Aku yakin ini semua semacam halusinasi, tapi kucing itu sudah berbicara denganku selama tiga hari. Itu dimulai pada hari pertama kami terjebak banjir. Hanya aku dan kucingku, terjebak di sini, di pondok di sebelah sungai, oleh badai musim hujan terbesar yang pernah kulihat selama lebih dari dua puluh tahun musim hujan di Jawa Barat.
Aku pindah dari kota sekitar enam bulan yang lalu, memutuskan sudah waktunya untuk sedikit bersantai setelah perceraianku, untuk mencoba menikmati hidup, jadi aku menyewa pondok ini dan pindah dari apartemen kecil kami di pusat kota pada akhir musim kemarau. Hanya aku dan kucingku.
Tempat ini memang nyaman untuk tinggal, tenang, tetangga terdekatku sekitar lima ratus meter di garis bantaran sungai. Sungai itu biasanya tenang dan tidak banyak lalu lintas perahu di musim hujan. Aku masih bisa sampai ke kota dalam waktu sekitar setengah jam kalau aku membutuhkan sesuatu—tentu saja tidak sekarang saat banjir, tapi hampir setiap hari biasa aku bisa.
Cukup terpencil, tapi aku sudah menonton banyak peringatan di TV tentang badai yang akan datang, jadi aku membeli persediaan. Ketika hujan badai besar dan basah mulai turun, aku membuat api unggun, lalu aku dan kucingku duduk di kursi dekat jendela depan yang besar, menyaksikan air hujan mulai menggenang.
Sekitar waktu air mencapai dasar jendela, kucing itu mendongak ke arahku dan berkata, “Wah, sepertinya kali ini akan sangat parah.”
Aku sudah memelihara kucing ini selama kurang lebih 7 tahun, dan dia tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun sampai sekarang. Aku tidak ingin pembaca berpikir aku gila atau semacamnya, jadi tenang saja. Aku sedikit panik ketika itu mulai terjadi.
Aku rasa aku seperti melompat dari kursi dan menjatuhkan beberapa barang, mungkin terlihat sedikit takut, karena kata-kata kucing berikutnya adalah, “Hei, bro, tenanglah! Ini aku yang bicara,” seolah-olah itu hal biasa ketika hewan peliharaanmu berbicara kepadamu.
Aku melakukan semua yang kurasa harus dilakukan untuk memastikan aku masih waras. Memeriksa suhu tubuhku, memeriksa denyut nadiku—mungkin aku sudah mati tapi tidak menyadarinya—berhenti minum kopi, melihat diriku di cermin kamar mandi—tidak tahu kenapa, hanya ingin melihat apakah aku terlihat gila, akhirnya menelepon sahabatku di kota—tapi tidak tega memberitahunya bahwa kucing itu sedang berbicara denganku.
Kucing itu hanya mengikutiku berkeliling pondok, mencoba menenangkanku.
“Begini, sebenarnya tidak masalah, aku hanya memutuskan sudah waktunya untuk sedikit membuka komunikasi, kau tahu? Maksudku, kita akan terjebak di sini bersama selama beberapa hari, dan kupikir akan lebih baik kalau kita mengobrol untuk menghabiskan waktu.”
Butuh beberapa saat, tapi akhirnya aku tenang dan akhirnya menyadari bahwa dia benar. Sedikit obrolan akan menyenangkan. Jadi, sejak saat itu kami mengobrol hampir tanpa henti tentang apa pun yang terlintas dalam pikiran. Kami mengobrol tentang politik, agama, pekerjaan, hubungan, memasak, film, anjing, tikus … apa pun itu, kami membicarakannya.
Kami tidak selalu sepakat dalam segala hal, tetapi biasanya kami bisa menemukan titik temu agar dialog tidak tersendat. Dia sebenarnya cukup menghibur dan lucu, kucing itu, dengan cara yang garing dan sarkastis, dan secara mengejutkan juga bijak tentang dunia, terutama mengingat dia telah menjadi kucing rumahan sepanjang hidupnya dan hampir semua yang dia ketahui tentang peradaban didasarkan pada apa yang dia pelajari di TV—dan hanya TV yang kupilih untuk kutonton sendiri, berharap aku lebih banyak menonton Discovery atau CNN dan lebih sedikit infotainment.
Aku juga belajar banyak tentang dia. Ternyata dia benci makanan kucing rasa ikan. Siapa sangka?
Senang sekali bisa memiliki teman lagi, dan pagi ini ketika aku melihat hujan baadai akhirnya berhenti, dan melihat matahari mengintip dari balik awan, aku menyadari bahwa banjir akan segera surut, dan segera setelah itu, sekitar satu atau dua hari lagi, aku akan bisa keluar pondok dan orang-orang di kantor akan menungguku kembali bekerja.
Kurasa itu hal yang baik. Kami mulai kehabisan bahan makanan dan minuman di kulkas, tapi aku juga agak sedih. Aku punya firasat kalau nanti aku kembali ke dunia nyata, kucing itu akan berhenti bicara, dan itu akan sangat disayangkan.
Senang rasanya punya teman.
Cikarang, 30 Juli 2025

