Aku selalu memimpikanmu dan kereta api.
Beginilah akhirnya:
Ada kereta api, ada dirimu, lalu hanya ada kereta api.
***
Terkadang kita berada di dalam kereta, bersama-sama. Ini mimpi favoritku karena aku di sampingmu.
Kau duduk di dekat jendela dan kau tertidur—wajahmu tanpa kerut, kelopak mata bergetar karena penglihatan rahasia, mimpi buruk yang tersembunyi. Di luar kaca yang kotor, kegelapan terbentang sementara kereta api mengayun kita, pelan, seperti aku mengayunmu saat kamu masih cukup kecil untuk dipeluk. Bayangan kita tertumpangkan pada dunia luar, melayang, bagai langit dan awan di air.
Kita adalah penampakan yang tak pasti, dan, untuk sesaat, aku takut kita hanyalah bayangan. Mungkin tak ada aku, tak ada kamu, tak ada kita, hanya bayangan-bayangan ini yang melayang di dunia tanpa menjadi bagian darinya. Dan kalau aku mencoba menyentuhmu di saat-saat mengerikan itu, tanganku akan tercelup ke dalam air dingin, merusak apa yang kupikirkan sebagai kita.
Lalu kamu terbangun dan menatapku. Lalu kamu tersenyum, dan aku tahu siapa diriku lagi, bahwa aku nyata, bahwa kaum nyata, bahwa inilah dunia sebagaimana mestinya.
***
Terkadang, akulah yang mengemudikan kereta. Akulah masinisnya. Malam hari dan aku menyusuri rel dengan kecepatan tinggi, menyusuri bagian sempit tempat tanaman merambat dan semak-semak menggantung di tepi beton dari atas. Tempat burung pipit bersarang. Kamu tahu tempatnya). Aku terbiasa dengan bau solar dan logam, derak roda di rel, berpegangan pada cangkir kopiku yang berinsulasi, menyenandungkan lagu lama untuk diriku sendiri.
Dan di sanalah kamu. Hanya seorang bocah kecil, bahu yang terlalu ramping untuk memikul beban dunia, tertatih-tatih di sepanjang rel. Seolah-olah kamu tak mendengar kereta yang mendekat dengan segala baja, karat, dan tanahnya yang berlumuran hujan. Seakan-akan kamu tak merasakan dentuman kedatangannya melalui sol sepatumu. Gemuruhnya di udara malam yang dingin. Gemeretak paku dan bantalan rel bergetar menembus kerikil dan bebatuan tajam di bawahmu.
Mungkin kamu memakai headphone. Mungkin kamu mabuk atau sakit. Atau mungkin kamu memilih berjalan kaki di sini, tahu kereta akan datang.
Saat melihatmu, aku melakukan apa pun yang dilakukan masinis. Kubunyikan peluit. Kuinjak rem, tetapi keretanya terlalu berat, terlalu panjang, kurang lebih seratus gerbong. Kurang lebih. Gerbong barang dan gerbong pelontar, balok tengah dan gerbong tangki. Mengangkut batu bara, bijih besi, kayu. Atau mungkin itu kereta penumpang, penuh orang, berisi semua cinta dan kesepian. Atau mungkin gerbong-gerbongnya kosong. Isinya sudah dibongkar, grafiti cat semprot di sisi-sisi gerbong tampak samar-samar bercahaya di kegelapan bertabur bintang.
Tak masalah. Kamu di depan kereta dan aku tak bisa menghentikannya.
***
Terkadang, kamu menelepon di tengah malam.
“Hei,” sapamu, dan suaramu bagaikan duri perak penderitaan. Bagai duri-duri kecil pada kaktus yang terasa sakit meski kamu tak melihatnya, apalagi mencabutnya dari kulitmu. Meski aku masih mengantuk, aku bangun dari tempat tidur.
“Di mana kamu?” tanyaku, dan kamu terdiam begitu lama sampai-sampai aku takut kamu menutup telepon.
Aku mengenakan pakaianku, meraba-raba dompet dan kunciku. Kacamataku berembun kedinginan saat aku masuk ke dalam mobil. Aku berkendara menembus kegelapan, melewati minimarket 24 jam dan melintasi rel kereta. Mobilku berantakan, begitu pula aku, tapi kamu di sana, menunggu di trotoar. Kamu tak tersenyum saat melihatku, tapi kamu masuk ke dalam mobil dan hanya itu yang penting.
Saat kita pergi, aku mendengar bel berdentang di perlintasan kereta api.
***
Terkadang, aku bersusah payah membangun mesin waktu dan kembali ke masa lalu untuk menghentikan kereta api diciptakan. Tapi sulit sekali menghentikan sebuah ide ketika dia bertekad untuk menjadi kenyataan.
***
Terkadang, kita seperti perampok kereta, kamu dan aku. Tokoh dari film koboi lama yang manis. Kita memakai sepatu bot kulit ular, denim pudar, dan bandana. Kita merampok kereta. Kita pergi. Kudaku berwarna cokelat tua yang tenang. Kudamu roan biru yang mencolok.
Kamu berkuda begitu cepat melintasi rerumputan keemasan padang rumput hingga aku merinding melihatnya. Mencondongkan tubuh rendah di atas leher kudamu, mendorongnya, rambut panjangmu berkibar bak panji peperangan di belakangmu, dan aku tahu kamu tersenyum meskipun aku tak bisa melihat wajahmu karena kamu telah meninggalkanku begitu jauh.
Aku tak keberatan tertinggal. Kamu selalu bergerak di dunia ini dengan kepakan sayap burung pipit yang cepat, atau terbang tinggi, bagai ujung tombak yang menembus cahaya rasi bintang.
***
Aku tak suka mimpi keenam.
Dalam mimpi keenam, aku tidur melewati semuanya, aman dan hangat di ranjangku sendiri, tak menyadari kamu sedang berjalan di rel kereta. Dalam mimpi keenam, aku tak melihatmu, tak mendengarmu, tak bisa menolongmu. Mungkin kamu memanggil dan aku tak menjawab. Atau mungkin kamu tak pernah memanggil, karena kamu pikir aku tak peduli atau cukup mencintaimu untuk datang saat kamu membutuhkanku.
Beginilah mimpi keenam berjalan:
Ada kereta api dan ada dirimu, lalu hanya ada kereta api.
***
Saat aku membuka mata, aku tak mendengar suara kereta. Aku masih merasakan dengungannya di bawah kakiku, tapi aku tak tahu apakah dia mendekat atau menjauh.
Berdiri di luar pintu kamarmu, aku mendengarkan suaramu, getaran napasmu, kepakan sayap burung pipit. Berharap kamu di sini, berharap kamu tetap di sini, berharap kita berdua terjaga.
Cikarang, 17 September 2025

