Thalea masuk beberapa menit kemudian, dengan senyum di wajahnya.
Apa yang membuatnya tersenyum? Membayangkan membunuhku karena aku tahu rahasianya? Atau bagaimana kalau itu sesuatu yang lebih serius … seperti mereka akan mencuci otakku agar berpikir dia memeluk beruang panda dan membuatku percaya beruang itu jahat! Mungkin mereka sudah mencuci otakku, karena aku sedang memikirkan beberapa alasan yang cukup abstrak untuk membuatnya tersenyum.
Dia duduk di depanku, dan mulai dengan pertaanyaan klise, ‘Apa yang kamu tahu adalah masalah Keamanan Negara’.
Kamu tahu, seperti yang kamu lihat di film-film yang membuatmu tegang, tetapi telah diulang begitu sering sehingga kamu hanya memutar bola matamu. Bayangkan, guruku, mata-mata super itu, akan memberiku pengarahan tentang apa yang sekarang kuketahui sebagai salah satu rahasia terbesar negara.
Aku hanya menunggu dia mengatakan kalimat klise berikutnya yang muncul di kepalaku. Kita semua tahu apa yang kubicarakan, omong kosong mata-mata khas ‘sekarang setelah kukatakan padamu, aku harus membunuhmu’.
Tapi dia tidak melakukannya. Dia bahkan tidak mengisyaratkannya. Dia hanya bangkit, berjalan keluar ruangan, dan kemudian tiga pria berjas hitam ramping masuk. Sekarang mereka membawa pistol Glock di rompi mereka, atau mereka sangat senang melihatku. Bagaimanapun, mereka sedang bersiap-siap.
Mereka mengantarku ke mobil dan meninggalkanku di pinggir jalan sepi , tetapi mereka memperingatkanku bahwa kalau mereka melihatku di dekat markas lagi, aku akan langsung dibunuh. Tentu saja, mendengar itu, aku perlahan berjalan ke motorku. Sambil memperhatikan tangan mereka dengan saksama, menunggu mereka menyerang seperti ular yang menyemburkan peluru ke arahku, aku menyalakan mesin motorku.
“Ingat,” kataku pada diri sendiri, “Mereka lebih takut padamu daripada kamu takut pada mereka… TIDAK! Mulailah menangis dan berdoa agar mereka tidak membunuhmu!”
“Tenanglah, Bung!” teriak sebagian sisi cerdasku.
“Aku akan mati. Aku tahu rahasia mereka, dan sekarang mereka tak akan membiarkanku hidup. Mereka akan mengirimku ke Penjara Nusakambangan dan menyiksaku. Aku tak akan tahu siapa aku atau berapa jariku, mungkin tak ada karena mereka akan memotongnya!”
Entah bagaimana, aku tetap tenang, dan pulang, mengikuti batas kecepatan maksimum selama tiga jam. Aku tahu mereka punya semacam satelit yang melacakku, menunggu aku melanggar hukum agar mereka punya alasan untuk memotong jariku dan menggelitikku dengan bulu-bulu yang dicabut dari kemoceng.
Oh, tidak! Jangan siksaan digelitik dengan bulu!
Aku menggigil, tahu nasibku sudah ditentukan dan aku ditakdirkan, tetapi aku tak bisa berhenti memikirkan kejadian beberapa minggu terakhir.
Awalnya, yang terpikir olehku ini hanyalah khayalan surealis. Ternyata kecurigaanku benar! Bu Thalea ternyata mata-mata super!
Wah.
Minggu berlalu tanpa masalah apa pun, kecuali sesekali pria berjas hitam menatap tajam ke arahku melalui kacamata hitam arang mereka, berbisik pelan pada diri mereka sendiri … atau kepada seratus mata-mata lain yang mengarahkan senapan kaliber lima puluh mereka padaku. Tapi, secara keseluruhan, cukup lancar.
Hari Senin yang akan membuatmu terkena serangan jantung. Berjalan menyusuri lorong-lorong, mengetahui apa yang tidak diketahui orang lain.
Guruku adalah mata-mata super. AAAHH!
Aku tidak bisa bernapas. Aku merasa seperti baru saja berlari maraton yaang disponsori minum energi. Seragam putih abu-abu basah kuyup oleh tetesan keringat rasa biskuit asin ketika aku berjalan menuju kelasnya. Waktu yang ditentukan oleh takdir datang, dan ketika kulitku terbakar ketika menyentuh gagang pintu yang putih panas, dia menyambutku di tengah jalan dengan sapaan singkat, “Halo.”
Aku tahu yang tidak seorang pun akan pernah tahu bahwa Bu Thalea, si ninja, sebenarnya adalah mata-mata super. Dan, kalau saja tidak karena ancaman akan leherku akan dikalungin ususku sendiri seperti peraih medali Olimpiade, aku tidak akan ragu lagi untuk mengatakan yang sebenarnya kepada kamu.
Cikarang, 11 Agustus 2025

