(Seorang jejaka yang asyik membaca cerita dari ponselnya di jalan. Seorang gadis mendekatinya)
GADIS
Kamu sedang apa?
JEJAKA
Membaca cerpen.
GADIS
Apa yang kamu baca?
JEJAKA
Aku tidak tahu. Itu belum terjadi.
GADIS
Apa maksudmu, itu belum terjadi?
JEJAKA
Ya, itulah yang tertulis di sini. “Seorang gadis jelek mendekat seorang jejaka dan bertanya, ‘Apa maksudmu itu belum terjadi?'”
GADIS
Apa yang sedang kamu bicarakan?
JEJAKA
“Dia terus melontarkan komentar-komentar yang tidak masuk akal kepada jejeka misterius itu, yang berusaha untuk tampak tidak mencolok dan tidak bodoh.”
GADIS
Kamu tidak benar-benar membaca cerita itu …
JEJAKA
“Dia berkata, mengalihkan perhatian pria yang sebelumnya sendirian, membaca dengan tenang.”
GADIS
Aku tidak percaya padamu!
JEJAKA
“Dia melanjutkan …”
GADIS
Diam!
JEJAKA
“Tiba-tiba angin bertiup kencang dan meniup topi aneh milik gadis yang tidak sedap dipandang itu hingga terlepas.” (Jejaka itu menjatuhkan topi gadis itu).
GADIS
Itu bukan angin kencang! Itu kamu!
JEJAKA
“Dia berkata dengan kesal.”
GADIS
Apa yang kamu lakukan berdiri di sini berpura-pura membaca?
JEJAKA (Kesal)
Tidak berpura-pura membaca. Mencoba membaca.
GADIS
Yah, aku tidak mencoba memulai percakapan.
JEJAKA
Kamu yang memulainya. Lihat. Ini dia, “Gadis jelek itu mencoba berbicara dengan orang asing yang misterius itu.”
GADIS
Aku tidak jelek!
JEJAKA
“Jawab si gadis yang polos dan tidak menyenangkan itu dengan sangat kurang ajar.”
GADIS
Wah, kurang ajar sekali!
JEJAKA
“‘Kejelekan bukanlah ilmu pasti, gadisku sayang,’ jawab pria itu sambil memetik ukulele.”
GADIS
Tapi kamu tidak memetik ukulele.
(Jejaka itu mengeluarkan boneka bactrian).
GADIS
Itu unta, bukan ukulele.
JEJAKA
“Seru gadis yang tampak mengerikan itu, dengan riang gembira, sama sekali tidak menyadari betapa membosankannya ucapannya.”
GADIS
Tapi itu boneka unta!
JEJAKA
Ini bactrian, bukan unta.
GADIS
Bactrian juga unta!
JEJAKA(Menunjukkan ponselnya):
Terserah kamu. Itu sudah dijelaskan di glosarium, jadi …
GADIS
Begini. Bisakah kamu ceritakan apa yang kamu baca, dan mengapa kamu membaca di jalan?
JEJAKA
“‘Aku mencoba mencari tahu apa yang terjadi selanjutnya,’ jawab orang asing itu, lebih acuh dari sebelumnya.”
GADIS
Tapi apa maksudmu dengan apa yang terjadi selanjutnya?
JEJAKA
“Kata gadis aneh yang menjijikkan itu.”
GADIS
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
JEJAKA
Aku tidak tahu. Itulah tujuanku membaca ini. Aku akan segera mengetahuinya, bukan?
GADIS
Baiklah, aku akan pergi.
JEJAKA
Aku tidak yakin apakah jalan keluarmu akan segera muncul. Tunggu sebentar.
(Dia menyentuh layar seakan-akan membalikkan cerita ke halaman berikutnya).
JEJAKA
Tidak, kamu masih di sini di tengah halaman berikutnya.
(Dia terus membaca).
GADIS
Baiklah! Aku tidak pernah merasa begitu terhina dalam hidupku!
JEJAKA
“‘Kamu harus lebih sering keluar,’ jawab pria itu, sambil memainkan kerah bajunya dengan jenaka.”
(Dia memainkan saku celananya).
GADIS
Tapi itu saku celanamu, bukan kerah bajumu.
JEJAKA
Segala sesuatunya tidak selalu berjalan sesuai rencana, lho.
GADIS
Jadi, kamu bisa mengarang halaman berikutnya?
JEJAKA
Itu akan agak tidak lazim, bukan? Aku lebih suka membiarkan si penulis yang memutuskan, kalau kamu tidak keberatan.
(Gadis menggerutu sinis).
JEJAKA
Ya, itu lebih seperti gerutuan sarkastis. Kamu lihat, di sini tertulis ‘gadis yang tampak menjijikkan itu menggerutu sinis’.
GADIS
Nah, apa bedanya?
JEJAKA
Aku tidak tahu. Tapi kamu berhasil melakukannya seperti yang tertulis di sini. Cobalah untuk tetap berpegang pada skenario.
“Pria tampan yang tinggi gagah itu merasa jijik. Dia meringis.”
GADIS
Hah!
JEJAKA
Itu dia. Kamu mulai mengerti maksud dari sindiran itu. Tidak masalah kalau Anda menambahkan beberapa momen spontan. Itu semua sudah dicatat di sini.
GADIS
Aku pergi.
JEJAKA
Ya. “Gadis itu mulai berjalan pergi.”
(Gadis itu tiba-tiba berhenti).
JEJAKA
Baiklah, lanjutkan saja.
GADIS
Apa?
JEJAKA
Pergi.
GADIS
Mengapa aku harus pergi?
JEJAKA
Di sini tertulis kamu pergi. Aku tak sabar menantikan kedatangan seorang janda bahenol tanpa anak cantik jelita menggairahkan bernama Christine.
GADIS
Kapan dia datang?
JEJAKA
Beberapa halaman berikutnya.
GADIS
Oh. Baiklah. Maaf, aku hanya ingin mengisi cerita sebelum janda bahenol tanpa anak cantik jelita menggairahkan itu muncul dengan cara yang mesum.
JEJAKA
Oh tidak, ini tidak mesum. Yah … adalah sedikit.
GADIS
Bagaimana kamu tahu? (Berhenti sejenak) Apa kamu sudah membaca dari awal?
JEJAKA
Aku mengintip bagian akhir.
GADIS
Dan apa yang terjadi?
JEJAKA
“‘Ini tidak bagus untukmu,’ orang asing yang tampan, intelektual, dan misterius, namun kontemporer itu memperingatkan si gadis.”
GADIS
Mengapa? Apa yang terjadi padaku?
JEJAKA
Kamu tertabrak bus.
GADIS
Kapan?
JEJAKA
Tepatnya sekitar … sekarang.
GADIS
Tapi aku masih di sini.
JEJAKA
Tidak, tidak. Kamu sudah pergi. Aku sudah mencapai akhir bab ini. Itu saja.
GADIS
Jadi apa yang akan kamu lakukan sekarang?
JEJAKA
Mungkin pergi dan makan eskrim yang enak di kafe sana. Kamu mau ikut denganku?
GADIS
Tapi aku tidak bisa. Kamu bilang aku sudah pergi.
JEJAKA
Ya, kamu tertabrak bus. Benar-benar kacau. Darah berceceran di mana-mana. Orang menjerit dan berteriak. Penumpang banyak yang terluka, kamu tahu. Jadi kuharap kamu merasa senang dengan kepergianmu.
GADIS
Tapi aku baik-baik saja.
JEJAKA
Ya, kamu mungkin merasa baik-baik saja, tetapi percayalah, kamu tidak akan muncul lagi di sisa cerita ini. Kecuali sebagai hantu.
GADIS
Tapi bagaimana kamu tahu?
JEJAKA
Aku pernah membacanya sebelumnya. (Berhenti sejenak) Cerita ini benar-benar sampah.
Cikarang, 21 Oktober 2024


Waduh, ending-nya tidak terduga.