“Prof, bagaimana peluang Profesor untuk dipanggil ke Istana?” tanya Alfonso Gomez, moderator acara Bincang Full Itique Kafe Pojok Sepi Sendiri. Satpam salah satu pabrik di Kawasan Industri dekat jalan tol lintas pulau ini mendapuk dirinya sendiri sebagai moderator dengan narasumber tunggal Profesor Hutul Sarbin Taylor. Acara berlangsung di kedai kopi, eh, kafe milik Mpok Christine Ricci yang terletak di lokasi strategis pintu gerbang keluar masuk Kawasan Industri yang sayangnya mulai sepi karena ekonomi sedang tidak baik-baik saja.
Sejumlah pabrik sudah angkat kaki karena tak sanggup lagi berproduksi. Bahan baku mahal karena dibayar dengan dolar, bunga pinjaman bank yang tinggi, dan pajak yang mencekik … kaum buruh.
“Tunggu dulu, anak muda! Ini topiknya apa?” tanya Profesor Hutul dengan jidat berlipat tujuh.
“Tentang bagi-bagi jatah menteri. Bukankah sempat tersiar kabar berita yang sedap bahwa Profesor diminta untuk menjadi Menkosasi alias Menteri Koordinator Sana-Sini? Jadi kapan Prof beranjangsini ke Istana Presiden, mumpung belum jadi pindah ke tengah hutan sana? Kalau sudah pindah ke sana baru kita sebut beranjangsana.”
“Jangan salah. Aku dari dulu berada di luar sistem. Mau sistemnya Windows kek, Android kek, Linux kek, MacOS kek, aku tak pernah mau ambil pening.”
“Jadi sebetulnya Prof tak dapat panggilan ke Istana?”
“Ya ndak tau, kok tanya aku.”
“Kalau jelas begini kan enak. Takkan sungkan-sungkan aku bertanya.”
“Apa yang mau tanya, Ronaldo?”
“Alfonso, Prof.”
“Apa?”
“Namaku Alfonso, Bukan Ronaldo, Prof. Yang mau aku tanya, bagaimana cara menggaji menteri dan komisi yang bengkak membisul? Janji segunung. Makan siang gratis, lah. Gaji guru katanya mau dinaikkan dua juta terhitung mulai bulan Oktober. Gaji pejabat juga mau dinaikin. Padahal utang kita banyak dan sudah pada jatuh tempo. Malu kalau sampai ditagih debt collector dari luar negeri.”
“Jadi begini.” Profesor Hutul Sarbin Taylor berdehem tiga kali, sebelum batuk parah tiga belas kali. “Kamu tahu bahwa bisa memenangkan posisi sebagai presiden perlu dukungan dan kerjasama yang baik?”
“So pasti, prof.”
“Sudah pasti perlu dukungan dari partai, ormas, rezim juga. Tentu saja dukungan itu baik secara moral maupun material seperti pasir, batu bata dan semen, tidak diberikan secara gratis. Harus ada imbal baliknya, dong. Nah, imbal balik itu berupa kursi jabatan. Makin banyak yang mendukung, maka semakin banyak pula kursi yang harus disediakan. Kalau kurang, bikin kursi baru.”
“Tapi dengan bertambahnya jabatan, badan, dan alat kelengkapan, berarti biaya juga nambah, dong, Prof.”
“So pasti, anak muda.”
“Duitnya dari mana?”
“Kamu waktu debat ngikutin, nggak?”
“Ngikutin.”
“Kan waktu itu ada yang ngomongin mau naikin rasio pajak?”
“Katanya yang naik rasionya, bukan pajaknya.”
“Artinya, yang mau dinaikin jumlah yang terkena pajak, kan?”
“Iya.”
“Katanya, dengan menambah jumlah penghuni kebun binatang, kan?”
“Artinya, yang jadi objek pajak harus ditambah. Jadilah penjual cilok, seblak, es doger, sampai pengamen di lampu setopan lalu lintas , silverboy, cosplayer, hantu Jl. Asia Afrika, dan babi ngepet kena pajak. Dari teh botol, teh kotak, the jerigen, teh plastik, sampe teh Maya di-PPN-kan. Dan PPN-nya yang baru naik jadi sebelas persen mau dinaikkan jadi 12 persen. Itu semua untuk menggaji mereka yang ketiban balas jasa dari pemenang pilpres.”
“Ngapain juga harus balas jasa gitu, ya? Ujung-ujungnya kebagian seragam rompi oranye. Dari pada rame-rame potong jatah rakyat, mending satu orang dikasih rangkap jabatan sampai puluh seperti masa presiden kemarin.”
“Oh, itu kan yang kau tengok. Di masa presiden sebelum ini, anggaran untuk influencer dan buzzer ngalah-ngalahin biaya membangun gedung sekolah satu kabupaten. Pokoknya, makin ke sini makin boncos.”
“Apakah kita nanti mampu bayar utang?”
“Jangan kawatir. Sedimen laut masih banyak. Belum lagi nikel, batubara. Masih banyak pulau-pulau kita yang bisa dijual ke negara tetangga.”
Mpok Christine Ricci datang membawa kopi hitam untuk Abang Alfonso yang diam-diam didemenin janda bahenol tanpa anak itu, dan sanger dingin untuk Profesor Hutul Sarbin Taylor.
Sebuah sepeda motor listrik melintas di depan kafe tanpa suara, dan tiba-tiba mogok kehabisan setrum.
“Jangkrik!” pisuh si pengendara semena-mena.
Cikarang, 15 Oktober 2024

