Berapa Lama Waktu 24 Jam
dok. pri. Ikhwanul Halim

Berapa Lama Waktu 24 Jam?

Views: 20

Chimera, itulah nama makhluk di cangkirku. Monster yang menyemburkan api dari kepala singa, tubuh kambing, dan ekor ular. Bukan sesuatu yang ingin kamu temui di malam yang gelap, atau malam apapun juga.

Aku membalikkan cangkir, memperhatikan cairan berwarna cokelat berputar di atas makhluk mitologi merah itu. Berapa kali aku melakukan hal yang sama persis.

Lima puluh, seratus, bahkan seribu? Kemudian aku tersadar. Aku telah terjebak dalam satu momen waktu, selamanya minum kopi dari cangkir yang sama. Selamanya melihat binatang buas yang mengerikan itu dan bertanya-tanya tentang asal-usulnya, merenungkan pembuatannya, selamanya memandang sekeliling dapurku yang berantakan. Tumpukan kertas, vitamin, obat-obatan di mejaku, tumpukan cucian di wastafel.

Pada saat itu aku menyadari bahwa itu adalah satu-satunya momen, satu-satunya partikel dalam hidupku, duduk di meja itu, minum kopi dari Chimera Cup, begitulah aku menyebutnya. Dan semua hal lainnya – pergi tidur dan membaca tentang ras kucing, tanda baca, komunitas yang penuh kekerasan, sebut saja, berkendara ke supermarket, menelepon orang yang tidak pernah ada di sana, pergi ke toko yang sepertinya selalu tutup – terjadi dalam jeda dua puluh empat jam yang singkat di antara momen-momen minum kopi itu.

Pemanggang roti berdenting dan melemparkan sepotong roti gandum ke udara hingga mendarat di sudut meja dapur yang berdebu.

Namun, bukankah itu terjadi setiap hari? Atau setiap pengulangan momen yang sedang berlangsung ini?

Aku mengambil roti panggang itu, menyeka debu, mengolesinya dengan mentega, dan mengolesinya lagi dengan selai nanas. –

Aku menggigit roti panggang, memejamkan mata dan menikmati rasa serat dari roti berbiji, nanas madu yang asam, kristal garam laut dalam mentega, mengunyah tanpa henti sampai menjadi pasta yang bisa ditelan. Kemudian seteguk kopi hitam yang dimaniskan dengan terlalu banyak gula aren, berkumur di mulutku, menikmati berbagai sensasi rasa yang mengalir di lidah dan pipiku, kemudian sentakan kafein yang menyegarkan yang merupakan inti dari minum kopi.

***

“Tom, si tua Bowo ingin laporanmu setelah makan siang.”

“Apa?” kataku, “Kamu yakin? Catatanku hari Jumat.”

Marcy menganggukkan rambut ikalnya yang berwarna kastanye. “Sayangnya begitu, Tom, kamu seharusnya memperhatikan memo itu tempo hari. Lebih baik segera selesaikan perhitungan itu!”

Aku mengalihkan pikiranku dari kardigan merah ketatnya ke layar laptop dan mulai membuka semua jenis lembar kerja.

Tidak ada makan siang untukku hari ini. –

Setelah satu jam, aku merasa lebih tenang. Aku sudah bisa membayangkan angka penjualan berbagai kendaraan pertanian yang kami pasarkan. mulai dari traktor selebar 65 cm hingga truk raksasa dengan kabin melingkar yang tampak seperti sesuatu dari serial fiksi ilmiah di televisi. Hanya perlu ringkasan yang bisa menembus kepala tebal lelaki tua itu, tetapi pertama-tama aku memutuskan untuk mengambil roti lapis.

Mulutku berair saat membayangkan roti putih lembut yang diolesi mentega, berlapis keju asam, dan diolesi chutney hijau yang menyegarkan.

Saat menyeberang jalan dalam perjalanan singkat ke kantin, sebuah sepeda motor berhenti. Aku mengenali helm merah bergaris putih itu. Fanny, dari departemen SDM.

“Hai Ben, mau jalan-jalan?”

“Apa? Nggak mungkin, Fan, Aku sibuk banget. Lagi pula aku nggak punya helm.”

Fanny sudah siap. Dia mengulurkan tangan ke belakang dan melemparkan helm perak berkilau. Dia tertawa.

“Ayo Ben, jalan-jalan sebentar saja!”

Maka aku berpegangan pada tubuhnya yang terbungkus kulit, merasa sedikit konyol dengan jas dan dasiku, tetapi gembira dengan deru mesin dan bau udara laut saat kami melaju di sepanjang jalan setapak.

Di atas, burung camar berputar-putar di langit biru. Saat itu akhir musim panas, tetapi hari yang sejuk dengan angin segar. Aku sadar aku bahagia, hanya untuk keluar, mengendarai sepeda motor beraroma bensin yang menggelegar, dengan lenganku memeluk seorang wanita muda yang cantik.

Kemudian dia berhenti di sebuah bukit pasir terpencil, melepas helmnya, tertawa, rambut cokelatnya terurai di atas jaket kulit hitamnya. Kemudian helmnya terlepas, bersama dengan celana panjang dan atasan hijaunya. “Ayo Ben, lepas perlengkapanmu, aku ingin bercinta!”

Hari mulai menghangat saat aku menanggalkan jas dan dasiku, melepas kemejaku, berharap aku tidak terlihat terlalu pucat. Fanny berkulit agak gelap, kupikir ibunya orang Timor atau semacamnya. Dia sudah melepas bra dan celana dalamnya dan aku merasakan dagingnya yang hangat menempel di dagingku, mencium keringat dan aroma wajahnya saat bibir kami bertemu dan aku merasakan lidahnya yang bergerak-gerak. Lalu terdengar suara benturan. Aku mendongak dan melihat roti panggang itu jatuh di sudut berdebu yang sama lagi. Aku menyesap kopi susu yang kental dan manis dari Cangkir Chimera-ku.

24 jam lagi telah berlalu.

CIkarang, 1 Desember 2024

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *