Gaun
dok. pri. Ikhwanul Halim

Gaun

Views: 27

Pakaian

Di seberang kota, ada seorang wanita yang mencoba memutuskan apa yang akan dikenakannya pada kencan pertama. Pakaiannya berserakan di seluruh ruangan. Dia memegang dua gaun di depan cermin. Dia bertanya-tanya apakah dia harus mengenakan gaun hitam.

Gaun hitam itu … genit. Dia benci kata itu, tetapi sebenarnya hanya itu saja. Itu gaun centil. Dia tahu ini. Mungkin itulah sebabnya dia membelinya. Untuk merasa percaya diri. Berkuasa. Untuk mengatakan, “inilah aku.”

Kalau dia memilih gaun ini, si pria akan tidur dengannya malam ini. Si wanita akan merasa puas. Terkendali. Dan karena si wanita tahu dia akan tyerlibat dalam hal apa, dia akan benar-benar tenang ketika si pria tidak menghubunginya lagi setelahnya … atau tidak. Dia akan menjadi gila menunggu panggilan telepon yang tidak akan pernah datang. Dan karena dia tipe wanita yang suka makan saat stres, berat badannya akan naik sepuluh kilogram. Dia akan patah hati berat sehingga dia tidak akan pernah pergi berkencan lagi. Gaun hitam yang menggoda itu akan tetap berada di gantungan baju di lemarinya selamanya dan dia akan menua dengan rumah yang penuh kucing.

Tidak. Lebih baik mati sendirian. Dia membuang gaun hitam itu dan mengangkat gaun lainnya.

Gaun biru. Gaun ini jauh lebih tradisional. Kolot. Gaun ini lebih pantas dan membuatnya terhormat. SI wanita tahu bahwa kalau dia mengenakan gaun ini, dia tidak akan berhubungan seks malam ini. Atau dalam waktu dekat. Namun, si pria akan meneleponnya untuk mengajak kencan lagi. Dan lagi.

Dia akan mengajak si pria untuk bertemu orang tuanya di akhir pekan. Mereka akan menikah, tinggal di rumah dengan pagar tanaman yang cantik dan punya anak. Dia akan bahagia.

Di Bioskop

Si pria yang memilih film itu. Tekanannya berat. Kalau filmnya jelek, maka itu salahnya bahwa kencan itu dirusak oleh film bodoh. Kecuali filmnya sangat buruk sehingga menyenangkan untuk dijadikan candaan.

Itu bisa berhasil.

Dia melihat ke arahsi wanita untuk melihat apakah dia tertawa. Dia pernah mendengarnya tertawa sebelumnya. Si wanita tertawa dengan merdu. Dan senyumnya manis. Si pria mencoba mengingat apakah dia pernah mengatakan pada si wanita bahwa dia terlihat cantik dalam gaun itu.

Si wanita tidak tertawa. Apakah tidak apa-apa baginya untuk tertawa? Bagaimana kalau dia menertawakan lelucon yang menurutnya tidak lucu? Bagaimana kalau leluconnya menyinggung perasaan dan dia tidak menyadarinya? Bagaimana kalau dia menjadi pria yang diceritakan si wanita kepada semua temannya yang menertawakan lelucon bodoh dan seksis.

Dia akan menjadi bahan tertawaan dan dia tidak akan pernah keluar dengannya lagi.

Si pria menahan diri untuk tidak tertawa. Pada lelucon mana pun. Bahkan yang itu pun tidak. Padahal itu lelucon yang bagus.

Apakah si wanita akan menganggapnya terlalu serius? Apakah si wanita akan menganggapnya tidak memiliki kepribadian? Apakah itu yang akan dia katakan kepada teman-temannya? Bahwa dia payoye? Apakah orang-orang masih mengatakan “payoye?” Apakah itu takdirnya? Menjadi pria membosankan yang menggunakan bahasa gaul kuno dan mati sendirian karena tidak ada wanita yang mau keluar dengan pria yang tidak punya selera humor?

Makan di Luar

Si wanita kelaparan. Dia bertanya apa yang akan dipesan pria itu. Ini keputusan taktis. Dia harus memastikan apa pun yang dia pesan tidak jauh lebih mahal daripada apa pun yang dipesan pria itu.

Karena itu tidak adil. Tidak adil saat pria itu yang membayar. Pria itu yang membayar, kan? Pria yang membayar pada kencan pertama, kan?

Karena dia mengharapkan pria itu yang membayar. Dia bertanya-tanya apakah dia feminis yang buruk. Si pria mungkin akan menawarkan untuk membagi tagihan saat waktunya tiba. Si wanita akan berkata dia tidak keberatan, tetapi sebenarnya dia keberatan. Jadi dia berbohong. Dia bertanya-tanya apakah dia orang jahat.

Dia masih kelaparan. Dia benar-benar menginginkan iga bakar, tetapi itu bukan pilihan. Dia tidak akan pernah bisa menghilangkan noda dari gaun ini. Selain itu, dia khawatir kalau dia memesan banyak makanan, pria itu akan mengira dia gemuk. Pria itu tidak akan menyukainya lagi. Dia tidak akan tertarik padanya lagi. Itu saja.

Dia tidak bisa melakukan itu. Di sisi lain, kalau dia hanya memesan salad, si pria mungkin akan berpikir dia terlalu mementingkan penampilannya—yang memang dia benar-benar menjaga penampilan, tetapi dia tidak bisa memberi tahu si pria—dan si pria tidak akan menyukainya lagi.

Dan si pria mungkin tidak akan tertarik padanya lagi.

Perjalanan Pulang

Si Pria kehabisan bahan pembicaraan 5 menit yang lalu jadi dia berpura-pura fokus pada jalan.

Ini bagus. Si wanita akan berpikir dia pengemudi yang cerdas. Kebanyakan pria mengemudi seperti orang gila. Dia akan menonjol. Karena berhati-hati.

Karena membosankan. Tanpa

berpikir, dia menginjak pedal gas. Mereka mempercepat laju mobil. Tubuh si wanita menegang dan mencoba menyembunyikannya dengan merapikan gaunnya. Si pria memperlambat laju mobil.

Itu bodoh.

Dia melaju di jalannya. Dia mulai berpikir beberapa langkah ke depan.

Mereka bersenang-senang. Dia cukup yakin dia bisa menciumnya selamat malam.

Di dalam mobil? Atau haruskah dia mengantarnya sampai ke depan pintu? Apakah orang-orang masih melakukan itu? Dan haruskah dia menciumnya? Atau haruskah dia menunggu si wanita lebih dulu menciumnya?

Penutup

Si wanita tahu sesuatu yang tidak diketahui si pria. Ketika mobil berhenti di depan rumahnya, wanita itu tidak bertanya-tanya tentang ciuman pertama. Atau siapa di antara mereka yang harus melakukan langkah pertama. Karena itu sudah terjadi.

Dia mengenakan gaun hitam. Jadi tidak ada yang lain yang penting. Bukan lelucon seksis yang ditertawakannya selama film. Bukan juga fakta bahwa si wanita tidak menawarkan untuk membagi tagihan saat makan malam.

Setelah malam ini, mereka tidak akan pernah bertemu lagi.

CIkarang, 20 Oktober 2024

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *