aku dan kucingku, kami baca komik
dia tidak bisa bicara dan aku tak lancar membaca, tapi
aku tahu banyak kata dan dapat menunjuk gambar
dia memperhatikan dan mengendusnya
dengan hidungnya dia melihat,
dia punya mata tetapi lebih bisa mencium.
kucing tak punya banyak kesabaran.
dia sepertiku di sekolah
aku mendengarkan guru
mengikuti di papan tulis hitam
yang benar hijau dan menganggukkan kepala
untuk ya
menggelengkan kepala untuk tidak
dan ketika kupikir sudah menguasai tabel perkalian
atau mengingat akar kuadrat persamaan
dari dua ratus dua puluh lima, aku berpikir,
apa gunanya,
dan angka-angka keluar dari pikiranku
seperti burung hantu
keluar dari gudang menukik ke bawah
menyambar tikus tanah.
namun, aku berhasil belajar cukup banyak
untuk lulus.
naik kelas tiga dengan nilai C dan D juga A
tetapi Ayah adalah kepala sekolah
dan Ibu adalah guru
kubenci telah mengecewakan mereka
tapiku selalu mengecewakan mereka
kupunya seorang saudara laki-laki
dan dua saudara perempuan
mereka semua berprestasi
aku tak punya apa yang mereka miliki
yang disebut otak
aku tak mengerti
nenek bilang
mungkin bakatmu ada di tempat lain
dan tersenyum
berarti dia mencintaiku
atau merasa kasihan padaku
dan ketika aku membawa rapor pulang
aku hanya membawa kabar buruk
setelah makan malam,
mereka ingin melihatnya.
diedarkan keliling meja.
dari Ibu aku mendapat
sayang sekali
kakakku tertawa terbahak-bahak
kakakku bergumam menunjuk C
dan D.
Ayah menyalakan sebatang kretek
menatap tajam ke tanda-tanda itu
sehingga kupikir matanya akan membakarnya,
seperti Superman dengan penglihatan sinar panasnya
dia meraih penanya—
pena itu ada di saku kemejanya
seakan-akan dia membawa shuriken ninja
dia menatapkumenembus diriku
lalu menandatangani namanya
ayah hanya ingin kamu tahu, katanya
bahwa kami sangat kecewa denganmu.
oleh karena itu, lanjutnya,
kamu tidak akan mendapat uang saku
selama dua bulan ke depan—
tidak, sampai kamu memperbaiki nilai
yang tidak dapat diterima ini.
aku mengerang—
uang saku lima ribu seminggu
cukup untuk dua buku komik
dan pajak ketua preman sekolah
aku tidak tahu harus berkata apa
aku takut
maka aku menjawab dengan sopan dan santun
ya, Yah. uh, kataku.
aku akan mencoba untuk melakukannya
dengan lebih baik lain kali
pastikan kamu melakukannya, katanya,
meskipun kamu selalu mengatakan itu
setiap kali kamu membawa pulang
rapor yang buruk. Ingat,
bukan berarti berarti kamu pernah
membawa pulang rapor yang bagus.
aku bisa menjelaskannya, kataku.
silakan lakukan itu, kata Ayah
kami semua mendengarkan
mereka benar-benar mendengarkan kelimanya.
bagaikan ibu jari dan empat jari lain
meremasku dengan antusiame mereka.
kalian lihat, kataku
aku tidak terlalu pintar tetapi aku bekerja keras
tetapi aku tidak mendapatkan hasil tetapi aku pantas
dihargai atas usahaku. seperti yang kukatakan,
aku berusaha keras, sungguh, dan aku belajar
banyak hal tetapi mereka meninggalkanku.
maksudmu,kata Ayah,
adalah daya ingatmu buruk.
itu saja, kataku.
aku bersemangat sekarang
dan apa lagi, belajar tidak bertahan lama bersamaku.
semua orang menertawakanku, bersama-sama,
seakan aku baru saja menceritakan hal yang sangat konyol.
baiklah, kata Ibu sambil menepis tawa-air mata
kami tetap mencintaimu.
bukankah begitu ,kalian semua?
tak ada yang jawab.
kakak perempuanku akhirnya berkata,
oh, tentu. apa yang tidak bisa dicintai?
kakak laki-laki meringis, buru-buru mendesis,
tidak.
aku melihat ke Ayah—
aku selalu melihat ke Ayah
tetapi sekarang yang kuminta adalah jawabnya.
baiklah, katanya
apa hubungannya cinta dengan itu?
dia menyalakan batang kretek lain.
dia punya filter plastik.
aku pernah mengambil satu dan membedahnya.
kalau kamu perhatikan dengan seksama
ujungnya, ujung yang masuk ke mulutmu,
corongnya, kataku,
bentuknya seperti logo Mercedes-Benz.
aku hampir saja mengatakan itu kepadanya,
tetapi dia akan bertanya kepadaku
apa yang aku lakukan,
sambil memperhatikan rokok dengan saksama.
aku berusia sembilan tahun.
aku tidak bisa mencapai nilai bagus,
tetapi kupikir aku semakin pintar
kukatakan demikian:
ada cerdas dan ada pintar
benar, kata kakakku. dan kamu bukan keduanya
begitulah, jawabku
yang mana, tanyanya
—yang pertama atau yang kedua?
ya! aku teriak
sekarang dia diam tidak punya apa-apa untuk dikata
setelah makan malam, kumulai membaca buku
sains. Albert Einstein. Relativitas Khusus.
kubaca tentang si kembar
yang satu pergi ke luar angkasa, bangsat yang beruntung,
dan satunya, yang tinggal di bumi,
kalau bukan di rumah, masih di planet ini
dan menyapa kembarannya saat ia turun kembali.
namun, astronot itu hampir tidak lebih tua
dari saat dia pergi
dan saudaranya yang tinggal di rumah
dua dasawarsa lebih tua
tak masuk akalku,
tetapi itulah sains untukmu.
tak heran otakku tak mampu mengingat suatu—
semua terlalu lucu.
terlalu serupa dengan kehidupan kini dan lalu.
Cawang, 4 Oktober 2024


Puisi Bapak selalu membuat saya baca dua kali. Interesting.