Hantu Ayahnya
dok. pri. Ikhwanul Halim

Hantu Ayahnya

Views: 189

Hantu ayahnya datang saat matahari terbenam. Dia membungkuk, membawa buku yang sangat besar di punggungnya, yang awalnya dikira Syauki lempengan beton.

Saat hantu ayahnya mendekat, Syauki bisa melihat Lexikon für Theologiedengan huruf gotik hitam tertulis di sampulnya.

Syauki menembaki tupai dari kursiku di serambi dan meletakkan senapan anginnya saat ayahnya mendekat. Dia bangkit untuk menyambutnya, tetapi hantu ayahnya menaiki tangga dan berjalan menembusnya.

Hantu ayahnya berhenti di pelataran, menurunkan bebannya, dan membukanya. Dari halaman tengah, dewa-dewi dari setiap agama keluar dan mengerumuninya. Syauki meringkuk di dinding. Kenangan masa kecil yang samar dan buram merayap tanpa diundang ke dalam benaknya. Ayahnya mencabut ranting dari pohon kelor yang tumbuh di pagar dan memukul-mukul para dewa.

Mereka mundur.

Hantu ayahnya terhuyung-huyung ke arah Syauki seperti anak bayi berjalan melangkah, mengulurkan ranting tersebut. Syauki mengulurkan tangan.

Lalu Syauki melihat tangan hantu ayahnya, berbonggol dan seperti cakar. Kukunya panjang dan berkerak oleh rasa malu menahun. Sebagai gantinya, Syauki meraih senapan, membidik, dan menembak.

Buku itu hancur berkeping-keping dan para dewa berputar menjauh menuju surga, menerangi langit dengan kaleidoskop warna yang megah.

Hantu ayahnya jatuh dari tangga dan menghilang dalam gelap malam.

Ternyata, membebaskan jiwa ayahnya mudah saja.

Cikarang, 27 September 2024

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *