Kisah perjalanan epik yang dipenuhi dengan petualangan dan keajaiban yang aneh mungkin telah menjadi bagian penting dari sastra, bahkan sebelum Joseph Campbell menetapkannya sebagai sesuatu yang wajib ada dalam bukunya The Hero’s Journey (1990). Tetapi kebenaran—seperti biasa—terbukti lebih aneh daripada fiksi.
Sejarah penuh dengan tokoh-tokoh yang berpetualang melakukan perjalanan yang lebih besar skalanya daripada yang dapat dibayangkan sebelumnya, yang berhasil mengubah dunia dalam beberapa hal sebagai hasilnya. Lupakan Odissey, Sinbad, Frodo, Gulliver, Old Shutterhand atau apa pun yang melibatkan masuk ke dalam lemari baju menuju ke dunia fantasi. Di bawah ini tiga pahlawan yang benar-benar nyata. Kisah perjalanan mereka telah mengubah dunia.
***
1. Ibnu Batutah

Ibu Batutah (nama lengkap: Abu AbdullahMuhammad bin Abdullah Al-Lawati At-Tanji bin Batutah) adalah seorang cendikiawan Muslim Maroko yang meninggalkan rumah pada usia dua puluh satu tahun dan melanjutkan perjalanannya sejauh 120 kilometer selama dua puluh sembilan tahun melintasi Afrika, Eropa Selatan dan Timur, Timur Tengah, anak benua India, dan seluruh Asia. Tahun 1325-1354 dihabiskannya dalam perjalanan, Batutah akhirnya mengunjungi sekitar empat puluh empat negara modern sepanjang hidupnya, jauh melampaui pelancong lain pada saat itu.
Terus-menerus menghadapi risiko kematian akibat serangan orang Badui dan penjahat serta bajak laut lokal—belum lagi segala macam penyakit—perjalanannya membawanya bertemu dengan orang-orang suci, penguasa, dan, yang terpenting, sejarah. Di antara banyak petualangannya, dia berhadapan langsung dengan Invasi Mongol, menjadi duta besar untuk Tiongkok pada masa Dinasti Yuan, menikah dengan bangsawan di Kepulauan Maldives, dan sebagai penyintas pada masa Wabah Hitam berkecamuk melanda Suriah, Palestina, dan Arab.
Batutah yakin bahwa dia mendapat pertolongan dari yang lebih tinggi, sebagaimana ia jelaskan dalam memoarnya:
“Malam itu, ketika aku sedang tidur di loteng, aku bermimpi bahwa aku berada di sayap seekor burung besar yang terbang bersamaku menuju Mekkah, kemudian ke Yaman, kemudian ke timur dan selanjutnya ke selatan, kemudian terbang jauh ke timur dan akhirnya mendarat di sebuah negeri yang gelap dan hijau, tempat ia meninggalkanku. Aku terkesima dengan mimpi ini dan berkata kepada diriku sendiri, ‘Kalau syekh dapat menafsirkan mimpiku untukku, maka dialah yang mereka katakan.’ Keesokan paginya, setelah semua pengunjung lainnya telah pergi, dia memanggilku dan setelah aku menceritakan mimpiku, dia menafsirkannya kepadaku: ‘Kamu akan melakukan ziarah [ke Mekkah] dan mengunjungi [Makam] Nabi, dan kamu akan melakukan perjalanan melalui Yaman, Irak, negeri Turki, dan India. Kamu akan tinggal di sana untuk waktu yang lama dan di sana bertemu dengan saudaraku Dilshad si orang India, yang akan menyelamatkanmu dari bahaya yang akan menimpamu.’ Kemudian dia memberiku bekal perjalanan berupa camilan kue-kue dan uang, dan saya mengucapkan selamat tinggal kepadanya dan berangkat. Sejak berpisah darinya, aku tidak pernah menemukan apa pun dalam perjalananku selain keberuntungan, dan berkat doanya yang telah menolongku.”
Setelah dua puluh sembilan tahun perjalanan dan petualangan, Batutah—yang beumur lima puluh tahun dan menetap di Maroko—diperintahkan oleh Sultan untuk membuat catatan tentang kisah-kisahnya sehingga dapat bertahan untuk generasi mendatang dan membuat orang lain terkesan. Batutah melakukannya dengan mendiktekan apa yang dapat diingatnya kepada Ibnu Juzayy, seorang sarjana yang pernah ditemuinya beberapa tahun sebelumnya, dan keduanya menghabiskan waktu setahun untuk membuat sebuah manuskrip yang dikenal sebagai Ar-Rihlah (yang dterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul A Gift To Those Who Contemplate The Wonders of Cities And The Marvels of Traveling—atau, seperti yang lebih dikenal, The Journey—sebuah catatan luar biasa tentang kehidupan yang luar biasa, yang dibuat lebih menakjubkan dengan sesekali kiasan hiperbola dari perawi yang tidak dapat diandalkan atau catatan editorial dari penyalinnya.
Setelah menjelajahi dunia dan hidup untuk menceritakan kisahnya (yang banyak), Battuta tenggelam dalam ketidakjelasan dengan “The Journey” yang relatif tidak dikenal selama lima abad berikutnya sampai pasukan pendudukan Prancis menemukan manuskrip lengkap di Aljazair pada tahun 1830-an.
Setelah diautentikasi, versi terjemahan dari cerita Battuta membawa penjelajah itu penghargaan yang layak diterimanya sebagai salah satu penjelajah terhebat sepanjang masa.
2. Marco Polo

Salah satu penjelajah paling terkenal di dunia, awal Marco Polo relatif sederhana. Sebagai putra seorang pedagang, dia tumbuh sebagai yatim piatu. Ibunya sudah meninggal, dan ayahnya berada di Asia, membuat kesepakatan dan, tanpa disadari, menciptakan situasi yang akan mengubah sejarah. Marco Polo bahkan tidak bertemu ayahnya sampai ia berusia pertengahan remaja, ketika ayahnya, Niccolo, dan pamannya, Maffeo, kembali dari Tiongkok.
Bertahun-tahun sebelumnya, pada tahun 1266, ketika Marco yang baru berusia sekitar dua belas tahun, ayah dan paman Polo telah menjadi orang Eropa pertama yang bertemu dengan penguasa Mongolia yang ditakuti, Kubilai Khan di Beijing, Tiongkok. Khan terbukti tertarik untuk mempelajari sebanyak mungkin tentang Eropa, baik tentang sistem hukum, politik, atau agama dari apa yang, baginya, merupakan tanah yang misterius dan tidak dikenal. Kublai Khan menugaskan mereka untuk memastikan bahwa seorang utusan Paus membawakannya minyak lampu di Yerusalem, dan saudara-saudara Polo kembali ke Venesia sekitar tahun 1269 untuk menyampaikan permintaan tersebut. Pada saat Niccolo dan Maffeo berangkat untuk memenuhi permintaan Khan, Marco—yang saat itu berusia tujuh belas tahun dan akhirnya bersatu kembali dengan ayahnya—menemani mereka dan memulai perjalanan yang akan membawanya menempuh jarak lebih dari 24.000 kilometer dan dua puluh empat tahun untuk menyelesaikannya.
Setelah lebih dari tiga tahun perjalanan melalui laut dan darat, Marco dan keluarganya tiba dan, setelah mengantarkan minyak kepada Khan yang gembira, menghabiskan waktu bertahun-tahun menjelajahi dan mempelajari tentang Tiongkok. Untunglah mereka menikmati waktu mereka di sana, karena Khan telah memutuskan bahwa mereka dilarang pergi.
Baru pada tahun 1292 mereka memiliki kesempatan untuk melarikan diri, setelah diizinkan meninggalkan negara itu sebagai bagian dari rombongan resmi untuk mencarikan istri bagi keponakan buyut Khan di Persia.
Rombongan resmi itu berlayar pertama kali ke Singapura, kemudian mengitari ujung selatan India sebelum menyeberangi Laut Arab dan mendarat di Hormuz, memberi Marco dan keluarganya kesempatan untuk melarikan diri melalui darat.
Sekembalinya ke Venesia, Marco langsung dipenjara sebagai bagian dari perang Venesia-Genoa yang sedang berlangsung. Saat dipenjara, ia menceritakan pengalamannya kepada Rustichello da Pisa, sesama narapidana, dan kisah perjalanannya itu akhirnya menjadi buku Livres des Merveilles du Monde (The Travels of Marco Polo). Marco Polo tidak pernah meninggalkan Venesia lagi, tetapi kisahnya menginspirasi banyak penjelajah hebat lainnya, termasuk Christopher Columbus, serta pengembangan kartografi Eropa.
3. Alexandra David-Néel

Dalam kehidupan yang penuh dengan kejadian yang mencengangkan, salah satu yang paling mencengangkan adalah bahwa penulis Belgia-Prancis Alexandra David-Néel tidak jauh lebih terkenal daripada dirinya sendiri.
Lahir di Prancis pada tahun 1868, hasrat untuk berkelana dan menjelajah jelas mengalir dalam darah Alexandra. Tidak hanya sebuah anekdot terkenal yang menggambarkannya memutuskan untuk meninggalkan rumah pada usia lima tahun (orang tuanya dan kebutuhan untuk makan malam dengan cepat menyingkirkan ide melarikan diri di usia semuda itu), tetapi pada ulang tahunnya yang kedelapan belas, dia telah bepergian sendiri ke Inggris, Spanyol, dan Swiss, dan pada tahun 1891 telah menambahkan India ke dalam daftar penaklukannya. Meskipun kekurangan uang membawanya kembali ke Prancis, Alexandra menolak untuk duduk diam, tahun 1899 dia menulis sebuah risalah anarkis yang akhirnya diterbitkan dalam lima bahasa, dan setahun kemudian bertemu dengan pria yang kemudian dinikahinya (meskipun, pada tahun 1911, dia meninggalkannya untuk kembali ke India dan melanjutkan studinya tentang agama Buddha). Di India-lah dia bertemu dengan Putra bMahkota Maharaja Kumar Sidkeong Tulku Namgyal, seorang anggota keluarga kerajaan Sikkim, India, yang menjadikannya “saudara perempuan spiritual” (dan, menurut gosip, kekasih).
Selama berada di India, dia juga bertemu dengan Dalai Lama ketiga belas, yang mendorongnya untuk belajar Buddhisme.
Dorongan itu membuat Aalexandra menjalani hidup yang sepenuhnya realis magis. Dia menghabiskan dua tahun tinggal di sebuah gua di perbatasan Tibet, menyempurnakan apa yang disebutnya telepati.
Alexandra kemudian mengaku telah menciptakan tulpa-nya sendiri, roh yang lahir dari pikiran dan keinginan manusia. Dia kemudian harus mengusirnya ketika roh itu berubah menjadi jahat.
Alexandra bersahabat dengan seorang biksu muda yang kemudian menjadi anak angkatnya. Karena memasuki Tibet secara ilegal, yang saat itu masih dilarang bagi orang luar, dia dideportasi dan tinggal di Jepang selama beberapa tahun.
Alexandra kemudian kembali memasuki Tibet lagi pada tahun 1924 sebelum kembali ke Prancis untuk menulis karyanya yang paling terkenal, Mystiques et Magiciens du Tibet (Magic and Mystery in Tibet). Dia kembali ke Tibet untuk terakhir kalinya pada tahun 1937, tinggal selama bertahun-tahun karena Perang Dunia II membuat perjalanan antar negara menjadi tidak aman.
Di sana dia melanjutkan studi spiritualnya. Akhirnya, Alexandra kembali ke Prancis pada tahun 1946, tempat dia tinggal dan bekerja selama dua puluh tiga tahun lagi. Karyanya dianggap memberi pengaruh pada penulis beatnik seperti Jack Kerouac dan Allen Ginsberg. Allen Ginsberg menganggapnya berjasa mengubahnya menjadi penganut Buddha.
Cikarang, 27 September 2024


Good story in good blog.
Alhamdulillah sy punya buku terjemahan Perjalanan Ibnu Batutah, tp belum selesai dibaca.
Selalu menarik membaca kisah tokoh sejarah ya, Mas.
Salam hangat
👍