Kamu tak berlama-lama hanyut oleh keindahan nada musik yang tak biasa. Kamu memperhatikan wajah para penari, dan bertanya-tanya apakah kegembiraan yang membuat mulut mereka terbuka lebar dan mata mereka bersinar terang?
Kamu tidak tahu.
Kau memutuskan untuk memilih langkahmu sendiri, jadi kau berpaling. Awalnya, kakimu terasa berat, seakan-akan bukan kakimu sendiri. Tetapi saat kau terus berjalan, langkahmu menjadi lebih mudah.
Kamu percaya bahwa kau beruntung, bahwa kau selaalu lolos dari takdir yang tak ingin kamu jalani, maka kamu tak peduli dengan hujan yang mulai turun.
Tetapi tetesan air yang awalnya rinai gerimis berubah menjadi hujan deras, dan kamu menunduk ke celah di lereng bukit.
Bagian dalam bukit terbuka di hadapanmu seperti benteng yang gelap. Sebuah tangga, yang terkikis di bebatuan oleh jejak kaki peziarah selama ribuan tahun, melingkari tepi ruang dan berputar ke bawah.
Kamu menuruni tangga, dan ketika kamu melakukannya, kenangan pun terurai di dalam kepalamu. Momen terbaik dan terburuk dalam hidupmu terulang dengan sangat jelas yang tidak kamu dapatkan saat pertama kali mengalaminya.
Namun, ada hal lain. Mungkin.
Deretan langkah kaki kedua di tangga. Bisikan, gemerisik samar dalam kegelapan. Cukup mudah untuk diabaikan, untuk berpura-pura bahwa kamu tidak merasakan kehadiran seseorang, atau sesuatu, dalam kegelapan di belakangmu.
Tangga spiral menjadi lebih rapat, tak terhindarkan. Langkah berikutnya mustahil untuk diabaikan. Langkah itu datang setengah ketukan setelah langkahmu, seakan gema bayangan.
Kamu berhenti, berharap siapa pun—dan, oh, betapa kamu berharap itu adalah siapa, di sini dalam kegelapan di bawah bukit—akan terus berjalan melewatimu. Tetapi langkah-langkah itu juga berhenti.
Tentunya, kamu berpikir, kalau orang, atau sesuatu itu bermaksud untuk menyakitimu, pasti sudah dilakukannya dari tadi.
Mengetahui akan lebih baik daripada membayangkan hal-hal yang belum jelas.
Apakah kamu menoleh ke belakang?
Kalau ya, buka halaman 84. Kalau tidak, buka halaman 110.
