Bangun Jembatan, Bukan Pagar Tembok
Bangun Jembatan, Bukan Pagar Tembok

Bangun Jembatan, Bukan Pagar Tembok

Views: 5

“Kita terlalu terisolasi akhir-akhir ini. Dulu kita tahu siapa tetangga kita, bukan hanya rumah di sebelah, tapi juga di ujung jalan! Kita tahu nama semua orang, apa pekerjaan mereka, apa yang mereka lakukan ketika mereka pikir tidak ada yang melihat!”

Kinan menggelengkan kepalanya saat merenungkan kemerosotan masyarakat untuk kedua kalinya hari itu. Sungguh tragis.

Lelaki tua berusia 95 tahun yang tinggal sendirian selama 25 tahun terakhir di rumah yang sama meninggal dunia dan tak seorang pun, tak seorang pun, menyadarinya! Selama lima minggu!

Pikiran itu memicu kilatan amarah, murka atas keadaan menyedihkan yang dialami jalanan tempat tinggalnya, yang dulu ramai dan penuh kehidupan. Jalanan tempat anak-anak keluar masuk rumah setiap saat.Sepak bola di jalanan menjadi ajang pertandingan lima puluh lawan lima yang berlangsung berjam-jam. Tempat dia dibesarkan kini berubah total. Tatanan masyarakatnya tercabik-cabik.

Dia menggelengkan kepala.

“Siapa namanya?” tanya Marini saat mereka berdiri bersama, meluruskan punggung, mungkin juga sekalian meluruskan dunia.

“Entahlah!” jawab Kinan.

Kali ini Marini yang menggelengkan kepala.


Cikarang, 27 September 2025

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *