Terkadang aku tidak bisa tidur di malam hari, atau aku memang tak ingin. Aku tak tahu.
Namun terkadang saat aku tidak tidur, aku menyetir ke supermarket terdekat yang buka 24 jam. Di penghujung malam, hanya ada sedikit pelanggan. Kebanyakan hanya orang-orang yang bekerja di toko, orang-orang bertato dengan mata berair dan wajah-wajah yang memiliki latar belakang meragukan. Aku tampak seperti baru saja keluar dari jendela rumah sakit jiwa dengan baju yang kusut.
Tidak semua orang bisa berbaur nyaman dengan kerumunan di siang hari.
Hampir setiap malam ada palet makanan yang dibungkus plastik di lantai semua lorong. Mereka menggunakan pemotong kotak yang mereka jepit di pinggul mereka untuk mengiris sisi palet dan mengelupas plastik dari tumpukan makanan seperti gaun yang bagian belakangnya beritsleting.
Mereka mengisi ulang rak-rak. Musik di atas kepala lebih keras dari biasanya tanpa adanya pengunjung. Atau mungkin mereka menaikkan volumenya. Neon terang benderang di malam hari secerah matahari pukul dua belas siang.
***
Di lorong susu dan sereal, dua pria duduk di atas kardus susu, mengobrol sambil menurunkan palet. Salah satu dari mereka memiliki tato tengkorak di bagian atas kedua tangannya.
Dia berkata, “Kami mendapatkannya dari tempat penampungan.”
“Oh ya?” kata yang lain.
“Ya. Dia baik-baik saja.”
“Bagaimana dengan putramu?”
Pria bertangan tato tengkorak itu mengangkat bahu sebagai tanggapan.
Yang lain bertanya, “Dia baik di sekitar anak-anak?”
“Ya. Mereka tidur siang bersama.”
“Pitbull, ya?”
“Terrier.”
“Oh. Oke.”
Aku lanjut. Lorong makanan beku itu kosong dari palet dan pekerja. Di tengah lorong, ada kereta belanja dengan kursi mobil bayi terjepit di atasnya. Kereta itu berdesir dan berdeguk. Dua kaki mungil menendang udara berirama.
Aku mengambil wafel bekuku. Aku mengambil beberapa potong pizza. Tidak ada yang datang untuk bayi itu. Aku menunggu. Tetap saja tidak ada yang datang.
Aku berseru, “Apakah ada yang lupa membawa bayi mereka?”
Aku berseru, “Hei, bayi siapa ini?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku memanggil, “Halo.”
Aku berjalan ke lorong susu dan sereal. Kedua pekerja itu sudah tidak ada di sana. Aku menuju ke bagian belakang tempat mereka menjual daging dan ikan, dan berjalan ke lorong berikutnya. Tidak ada seorang pun di sana.
Bayi itu mulai menangis.
Aku kembali ke bagian makanan beku. Selimut bayi kecil itu ada di lantai dan aku mengira bayi itu kedinginan. Aku menidurkan anak itu kembali dan mendorong kereta dorong ke bagian depan supermarket.
Tidak ada seorang pun di situ.
Musik di atas kepala. Bayi itu menangis. Mesin kasir berdengung.
Aku berusaha untuk tidak panik. Aku memanggil lagi dan seorang wanita jangkung yang berjongkok di belakang meja kasir muncul.
Dia berkata, “Siap untuk membayar?”
“Eh, aku menemukan bayi,” kataku padanya.
Dia hanya menatapku, mengunyah permen karet yang ada di mulutnya.
Aku berkata, “Ya, karena … kurasa seseorang meninggalkan bayi. Seperti sengaja meninggalkannya. Di lorong makanan beku.”
“Oh?” Permen karet meletus.
Aku menunggu.
Dia berkata, “Biar aku panggil manajer.”
***
Manajer ternyata pria dengan tato tengkorak di tangannya.
Dia berkata, “Bajingan sialan.”
“Ya.” Aku mengangkat bahu.
“Bajingan—” Pria itu berdiri di sana dengan seluruh tubuhnya mengepal.
Kasir berkata, “Haruskah kita membuat pengumuman, mungkin?”
Manajer itu meraih telepon di dekatnya dan menelepon.
“Perhatian, para pembeli. Ppelanggan yang meninggalkan bayinya di lorong makanan beku silakan datang ke tempat kasir. Teman kalian sudah menunggu.”
“Aku bukan teman mereka,” kataku.
Pria bertato tengkorak itu mengacuhkan kata-kataku.
Tidak ada yang datang menjemput bayi itu.
“Kode Adam?” kata petugas itu.
Manajer itu berkata, “Orang tua hilang. Bukan anak kecil.”
Aku pernah mendengar bahwa orang dapat menitipkan bayi di pemadam kebakaran dan mereka akan memastikan bayi itu sampai di tempat yang aman, tempat yang seharusnya. Aku pikir mungkin rumah sakit juga, tetapi kami akhirnya menelepon nomro darurat.
Sementara kami menunggu, aku pergi ke lorong bayi dan mengambil makanan dan botol susu, lalu menyuapi si kecil.
Kasir itu mengunyah permen karetnya, bertanya apakah aku tahu apa yang kulakukan, bagaimana aku tahu bayi itu tidak alergi atau semacamnya, dan dia berkata dia berharap aku tahu bahwa aku harus membayar untuk “semua perlengkapan bayi itu.”
Tetapi aku hanya menyuapi anak itu dengan sendok dari stoples dengan sendok dinosaurus kecil. Tidak muntah atau apa pun. Bahkan tidak rewel lagi.
Orang-orang yang datang dari dinas sosisal tampaknya ahli dalam apa yang mereka lakukan. Aku menyerahkan bayi itu dan melihat mereka mengikatnya di kursi belakang sebuah minivan. Petugas layanan anak melambaikan tangan dan pergi begitu saja.
Aku tidak pernah kembali untuk membeli bahan makanan. Lupa semuanya, tetapi aku memikirkan pizza yang kutinggalkan malam itu, yang mencair dan basah. Aku yakin seseorang akhirnya membelinya, beku kembali dan mengkristal. Siapa pun orangnya tidak akan pernah tahu mengapa kristal di dalam freezer terbentuk, kalau mereka memikirkannya. Sekarang, setiap kali aku membeli pizza, yang kupikirkan hanyalah tangan-tangan yang menjamahnya. Pembeli lain, petugas stok, pengemudi truk, pekerja pabrik, lebih banyak lagi pekerja pabrik, buruh tani, dan entah siapa saja.
Aku tidak pernah mencari tahu kelanjutan kisah bayi itu. Bukan tidak tahu bagaimana caranya, tetapi aku memikirkan bayi di kereta dorong itu sepanjang waktu, lebih dari yang kuinginkan. Maksudku, yatim piatu, kedinginan, benar-benar sendirian.
Aku masih bisa membayangkannya — momen melihat kereta dorong di lorong kosong itu.
Aku membayangkan sang ibu, perubahan yang pasti terjadi dalam hidupnya. Dan petugas layanan anak, penyelamat jiwa-jiwa yang hilang, siang atau malam.
Aku tidak tahu.
Aku tidak pernah melihat kasir yang mengunyah permen karet itu lagi, tetapi baru-baru ini, selama salah satu perjalanan belanja dini hariku, aku bertukar anggukan dengan manajer bertato itu—semacam ada hubungan di antara kami. Aku merasakannya dan aku tahu dia juga merasakannya, aku kira. Seperti kalau salah satu dari kami harus memilih orang asing untuk dipercaya karena suatu alasan hipotetis, kami berdua akan memilih satu sama lain.
Tetapi tetap saja, orang asing.
Cikarang, 7 Oktober 2024

