Hutan Gelap
dok. pri. Ikhwanul Halim

Gerbang, seperti buku, memang dimaksudkan untuk dibuka, dan kamu tidak akan pernah benar-benar puas kalau tidak tahu apa yang ada di sisi lain.

Kalau melewati gerbang dan memasuki hutan yang gelap. Anda ragu sejenak, menoleh ke belakang, tetapi hutan membentang di belakangmu seolah-olah taman itu tidak pernah ada.

Kamu terus berjalan.

Bayangan semakin gelap. Seekor burung hantu berteriak. Ada yang meraung di kejauhan lalu terdiam.

Kamu merasa kedinginan, dan kakimu mengembangkan bakat baru untuk menemukan tempat yang tidak rata di tanah, akar pohon, dan batu.

Setelah untuk ketiga kalinya kamu terjatuh, kamu bersandar pada pohon yang akarnya menjerat kakimu.

Kulit pohon menusuk dan menggores menggesek punggungmu, tetapi itu adalah pengalih perhatian yang menyenangkan dari lututmu yang memar dan telapak tangan yang terkelupas. Tulangmu lelah dan ototmu sakit.

Kaamu mendambakan tidur. Istirahat sejenak untuk menguatkan dirimu dalam perjalanan. Apakah kaamu memejamkan mata?

Kalau ya, buka halaman 3. Kalau tidak, buka halaman 25.