PENJAGA RAHASIA
PENJAGA RAHASIA

Penjaga Rahasia

Views: 10

Kita tahu bagaimana kisah ini berlanjut: di dalam rahim, gadis itu dicium oleh iblis. Ketika dia muncul ke dunia yang terlalu terang benderang, dia kehilangan separuh wajahnya karena gigi iblis merobeknya.

Para dokter melakukan yang terbaik. Mereka mencangkok kulit di sisi kiri, menambahkan kolagen di pipinya.

“Tersenyumlah,” kata mereka, menggelitik kakinya. Tapi dia tidak bisa tersenyum, maka tak seorang pun tersenyum padanya.

Seorang gadis seharusnya cantik. Seorang gadis seharusnya memiliki pipi merah merona dan tawa yang membuat para pria ingin membayangkan masa depannya yang cerah. Seorang gadis cantik akan memiliki kehidupan yang indah. Seorang gadis jelek menyelinap tanpa diketahui melalui pintu-pintu rahasia.

Gadis itu selalu pandai menemukan rahasia. Dia bahkan lebih pandai menyimpannya.

***

Seorang gadis jelek melakukan apa pun yang dia bisa untuk bertahan hidup. Dia terlempar ke dunia jerawat, busa penyumpal bra, dan rok mini, tetapi semua itu tak berarti apa-apa ketika wajahnya seperti bangkai yang terlindas. Ketika dia tertangkap basah menatap wajah-wajah lain di ruang ganti—bersemangat untuk berlama-lama pada apa yang tidak dia miliki—minatnya disalahartikan di dunia yang terobsesi menamai sesuatu. Namun gadis ini sudah punya banyak nama: Erika, awalnya, lalu hantu, nama yang diberikan untuk kulitnya yang pucat pasi dan mengerikan setelah dicangkok.

Seorang gadis hantu menangis mengenang tahun pertamanya di SMA, mendengarkan lagu lama Patti Smith tahun 1976—”Pissing in a River”—dan berharap seseorang akan memeluknya dan membawanya ke rumah tempat ratusan gadis hantu seperti dirinya. Ketika dia menyadari tak seorang pun datang, dia menatap cermin begitu lama hingga wajahnya berubah menjadi sesuatu yang indah.

Dia berubah.

Dia mengalihkan pandangannya. Dia harus berubah.

Dia mencari rahasia seperti bayangan mencari objeknya. Hingga dia menemukan rahasia bayangan itu. Hingga dia tahu bagaimana menjadi bayangan ketika dia membutuhkannya.

***

Boncengan motor pertama, cinta pertama, dan minum alkohol pertama berbeda dengan dunia canggung ciuman pertama. Semua orang hanya ingin dilihat. Tapi dilihat berarti melepaskan kekuatanmu. Tersembunyi berarti dikenal.

Hari pertamanya sekolah, gadis hantu itu menghilang, seperti bayangan yang lari dari cahaya. Semua orang membicarakannya selama seminggu, sampai dia menjadi rahasia. Sampai dia menjadi sangat terkenal, viral.

Dia dipuji atas rahasia yang tak dia ungkapkan, atas kesalahan yang tak dia perbuat.

Piala paduan suara dan kejuaraan sepak bola diisi dengan saus tomat, dan namanya ditandatangani di atas catatan: Gadis Hantu. Huruf kapital menunjukkan pangkat baru.

Buku guru bahasa Inggris itu robek di kursinya. Gadis Hantu.

Semua ban di tempat parkir disobek. Gadis Hantu.

Karena memang dia pelakunya. Rasanya sakit untuk tertawa, maka dia mengerang ketika melihat teman-teman sekelasnya gagal melarikan diri dari sekolah di tengah hujan.

Mereka bilang dia merayap menembus langit-langit. Mereka bilang dia mendapat rapor, sama seperti siapa pun, dan para guru terlalu takut memberinya nilai selain A. Mereka bilang dia dan pelatih olahraga berselingkuh. Mereka bertemu di bawah tribun setiap pagi.

Terkadang, larut malam, mereka mendengar suara melantunkan lagu yang hanya dikenali seorang gadis dari koleksi rekaman orang tuanya, “Pissing in a River.”

Namun, gadis hantu itu sendirian, selama satu, dua, tiga tahun bersekolah. Gadis hantu itu tidak akan meraih ijazah SMA. Gadis hantu itu tidak merangkak melewati atap. Dia lebih suka rumah yang dibangunnya di bawah panggung teater, di kolam renang yang dikeringkan tempat tim renang dulu berlatih sebelum anggaran renang sekolah dipotong.

Musim favoritnya: drama musikal musim semi, ketika dia tertidur di siang hari yang gelap diiringi suara-suara para penyanyi pemula yang susah payah. Yang kebanyakan tidak akan pernah bernyanyi setelah masa SMA mereka.

Guru seni lebih menyukai gadis dengan suara paling tinggi, yang membuat telingamu berdenging. Aimee.

Gadis hantu itu menutup telinganya ketika Aimee bernyanyi. Dunianya di bawah panggung terlalu gelap untuk suara melengking seperti itu. Gadis hantu itu tahu batas bakatnya sendiri. Meskipun dia bisa mengalahkan gadis ini dalam bernyanyi, dia tidak bisa berdiri di depan penonton, tidak bisa membiarkan dirinya keluar sesering itu. Dia menunggu dan mendengarkan, tetapi tidak mendengar apa pun yang membuatnya menggigil seperti rekaman lagu Patti Smith.

Kemudian, seorang gadis baru bernyanyi. Namanya yang diucapkan dengan lembut ke mikrofon, adalah Christie. Ketika Christie bernyanyi, dada gadis hantu itu berdenyut dengan rasa sakit hampa. Dari langit-langit, gadis hantu itu memperhatikannya: Christie dengan rambut ikal pendeknya yang gelap, wajahnya yang cantik tanpa riasan, kemeja kuning cerah dengan wajah tersenyum dan celana jins robek. Christie baik, gadis hantu itu memperhatikan, kepada semua orang.

Gadis hantu itu mengikuti Christie ke kelas, bergerak dalam bayangan yang tak terlihat oleh siswa lain. Dia telah mahir melihat bayangan dan menghuninya. Gadis hantu itu tidak menyayat ban Christie ketika dia menjahili area parkir sekolah untuk kedua kalinya.

Ketika Christie dipanggil kepala sekolah dan dituduh sebagai pelaku, gadis hantu menyelipkan alibi ke dalam berkas Christie: janji temu dengan psikiater di kota lain  untuk suatu kondisi yang tak ingin dibicarakan Christie. Gadis hantu itu telah mengerjakan PR Christie. Kondisinya sama dengan kondisi yang dialami Christie ketika dia dirawat saat masih kecil. Meskipun dia dinyatakan sembuh, pihak sekolah mempercayai alasan itu.

Gadis hantu itu melacak setiap gerak-gerik Christie.

Seorang gadis baru kesulitan berteman. Seorang gadis baru makan siang sendirian di bilik toilet. Di sanalah gadis hantu itu mendatanginya, bersembunyi di balik dinding dan berbicara dengan suara hantu penjaga rahasianya.

“Christie,” panggil gadis hantu itu, yang menyanyikan lagunya sendiri. Dia telah menjalani tahun-tahun dengan sedikit hal yang harus dilakukan selain berlatih. “Aku malaikat penjagamu.”

Gadis hantu itu sangat teliti. Dari berkas Christie, dia menemukan dua fakta yang akan memudahkannya berteman.

1. Ibu Christie meninggal saat Christie masih kecil.

2. Setelah kematian ibunya, Christie mendengar suara-suara. Suara-suara yang disebut Christie sebagai suara malaikat penjaganya.

Seorang gadis hantu bisa menjadi malaikat penjaga. Nama itu sepertinya lebih cocok untuknya daripada semua nama yang pernah dia genggam. Lagi pula, iblis adalah malaikat yang dibuang dari surga.

Awalnya Christie tidak berkata apa-apa, lalu, “Tidak,” katanya. “Kumohon, jangan lagi.”

“Aku tidak ada di pikiranmu. Aku di sini, bersamamu.”

Gadis hantu itu menekan tangannya ke dinding hingga dinding itu terasa dingin di bawah kulitnya.

“Apakah kamu merasakanku, Christie?”

Christie menggigil dan menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah lengannya.

“Kamu benar-benar di sini?” tanyanya. “Ke mana kamu selama ini?”

“Aku di sini, malaikat penjagamu.”

“Malaikat penjagaku. Suaramu indah,” kata Christie. “Di mana kamu belajar menyanyi?”

Gadis hantu itu belum pernah mendengar pujian semanis ini.

“Aku tidak perlu berlajar,” katanya. Perutnya menghangat karena bangga. “Tapi aku bisa mengajarimu.”

“Maukah kamu?”

“Aku sangat, sangat mau,” kata gadis hantu itu.

***

Pelajaran mereka dimulai. Setiap jam makan siang, Christie bersembunyi di bilik toiletnya sementara gadis hantu itu memberinya pelajaran untuk memperkuat suaranya.

Christie adalah penyanyi yang handal. Dengan bantuan gadis hantu itu, dia menjadi hebat. Ketika Christie bernyanyi, gadis hantu itu mendengar intonasi suaranya sendiri, nadanya sendiri. Ketika Christie melampaui gadis hantu itu, tibalah saatnya Christie menjadi pemeran utama.

Teater itu mengadakan audisi untuk Rahasia Putri Dongeng, sebuah drama musikal yang ditulis oleh guru teater. Christie mengikuti audisi untuk pemeran utama Putri Tidur, tetapi diberi peran pendukung sebagai Putri Salju. Gadis hantu itu menggerutu di sarang bawah tanahnya, mondar-mandir hingga kakinya berdarah. Dia melewatkan pelajaran hari berikutnya bersama Christie. Christie menangis di kamar mandi, mengira dia telah mengecewakan Malaikat Penjaga-nya. Gadis hantu itu mendengar tangisannya, tetapi tak dapat menghampirinya, kakinya dan egonya terluka parah.

Sebaliknya, dia mendengar seorang anak laki-laki masuk ke kamar mandi, menangisi dirinya sendiri.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Christie.

Tolong,” kata anak laki-laki itu. “Lihat aku. Aku tak bisa menggunakan toilet pria. Kalau ada yang berhak menangis di toilet perempuan, itu aku.”

Suara anak laki-laki itu tak asing: Syauki, anak kesayangan kedua guru teater.

“Apa yang terjadi padamu?” tanya Christie.

“Peran itu seharusnya milikku,” kata anak laki-laki itu. “Aku yang terbaik. Tapi aku tidak ‘tampil seperti itu.’ Kau tahu apa maksudnya? Maksudnya aku terlalu melambai untuk itu. Dasar orang desa bodoh.”

Anak laki-laki itu menendang tong sampah. Bunyi sepatu yang mengenai logam bergema di dinding gadis hantu itu. Suaranya sumbang, tapi tidak sepenuhnya menyimpang. Gadis hantu itu mencoret-coret beberapa nada di lembaran musiknya.

“Dan kamu tahu satu-satunya alasan kamu tidak mendapatkan peran Putri Tidur karena rambutmu pendek. Bu Rima tidak terlalu imajinatif. Kalau dia tidak bisa melihat persis seperti apa penampilan yang ada dalam pikirannya, lupakan saja. Aku sudah menjilatnya selama, berapa, dua tahun . Bagian itu seharusnya milikku.”

“Hanya karena rambutku?” tanya Christie.

“Percayalah.” Syauki tertawa. “Kalau kamu berpikir sedetik saja kamu bukan yang paling berbakat di kelas, kamu benar-benar butuh berobat ke dokter.”

“Aku les,” kata Christie. “Guruku hebat.”

“Nah, kamu harus kasih aku nomor kontaknya.”

“Rumit,” kata Christie.

“Dia tidak menerima murid baru?”

“Dia teman keluarga.”

“Sial,” kata Syauki. “Baiklah, sampaikan salamku. Sekarang mari kita membereskan diri kita dan kembali ke luar sana, manfaatkan sebaik-baiknya situasi yang sangat buruk ini.”

Christie tertawa.

Perut gadis hantu itu bergejolak. Seharusnya tidak ada yang bisa membuat Christie tertawa selain dia.

***

Jika gadis hantu itu tidak bisa membuat Christie tertawa, dia akan membuatnya tersenyum. Gadis hantu itu mengumpulkan rahasia-rahasia. Dia mengambil ponsel Aimee dari lokernya. Dia memotret Aimee di lapangan tenis sedang merokok diam-diam. Dia mengirimkan foto itu kepada keluarganya, teman-temannya, kepada Bu Rima.

Aimee dihukum, dilarang bermain, ditegur oleh seorang instruktur teater yang kecewa.

“Tidakkah kamu tahu apa pengaruh benda-benda itu terhadap suaramu?” tanya Bu Rima. “Ibu kira kamu murid yang serius. Sekarang Ibu sadar Ibu salah.”

Bu Rima menarik Christie ke samping.

“Ibu salah paham soal petunjuknya,” katanya. “Ibu menemukan foto yang kamu taruh di meja Ibu. Percaya diri sekali, bisa melakukan hal seperti itu! Dengan wig-mu yang bagus, kamu bisa dengan gampang menjadi Putri Tidur.”

“Wig-ku?” tanya Christie.

Bu Rima melambaikan foto itu padanya. Foto Christie yang sedang tidur. Rambut pirangnya tergerai di bantal.

Christie gemetar tetapi berterima kasih kepada gurunya. Dia dan Syauki merayakannya dengan cappuccino di kedai Secret Coffee! setempat.

***

“Kamu terlambat,” kata gadis hantu saat makan siang berikutnya.

“Maaf,” kata Christie, sambil mengeluarkan roti lapisnya dari tas. “Aku mengobrol dengan Syauki.”

“Kamu belum makan?”

“Aku tidak sempat.”

Gadis hantu itu mendengus di balik dindingnya.

“Bagaimana denganmu? Kau bahkan tidak muncul terakhir kali! Aku sudah bilang aku minta maaf.”

Christie menggigit roti kecil-kecil.

Gadis hantu itu menunggu, lalu tak mau menunggu lebih lama lagi.

“Cukup,” serunya. “Kamu tahu siapa yang memberimu peran itu? Aku bisa mengambilnya kembali. Inilah saatnya, Christie, kesempatanmu untuk menjadi sesuatu di sini, kesempatanmu untuk menunjukkan kepada mereka bahwa kamu bukan salah satu dari mereka. Kamu mau aku pergi?”

“Tidak, kumohon,” Christie memasukkan kembali roti lapisnya ke dalam tas. “Aku tak bisa melakukannya tanpamu.”

“Kalau begitu kamu harus lakukan apa yang kukatakan. Menjadi hebat butuh fokus yang tinggi. Itulah kelebihanmu atas semua gadis lain. Atas Syauki dengan pacarnya, dengan segala gangguannya yang tak ada habisnya. Kau bisa melakukan ini. Tapi kamu perlu membuat beberapa perubahan.”

“Apa yang berubah?”

“Kita harus membuat beberapa aturan.”

“Apa saja.” Christie menekan tangannya ke dinding, menghangatkan kulit gadis hantu itu. “Apa saja asal kamu tidak meninggalkanku.”

Gadis hantu itu menetapkan lima aturan. Christie akan berlatih setiap hari selama dua jam di luar jam pelajaran mereka. Christie tidak akan keluar sepulang sekolah atau di akhir pekan. Christie tidak akan berbicara dengan siapa pun kecuali dirinya. Christie tidak akan memberi tahu siapa pun tentang Malaikat Penjaga-nya.

“Ini adalah aturan yang harus kamu ikuti kalau kamu ingin menjadi sesuatu. Kalau kamu ingin menjadi yang terbaik.”

“Aku ingin menjadi yang terbaik,” kata Christie. “Aku ingin membuatmu bangga padaku.”

Malam itu gadis hantu itu menatap dirinya di cermin. Dia memakan kue camilan dari tempat sampah. Dia meraba bekas luka di wajahnya di balik topeng dan menarik kulit di sekitar perutnya. Dia bernyanyi di depan kerumunan orang yang tak dikenal.

***

Christie mengikuti aturan gadis hantu itu hingga malam pembukaan, ketika Syauki menariknya ke dalam mobil dan mengajaknya makan malam sebelum pertunjukan di restoran burger di ujung jalan. Gadis hantu itu mengikuti mereka, bergerak sebagai bayangan melalui selokan, pipa air, dan kompleks militer tua yang terkubur dan menjadi rahasia kota.

Dia menekan tubuh bayangannya ke langit-langit gipsum dan memperhatikan melalui celah ketika keduanya berciuman dan tertawa gugup seperti orang gila.

“Jadi, ada apa denganmu?” tanya Syauki, sambil mengusap-usap serbetnya dengan jari-jarinya yang berminyak. “Ya ampun, apa kamu hamil?”

“Tidak,” kata Christie. Dia tidak tersenyum.

“Sayang, aku hanya bercanda. Bukan itu, kan?” Syauki menggenggam tangan Christie.

Perut gadis hantu itu terasa mual.

“Kamu bisa ceritakan padaku.”

“Itu dia,” bisik Christie. “Guruku. Malaikat Penjagaku? Dia sangat tegas. Aku harus menuruti perintahnya, kalau tidak aku tidak akan cukup baik.”

“Tapi kamu sudah cukup baik. Tidak ada yang sebaik dirimu.”

“Tapi aku bisa lebih baik. Maksudku, aku benar-benar mengacaukan bagian chorus kedua di “Bawalah Daku Tidur”.

Syauki memutar bola matanya.

“Musik yang kamu nyanyikan itu payah, dari pertama awal. Kedua, umurmu tujuh belas tahun. Kamu belum perlu jadi penyanyi profesional sekarang. Kamu harus jadi remaja. Christie, apa kamu pernah dicium laki-laki? Apa kamu pernah punya teman?”

“Aku punya teman.” Christie mengangkat bahu. “Aku harus meninggalkan mereka semua di tempat asalku. Dan Malaikat Penjaga-ku. Dia berbicara kepadaku waktu orang lain tidak mau bicara denganku. Dia selalu ada untukku, dari dulu.”

Syauki mendesah dan mencondongkan tubuh ke seberang meja, menyelipkan sehelai rambut Christie ke belakang telinga. “Aku temanmu. Jangan lupakan itu. Kalau kau menginginkanku, aku di sini.”

Christie melepaskan helaian rambutnya. “Kamu seharusnya tidak menyentuhku,” katanya. Dia menempelkan telapak tangannya ke dinding, mencari dingin. “Ini tidak sepenuhnya aman.”

***

Pertunjukan itu benar-benar sesuai harapan gadis hantu itu. Christie mencapai nada tinggi seolah suaranya keluar dari cangkangnya. Jernih penuh desakan yang melengking. Gadis hantu itu menonton dari barisan belakang, bayangan sebuah kursi. Teater itu setengah kosong. Pemeran utama pria, Pangeran Tampan yang menjadi lawan main Christie, tidak sepadan dengannya, tetapi tampan dengan rambut bak anak pantai dengan bibir tebalnya.

“Hampir memalukan membangunkan putri tidur seperti itu,”dia bernyanyi, “tetapi jika otaknya sebesar tutup kepalanya, aku pasti telah membuat keputusan yang tepat.”

Gadis hantu mengabaikan kata-kata itu. Dia menciptakannya sendiri: gadis-gadis kesepian menguasai dunia yang sepi. Gadis-gadis yang sok berkuasa menguasai dunia Seorang gadis hantu menulis cerita yang ingin dia baca di atas lembaran kosong kulitnya yang terbakar.

Semua orang bertepuk tangan. Christie membungkuk. Pangeran Tampan menggenggam tangannya terlalu erat.

Gadis hantu itu menghilang kembali ke bawah tanah, tempat di mana seharusnya dia berada.

***

Christie pulang pada malam pertama, kedua, dan ketiga. Pada malam kedua terakhir mereka, ketika Syauki memintanya bergabung dengan mereka di pesta setelahnya, Christie melirik ke sekeliling ruangan seolah-olah memeriksa Malaikat Penjaga yang dia tahu tidak akan ada di sana. Dia tersenyum.

“Kenapa tidak?” katanya. “Kalau guruku marah, aku akan berhenti!”

“Itulah pemberontak yang ingin kukenal.”

Syauki mengaitkan lengannya ke lengan Christie. “Pangeran Tampanmu akan ada di sana. Mari kita lihat siapa di antara kita yang lebih dia sukai.”

Gadis hantu itu berlari di sepanjang dinding untuk mengikuti mereka keluar, tetapi mereka pergi terlalu jauh dari sekolah, melewati tempat dia bisa mengikuti mereka di bawah tanah, menyusuri jalan pedesaan yang panjang tanpa bayangan untuk ditembus.

Darahnya mendidih di teater yang terbengkalai, menghentakkan kakinya hingga sakit sampai ke lutut. Dia berkeliaran di lorong-lorong, merobek poster-poster JAUHI NARKOBA dari dinding. MATILAH TEATER REMAJA, dia mencoret-coret pintu depan.

Di lantai bawah, dia memasang jebakan-jebakannya. Christie tidak akan pergi lagi ke tempat yang tidak bisa dia ikuti. Dia begitu tenggelam dalam amarahnya, rencananya, sehingga tidak mendengar Christie dan teman-temannya menyelinap kembali melalui pintu pemuatan ke teater. Akhirnya, tawa mabuk mereka terdengar.

Gadis hantu berjalan menuju teater. Mereka begitu sibuk tertawa di atas panggung dalam kegelapan—Christie, Syauki, dan Pangeran Tampan—hingga mereka tak mendengar dia masuk. Meskipun begitu, dalam amarahnya, dia hanya mampu bertahan dalam bayangan, bergerak masuk dan keluar dari kulit dan tulang.

Dia memperhatikan mereka seperti menonton pertunjukan—dan sungguh pertunjukan yang luar biasa! Gadis hantu itu mengamati setiap hormon yang berceceran. Mereka memegang pendingin anggur. Gadis hantu itu bisa mencium aroma manis murahan dari barisan depan. Baik Syauki maupun Christie bukanlah pemenang dari kasih sayang Pangeran Tampan. Mereka duduk di kedua sisinya dan membicarakan keluarga mereka. Kehidupan yang keras untuk anak-anak yang perasa. Mereka tidak dianugerahi kekuatan untuk tidak terlihat. Bekas luka mereka tersembunyi di balik wajah, lebih dari sekadar topeng.

“Kurasa ayahku tidak mencintaiku,” kata Christie.

“Orang tuaku mencintaiku,” kata Syauki. “Mereka tidak peduli aku melambai. Tapi kalau aku tidak menikah dan punya bayi, aku tak berguna bagi mereka.”

“Cintaku terlalu besar padaku,” kata Pangeran Tampan. “Jika aku sedikit saja melewati batas—”

Siapa yang bisa mengatakan siapa yang paling terluka? Ini permainan membandingkan kengerian. Kisah-kisah yang bisa diceritakan gadis hantu itu, jika ia punya orang untuk berbagi cerita.

“Cukup pesta mengasihani diri sendiri,” kata Syauki, sambil mengeluarkan iPhone-nya. Dia memutar musik tanpa lirik, dengan ketukan sederhana yang tak terpahami.

Mereka menari, tertawa, dan menghabiskan minuman dingin mereka, meninggalkan botol-botol kosong di sana. Gadis hantu itu mengambilnya dan menciumnya, berhati-hati agar tak bersuara. Baunya membuat perutnya sakit. Buah palsu dan jenis gula yang membuat gigi rompal. Ditenangkan oleh pertengkaran mereka yang sia-sia, gadis hantu itu membiarkan dirinya masuk ke dalam bayangan mereka. Dia bergerak di sekitar kaki mereka, di sekitar mulut mereka. Tubuh manusia itu penuh dengan ruang gelap, bayangan dengan sendirinya. Dia menyelinap, tanpa suara, ke dalam mulut hangat Pangeran Tampan. Dia menguak semua rahasianya. Saat Christie menciumnya, gadis hantu itu adalah bayangan yang berpindah dari bibirnya ke bibir Christie.

Dari dalam diri Christie, gadis hantu berbicara.

“Kamu tak menaati Malaikat Penjagamu,” katanya. Christie menyusut kembali ke dalam kegelapan, kepalanya mulai terasa sakit.

“Jangan ganggu aku,” kata Christie. Dia mungkin menganggap keberanian barunya itu karena kadar alkohol 3%, tetapi gadis hantu itu mengamati reaksi kimia dan biologinya. Meskipun dia belum pernah mencicipinya sendiri, dia pernah membaca tentang efek alkohol ringan pada gadis seperti Christie. Hal itu tidak cukup untuk mengubah kebaikannya menjadi kekejaman. Kalau begitu, hanya ada satu penjelasan: Christie tidak pernah seperti yang dia pura-purakan. Ia adalah seorang aktris sejati.

“Christie, kamu bicara dengan siapa?”

Syauki berlutut di sampingnya dan meletakkan tangannya di lutut Christie.

“Kamu tidak bisa mendengarnya?”

“Aku tidak mendengar apa-apa,” kata Syauki. “Christie, kamu sudah minum pilmu?”

“Pil apa?” tanya Christie. “Aku belum minum pil itu sejak kecil.”

Syauki tersipu.

“Bukan itu yang dikatakan orang lain. Christie, kau bisa menceritakan apa saja padaku.”

Pangeran Tampan berdiri di belakang mereka.

“Ada apa?” tanyanya. “Ada apa dengannya?”

“Jangan sekarang,” kata Syauki.

“Jangan dengarkan mereka,” kata gadis hantu itu. “Aku nyata seperti dirimu. Bahkan lebih nyata, karena aku bukan pembohong sepertimu. Aku bukan orang yang berpura-pura.”

“Apa yang dia katakan padamu?” tanya Syauki.

“Katakan padanya untuk berhenti ikut campur,” kata gadis hantu itu.

Dia merentangkan tangannya di antara lengan Christie dan meregangkan bayangan di dalam dirinya hingga kulitnya terasa sakit seperti terbakar, seperti akan segera pecah.

“Berhenti,” teriak Christie. Suaranya menggema seperti yang hanya bisa didengar oleh seorang penampil. “Kalian berdua, berhenti.”

“Aku tidak melakukan apa-apa,” kata Pangeran Tampan.

Christie berdiri, menjatuhkan pendingin anggur. Warna biru menyebar di panggung seperti memar akibat urat yang pecah.

“Aku akan pergi bersamamu, aku akan pergi,” katanya kepada gadis hantu. Dia mendorong melewati Syauki, melewati Pangeran Tampan. Gadis hantu itu menuntun satu-satunya sahabatnya ke dalam kegelapan bawah tanah.

***

Di bawah tanah, gadis hantu itu memalsukan dua botol resep berisi pil yang diminum Christie saat kecil, dengan tanggal yang tertera untuk saat ini. Pakaian-pakaian yang berserakan di sarang gadis hantu itu bertuliskan nama Christie dengan tinta hitam di setiap labelnya. Gadis hantu itu teliti.

Dia licik.

Dia juga seorang aktris.

Kalau dia bisa meyakinkan Christie bahwa mereka satu, maka mereka akan menjadi satu. Dia membisikkan rahasia yang tidak benar: Christie tidak pernah pindah ke kota baru, tidak pernah bertemu teman baru. Gadis hantu selalu ada di dalam Christie.

Seorang gadis hantu selalu menjadi bagian dari dirimu.

Dia meregang untuk menyesuaikan diri dengan tubuh barunya. Dia bernyanyi dengan suara yang baru. Mulutnya bergerak membentuk wajah yang tak perlu disembunyikannya lagi.

Gadis tanpa teman selalu menjadi hantu, kata gadis hantu. Itu bukan hal terburuk yang bisa kamu lakukan.

Seorang gadis hantu menyimpan rahasianya sendiri dengan sangat baik.


Cikarang, 4 Agustus 2025

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *