Tulang Belulang
Tulang Belulang

Tulang Belulang

Views: 16

Kami hanyalah tulang belulang sekarang. Perlahan runtuh, berubah menjadi cokelat tua di bawah terik matahari. Hanya bayang-bayang gelap dari apa yang dulu menjadi kami.

Tidak selalu seperti ini.

Dulu, di sini ramai, hampir sesak.

Yah, mungkin kau tak pernah bisa menyebutnya sesak. Tidak dengan langit hampa yang menggantung di atas kepala. Tidak dengan bukit-bukit kering kerontang yang bergulung selamanya ke segala arah. Tidak dengan angin dingin yang menderu di celah-celahnya.

Namun, hanya itu yang menemani kami sekarang. Aku dan tulang-tulang tua lainnya. Kami duduk dan menyaksikan musim perlahan berganti, dari hijaunya musim semi yang singkat dan hamparan bunga yang hanya bertahan beberapa minggu, menjadi panasnya musim kemarau yang menyengat, menjadi hujan lumpur musim gugur, yang mengarah ke kekosongan musim dingin yang membekukan ketika kami bersembunyi terpuruk di bawah salju, merasakan es menembus sisa-sisa jiwa kami, perlahan-lahan memecah belah kami.

Namun dulu, jauh lebih dari itu. Ada pria dan wanita di sini yang punya tujuan. Visi dan misi. Mereka datang untuk sebuah janji yang terkubur di bawah kami, sebuah janji kekayaan, sebuah janji kemerdekaan dan kebebasan.

Mereka datang dalam jumlah ribuan, dan untuk sementara, kami jauh lebih dari sekadar tulang belulang. Kami penuh tawa, cinta, dan harapan. Kami adalah rumah, toko, sekolah, dan warung kopi. Kami berdiri dan menyaksikan orang-orang diuji dalam berbagai hal, oleh kekurangan air, kerja keras yang brutal, panas dan dingin, dan terutama oleh satu sama lain.

Mereka adalah pria dan wanita tangguh, jiwa-jiwa independen yang disatukan oleh satu hal: keyakinan akan masa depan yang lebih baik daripada kehidupan yang telah mereka tinggalkan.

Namun janji yang terpendam menuntut ganti rugi dan biaya pengganti. Dan meskipun mereka mencoba membayar dengan keringat dan keterasingan mereka, ternyata itu adalah janji yang sebenarnya hanya untuk segelintir orang. Untuk segelintir orang pertama, dan sebuah janji yang pada akhirnya terbukti cepat berlalu.

Maka, pada akhirnya, para pengikut menghela napas, mengangkat bahu, dan pergi begitu saja. Ada peluang baru di balik bukit, dan mereka melakukan apa yang selalu dilakukan para pengikutnya. Mereka mengejar impian ke mana pun mereka pergi. Kami tetap tinggal, tulang belulang tua ini, dan kami tidak merasa dikhianati. Mereka menyebut kami kota hantu, tapi sebenarnya tidak ada hantu di sini. Hanya kenangan. Dan kenangan cukup baik.

Dan akan bertahan sedikit lebih lama.

Jawa Barat, 4 Agustus 2025

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *