krueng,
eungkot paya—
licin di lidah,
lembut di mulut babah,
basah karena jari manis.
pertama, Inong:
aku mulai di atasmu
melintas
ombak demi gelombang
kudengar matamu berputar,
berpacu turut desir otot
di dalamnya, wajahku bersandar
di malam senyummu
kakimu berhenti
panasmu melarut,
halusinasi
demi akhirat
sudah lama lewati goda lapar.
dalam ciumanmu,
aku berbicara sambil menekan
ke bawah kakimu,—
lenganmu ruang yang hilang
sebelum perpisahan.
aku ruang terlupakan
sebelum perceraian
dalam historis diri
aku bukan yang terakhir
(atau di atas namamu)
di sini bersama wanita sebelumnya
lalu sesudah—
taheu
kusuka aroma kehilangan,
jalanan larut udara bercampur asam,
keajaiban punya dua wajah
aku diam dalam topengku—
kecantikan terjerat
dosa lembut
hina sepertinya
ketika air menerjang kita
gairah berubah
selamanya bunga
seorang wanita berpakaian
indah pungo durjana
lalu Agam:
aku adalah kebenaran.
aku ingin keajaiban
segala bentuk cinta
dan kelimpahannya—
istirahatlah di sini,
bawa pulang kesenangan
untuk suami dan ayah
aku adalah mereka.
Aku tahu betapa aku mencintai beberapa
dari semua wajah, lebih panjang dan lebih kecil
pergantian suara
di kala perjalanan aku lebih tua,
terlupakan saat marah—
aku tahu, dia mencintaiku.
tidaklah sopan jika bertanya
lagi tentang sabar.
masa dulu dia tidur di pelukku
rehat dalam gelap sunyi,
di balik jendela menujah pesona
tidak ada bukti hiburan—
hanya penantian
para penyelam perkasa
hingga lipatan palung
di tubir tebing
telan
kemunduran,
jeda sebelum pengasingan.
sahabat terkasih,
kita gairah keselamatan
di alir sungai peradaban
saat kita bertemu takdir sendirian.
Lalu Krueng:
krueng yang dingin,
tak ada saksi kalender
selain bulan Desember.
di atas pegunungan
Saree tampak seperti pepohonan
gelap bagi tubuhnya
kabut menghilang
sungai, abu-abu,
darah cokelat pisang—
air mengalir
melalui tanganku
aku meluncur
menuruni bebatuan licin
di bawah permukaan
cintaku memberi
aku belajar cara terbang
Desember telah lalu
betapa mudahnya berenang
di ufuk cakrawala.
sungai mabuk sejenak
dalam alih pagi
sungai di dalam
mengubah gerak diam
ditembus banjir
zaman yang kosong
menombak dirinya
Kehormatan kejayaan
disimpan untuk giliran kita
hanyut ke hilir
pasang surut
kebetulan
dan aku tidak ditemukan—
tubuhku tanpa saksi
fantasi adalah teror
sungai tidak pernah
berhenti mengawasi
gunung punya kaki
khayal tak gemetar.
aku memeriksa tata cara
dengarkan
krueng diatur
roh murni—
kelam kabut mendesah
Cikarang, 27 September 2024


Keren~