Angkat Topi
dok. pri. Ikhwanul Halim

Angkat Topi

Views: 57

Aku dan Syauki bekerja keras membersihkan gudang perkakas milik orang tuanya. Ayah Syauki menawari kami masing-masing lima puluh ribu untuk mengerjakannya, dan aku tidak keberatan. Tentu saja, ternyata pekerjaan itu jauh lebih banyak daripada yang kami perkirakan.

“Wah, sungguh menakjubkan betapa banyaknya sampah yang bisa ditaruh di dalam gudang ini,” kataku sambil ambruk di tanah di samping tumpukan besar perkakas dan kotak.

“Aku juga baru tahu,” kata Syauki.

Dia membuka sebuah kotak kecil. Aku mengingatnya karena beratnya sekitar lima juta ton dan aku hampir kehabisan oksigen saat membawanya keluar dari gudang.

“Apa isinya?” tanyaku.

“Majalah Mancing Mania,” kata Syauki. “Ayahku sudah bertahun-tahun tidak memancing. Kurasa akan kumasukkan ke tumpukan daur ulang untuk dijual ke tukang loak.”

Aku membantunya menyeretnya. Kami memutuskan untuk memilah semuanya menjadi tiga tumpukan: daur ulang, simpan, dan buang. Menjelang akhir pembersihan, aku membuka kotak yang penuh dengan topi.

“Ayah!” teriak Syauki ke arah rumah. “Topi masih mau disimpan?”

“Tidak,” ayahnya berteriak melalui jendela yang terbuka. “Buang saja.”

“Kita harus menyimpan ini,” kataku, sambil mengangkat salah satu topi dari kotak. Topi itu tampak seperti topi olahraga, tetapi tidak ada nama tim. Yang tertulis di pinggirannya hanyalah ENERGI.

Aku memakainya di kepalaku.

Dan aku merasa kuat.

“Hei,” Ayo kita masukkan barang-barang daur ulang itu ke mobil ayahmu,” kataku. Mobil ayah Freddie adalah sebuah VW Combi.

“Tunggu sebentar,” kata Syauki. “Aku capek.”

“Aku masih kuat,” kataku, sambil mengangkat kotak majalah. “Aku punya banyak sekali—”

“Banyak sekali apa?” tanya Syauki.

“Aneh,” gerutuku. Aku baru saja akan mengatakan energi.

“Apa?” tanya Syauki lagi.

Aku meraih kotak topi dan mengambil satu lagi. Tulisannya KEBAHAGIAAN. Sebelum Syauki bisa mengatakan apa pun, aku meletakkan topi itu di kepalanya.

“Baiklah!” teriak Syauki, menyeringai padaku. “Ayo. Ayo kita mulai. Wah, aku senang kita melakukan ini.”

Dia tertawa dan mengangkat sebuah kotak kardus.

Angkat mengangkat tidak masalah bagiku.

Kami memasukkan barang-barang ke dalam mobil van. Aku baru saja memasukkan kotak terakhir ketika mendengar Syauki berkata, “Hei, kejutan yang luar biasa. Itu Harry Keling. Hai, Harry, apa kabar?”

“Tunggu,” kataku, sambil menarik lengan Syauki. Tapi sudah terlambat.

Harry adalah anak paling jahat di kota ini. Dan Syauki baru saja menarik perhatiannya.

Aku menyambar topi Syauki, mengira dia terlalu senang untuk kebaikan kita sendiri. Topi itu tersangkut, menempel ketat di kepalanya. Aku mengulurkan tangan dan mencoba melepaskan topiku. Topi itu juga tersangkut, seperti tutup stoples yang dipasang dengan cara yang salah. Kurasa topi itu bisa lepas kalau aku memaksanya, tetapi aku tidak punya waktu lagi. Harry lari bergemuruh ke arah kami.

“Teruslah bicara,” kataku, sambil berlari ke halaman belakang. Aku membongkar isi kotak topi dan mencari satu yang mungkin bisa menyelamatkan kami. Aku mencampakkan KEMARAHAN dan KEINGINAN. Yang pertama akan membuat kami terbunuh dan yang kedua tampaknya tidak terlalu menjanjikan, terutama kalau itu membuat Harry penasaran tentang cara terbaik untuk menyakiti kami.

Aku meraih KEBAIKAN.

Ini akan berhasil, dan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Aku kembali tepat pada waktunya. Harry telah mencapai Syauki dan sedang memainkan permainan perundungan di mana pemain lain selalu kalah.

“Apa yang kau katakan padaku?” tanyanya.

“Aku bilang hai,” kata Syauki kepadanya. “Dan aku bersungguh-sungguh. Aku sangat senang bertemu denganmu.”

“Kamu melawak?” tanya Harry.

“Hei, pakai topi,” kataku, melemparkan topi itu ke Harry.

Dia meraihnya dan menatapku. Aku takut dia akan membanting topi itu ke tanah. Atau membantingku ke tanah. Tapi dia memakainya.

Dia mendorongnya ke kepalanya. Ke belakang. Dengan pinggiran menghadap ke arah lain. Aku bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada kebaikannya.

Aku langsung mengetahuinya.

“Aku akan menghajar kalian berdua,” kata Harry.

Aku dan Syauki lari tunggang langgang. Setidaknya aku punya banyak energi untuk berlari. Dan Syauki tampak cukup senang.

Untuk saat ini.

Tapi ketika kejahatan menimpanya, itu tidak akan menyenangkan.

Cikarang, 8 Oktober 2024

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *