Legenda Rübezahl
dok. pri. Ikhwanul Halim

Legenda Rübezahl

Views: 56

Di dunia bawah tanah yang luas, kurcaci gunung bernama Rübezahl adalah penguasanya, dan sebagai penguasa dia cukup sibuk mengurus wilayah kekuasaannya. Ada banyak ruang harta karun yang harus dijelajahi, dan banyak kurcaci yang harus menjalankan tugas. Beberapa membangun penghalang kuat untuk menahan sungai lahar di jantung bumi, dan beberapa mengatur uap panas untuk mengubah batu kusam menjadi logam mulia, atau bekerja keras mengisi setiap celah batu dengan berlian dan rubi, karena Rübezahl mencintai semua hal yang indah.

Terkadang sesekali dia meninggalkan dunia bawah tanah yang gelap dan keluar ke permukaan bumi yang hijau sebentar, dan berjemur di bawah sinar matahari serta mendengar burung-burung berkicau. Dan karena kurcaci hidup sampai ratusan tahun, dia melihat hal-hal aneh.

Saat pertama kali dia naik ke permukaan, bukit-bukit besar tertutup hutan lebat, tempat hewan-hewan liar berkeliaran, dan Rübezahl menyaksikan pertarungan sengit antara beruang dan bison, atau mengejar serigala abu-abu, atau menghibur dirinya dengan menggulingkan batu-batu besar ke lembah-lembah terpencil, untuk mendengar gemuruh jatuhnya batu-batu itu bergema di dinding jurang dan lembah. Namun, saat berikutnya ia memberanikan diri untuk naik ke atas tanah, betapa terkejutnya dia saat mendapati segalanya sudah berubah! Hutan-hutan ditebang, dan sebagai gantinya muncul kebun-kebun buah yang berbunga di sekeliling pondok-pondok beratap jerami yang tampak nyaman. Dari setiap cerobong asap, asap biru mengepul dengan damai ke udara. Domba dan sapi makan di padang rumput yang berbunga, sementara dari naungan pagar-pagar tanaman terdengar alunan musik seruling gembala.

Keanehan dan kesenangan pemandangan itu begitu menyenangkan si kurcaci sehingga dia tidak pernah berpikir untuk membenci gangguan dari tamu-tamu tak terduga ini, yang, tanpa pernah minta izin padanya telah membuat diri mereka betah di bukit-bukitnya. Dia juga tidak ingin mencampuri urusan mereka, tetapi membiarkan mereka tinggal dengan tenang di rumah mereka, seperti seorang pemilik rumah yang baik yang membiarkan burung layang-layang membangun sarang di bawah atapnya tetap tenang.

Dia memang sangat ingin berteman dengan makhluk yang disebut “manusia” ini. Maka dengan menyamar sebagai seorang tua pekerja ladang, dia bekerja pada seorang petani. Di bawah perawatannya semua tanaman tumbuh subur, tetapi tuannya terbukti boros dan tidak tahu berterima kasih, dan Rübezahl segera meninggalkannya dan menjadi gembala tetangga berikutnya.

Dia menggembalakan kawanan domba dengan sangat tekun, dan tahu betul ke mana harus membawa domba-domba ke padang rumput yang paling manis, dan di mana di antara bukit-bukit untuk mencari domba yang tersesat, sehingga mereka juga makmur di bawah perawatannya. Tidak seekor domba pun pun yang hilang atau dicabik-cabik oleh serigala. Tetapi tuannya yang baru ini adalah orang yang keras dan enggan memberinya upah yang layak.

Maka dia melarikan diri dan menjadi pelayan seorang hakim. Dia menegakkan hukum dengan tegas, sehingga ditakuti teror pelaku kejahatan. Tetapi hakim itu orang jahat yang menerima suap dan membenci hukum.

Rübezahl yang tidak ingin menjadi kaki tangan orang yang tidak adil, dan begitulah yang ia katakan kepada tuan hakim, yang kemudian memerintahkannya untuk dijebloskan ke penjara.

Tentu saja hal itu tidak mengganggu kurcaci itu sama sekali. Dia keluar melalui lubang kunci dan pergi ke istana bawah tanahnya, sangat kecewa dengan pengalaman pertamanya dengan manusia.

Namun, seiring berjalannya waktu, dia melupakan hal-hal tidak menyenangkan yang pernah terjadi padanya, dan berpikir untuk melihat lagi dunia atas.

Maka dia menyelinap ke lembah, bersembunyi dengan hati-hati di semak-semak pagar tanaman, dan segera mendapatkan sebuah petualangan. Mengintip melalui tabir dedaunan, dia melihat lapangan rumput hijau. Seorang gadis yang menawan sedang berdiri, segar seperti musim semi, dan cantik dipandang mata. Di sekelilingnya, di atas rumput, berbaring teman-temannya, seolah-olah mereka membaringkan diri mereka ke rumput untuk beristirahat setelah memainkan permainan yang menyenangkan. Di seberang mereka mengalir sebuah sungai kecil, tempat air terjun melompat dari batu yang tinggi, memenuhi udara dengan suaranya yang gemericik, dan membuat suasana sejuk bahkan di siang hari yang gerah.

Melihat gadis itu begitu menyenangkan bagi kurcaci itu, sehingga untuk pertama kalinya dia berharap dirinya menjadi manusia biasa. Karena ingin melihat lebih dekat, dia mengubah dirinya menjadi seekor burung gagak dan bertengger di atas pohon pasang yang menjorok ke sungai. Tetapi dia segera menyadari bahwa ini sama sekali bukan rencana yang bagus. Ia hanya bisa melihat dengan mata gagak, dan merasakan apa yang gagak rasakan. Sarang tikus sawah di kaki pohon lebih menarik perhatiannya daripada kesenangan para gadis.

Ketika dia menyadari hal ini, dia terbang turun lagi dengan tergesa-gesa ke balik semak-semak, dan berubah wujud menjadi seorang pemuda tampan—itulah cara terbaik—dan detik itu juga dia jatuh cinta pada gadis tersebut.

Gadis cantik itu adalah putri raja negeri itu, dan dia sering berkeliaran di hutan bersama teman-temannya untuk memetik bunga-bunga liar dan buah-buahan, sampai panasnya siang hari membawa kelompok yang sedang bersenang-senang itu ke lapangan yang teduh di tepi sungai untuk beristirahat, atau untuk mandi di air yang sejuk.

Pagi itu, mereka tergoda untuk berkeliaran lagi ke hutan. Inilah kesempatan bagi Rübezahl.

Melangkah keluar dari tempat persembunyiannya, dia berdiri di tengah lapangan kecil itu, merapal mantra-mantra sihirnya, sampai perlahan-lahan semua di sekitarnya berubah, dan ketika para gadis itu kembali pada siang hari ke tempat mereka beristirahat tersebut, mereka tercengang dan mengira mereka pasti sedang bermimpi.

Batu-batu merah telah berubah menjadi marmer dan pualam putih. Sungai yang sebelumnya bergemuruh dan mengalir deras di dasar sungai yang berbatu, kini mengalir dalam keheningan dan sebuah air mancur yang jernih menyembur  lalu jatuh lagi dalam bentuk hujan tetesan berlian, kadang di sebelah sini kadang di sisi sana saat angin sepoi-sepoi menyebarkannya. Bunga pikok dan bunga mamung menghiasi tepiannya, sementara pagar tinggi mawar dan melati mengelilinginya, membuat tempat mungil itu menjadi tempat yang paling indah yang bisa dibayangkan. Di sebelah kanan dan kiri air terjun terbuka sebuah gua. Dinding dan lengkungannya berkilauan dengan batu mulia berwarna-warni, sementara di setiap ceruk tersebar buah-buahan dan manisan yang aneh yang hanya melihatnya saja sudah membuat sang putri ingin mencicipinya.

Namun, dia ragu-ragu sejenak, hampir tidak bisa mempercayai matanya, dan tidak tahu apakah dia harus memasuki tempat yang mempesona itu atau lari menjauh. Tetapi pada akhirnya rasa ingin tahu yang menang. Putri beserta teman-temannya menjelajahinya sepuasnya, mencicipi dan memeriksa semuanya, berlarian ke sana kemari dengan gembira, dan saling berseru dengan riang.

Akhirnya, ketika mereka sudah sangat lelah, sang putri tiba-tiba berteriak bahwa tidak ada yang bisa memuaskannya selain mandi di kolam pualam, yang tentu saja tampak sangat menarik. Mereka semua pergi dengan riang ke tempat hiburan baru ini. Sang putri sudah siap terlebih dahulu, tetapi begitu dia tergelincir dari tepi kolam, dia tenggelam dan menghilang di dalam air sebelum teman-temannya yang ketakutan dapat menangkap sejumput rambut emasnya yang mengambang.

Mereka menangis dan meratap dengan keras, berlarian di tepi kolam yang tampak begitu dangkal dan jernih tetapi telah menelan sang putri di depan mata mereka. Mereka bahkan melompat ke dalam air dan mencoba menyelam mengejarnya, tetapi sia-sia. Mereka hanya mengapung seperti gabus di kolam ajaib, dan tidak dapat menyelam ke dalam air.

Akhirnya mereka menyadari bahwa tidak ada cara lain selain menyampaikan kabar duka tentang hilangnya sang putri kepada raja. Ratapan dan tangisan di istana pecah ketika berita mengerikan itu sampai ke telinga raja. Raja merobek jubahnya, mencopot mahkota emasnya dari kepalanya, dan menyembunyikan wajahnya di balik jubah ungunya karena kesedihan dan duka yang amat sangat atas kehilangan sang putri. Namun, setelah ratapan pertama meledak, raja bergegas pergi untuk melihat sendiri kejadian aneh ini, sambil berpikir, selayaknya orang yang sedang bersedih, bahwa mungkin saja ada kekeliruan.

Namun, ketika raja sampai di tempat itu, semuanya sudah berubah kembali seperti semula. Gua berkilauan yang diceritakan kepadanya oleh para gadis telah hilang, begitu pula dengan kolam pualam, dan pondok melati.  Sebaliknya, yang ada hanya hamparan sulur bunga merambat seperti di masa lalu.

Raja sangat bingung sehingga dia mengancam teman-teman bermain sang putri dengan segala macam hukuman jika mereka tidak mau mengakui sesuatu tentang hilangnya sang putri, tetapi karena mereka hanya mengulang cerita yang sama, dia menganggap seluruh kejadian itu sebagai ulah peri atau goblin, dan mencoba menghibur dirinya sendiri atas kehilangannya dengan memerintahkan perburuan besar-besaran, karena raja tidak tahan menderita lama-lama.

Sementara itu, sang putri sama sekali tidak sedang bersedih di istana kekasihnya. Ketika para peri air yang  menangkapnya dan menyeretnya keluar dari pandangan para pengiringnya yang ketakutan, dia sendiri belum sempat merasa takut. Para peri air berenang bersamanya dengan cepat melalui jalan bawah tanah yang aneh ke sebuah istana yang sangat megah, sehingga istana ayahnya tampak bagaikan pondok reyot jika dibandingkan dengan istana itu. Ketika dia tersadar dari keterkejutannya, putri mendapati dirinya duduk di sebuah sofa, terbungkus jubah satin yang indah yang diikat dengan ikat pinggang sutra, sementara di sampingnya berlutut seorang pemuda tampan yang membisikkan bujik rayu termanis yang bisa dibayangkan di telinganya.

Kurcaci itu, begitulah pemuda tampan itu sebenarnya, menceritakan semua tentang dirinya dan kerajaan bawah tanahnya yang besar, dan segera menuntun putri melewati banyak ruangan dan aula istana, dan menunjukkan padanya benda-benda langka dan menakjubkan yang dipajang di sana membuat putri sungguh terpesona melihat kemegahannya. Di tiga sisi istana terhampar taman yang indah dengan bunga-bunga yang cantik dan harum mewangi, dan halaman rumput beludru yang semuanya sejuk dan teduh yang indah dipandang mata sang putri. Pohon buah-buahan bergantung apel emas dan merah muda, dan burung bulbul bernyanyi di setiap semak dan dahan, saat kurcaci dan sang putri berkeliaran di lorong-lorong yang rindang. Terkadang menatap bulan, terkadang berhenti untuk mengumpulkan bunga-bunga terlangka untuk hiasannya.

Sepanjang waktu Rübezahl berpikir dalam hati bahwa tidak pernah selama ratusan tahun hidupnya dia melihat gadis yang begitu menawan. Tetapi sang putri tidak merasakan perasaan yang sama dengannya. Terlepas dari semua keajaiban di sekelilingnya, dia sedih, meskipun dia mencoba untuk tampak senang, karena takut membuat kurcaci itu marah. Akan tetapi, Rübezahl segera menyadari kesedihan putri dan dengan seribu cara berusaha mengusir awan gelap dari aura sang putri, tetapi sia-sia.

Akhirnya Rübezahl berkata dalam hati, “Manusia adalah makhluk sosial yang suka bergaul, seperti lebah atau semut. Tidak diragukan lagi, makhluk fana yang cantik ini sedang merindukan teman. Siapa yang bisa kutemukan untuk menemani sang putri?”

Kemudian dia bergegas ke ladang terdekat untuk menggali selusin lebih umbi yang berbeda—wortel, lobak, dan ubi—dan meletakkannya dengan hati-hati dalam keranjang yang cantik, lalu membawanya kepada sang putri yang duduk termenung di bawah naungan bunga mawar.

“Putri bumi yang paling cantik,” kata kurcaci itu. “Buanglah semua kesedihanmu. Kamu tidak akan lagi kesepian di istanaku ini. Dalam keranjang ini ada semua yang kamu butuhkan untuk membuat tempat ini menyenangkan bagimu. Terimalah tongkat sihir kecil ini, dan sentuhlah salah satu umbi ini agar menjadi bentuk yang kamu inginkan.”

Kemudian dia meninggalkan sang putri yang tanpa menunda waktu sedetik pun, membuka keranjang itu. Sambil menyentuh lobak, dia berseru dengan penuh semangat, “Brunhilda, Brunhilda sayang! Cepatlah datang kepadaku!”

Benar saja. Brunhilda mendadak ada di sana, memeluk dan mencium putri kesayangannya dengan gembira, dan berceloteh riang seperti di masa lalu.

Kemunculan Brunhilda yang mendadak begitu menyenangkan, sehingga sang putri hampir tidak dapat mempercayai pmatanya sendiri. Putri sangat gembira karena bisa kembali bersama teman bermainnya yang tersayang.

Sambil bergandengan tangan, mereka berjalan-jalan di taman ajaib, memetik apel emas dari pohon-pohonnya, dan ketika mereka sudah bosan dengan hiburan ini, sang putri mengajak temannya melewati semua ruangan istana yang indah, hingga akhirnya mereka tiba di ruangan yang menyimpan gaun dan perhiasan yang diberikan kurcaci itu kepada calon istrinya.

Di sana mereka menemukan begitu banyak pernak-pernik yang menghibur sehingga jam berlalu bagai menit. Kerudung, ikat pinggang, dan kalung dicoba dan dikagumi, Brunhilda gadungan tahu betul bagaimana berperilaku, dan menunjukkan begitu banyak sifat manusia sehingga tidak seorang pun akan menduga bahwa dia hanyalah lobak.

Rübezahl yang diam-diam mengawasi mereka sangat senang  karena telah memahami dengan baik hati seorang wanita, dan sang putri tampak baginya lebih menawan daripada sebelumnya.

Putri tidak lupa menyentuh sisa umbi dengan tongkat sihirnya, dan segera semua teman gadisnya ada di sekitarnya. Bahkan, karena dia punya dua lobak kecil, berubah menjadi kucing kesayangannya Petra dan anjing kecilnya yang bernama Beni.

Semua berjalan dengan riang di istana. Sang putri memberi setiap gadis tugasnya

Selama seminggu penuh dia menikmati kesenangan dari teman-temannya yang menyenangkan tanpa gangguan. Mereka semua bernyanyi, menari, bermain dari pagi hingga malam, tetapi sang putri memperhatikan bahwa hari demi hari wajah muda sahaba-sahabatnya yang segar menjadi pucat dan berkerut, dan cermin di aula marmer besar menunjukkan kepadanya bahwa hanya dia yang masih menjaga mekarnya yang merah muda, sementara Brunhilda dan yang lainnya semakin memudar.

Mereka meyakinkannya bahwa semuanya baik-baik saja. Namunmereka terus merana, dan hari demi hari menjadi lebih sulit bagi mereka untuk ikut ambil bagian dalam permainan sang putri, sampai akhirnya, pada suatu pagi yang cerah, ketika sang putri bangun dari tempat tidur dan bergegas keluar untuk bergabung dengan teman-teman bermainnya yang ceria, dia menggigil dan mundur saat melihat sekelompok nenek tua keriput, dengan punggung bungkuk dan anggota badan gemetar, yang menopang langkah mereka yang sempoyongan dengan tongkat dan terbatuk-batuk.

Sedikit lebih dekat ke perapian berbaring Beni yang dulunya suka bermain-main, dengan keempat kakinya terentang kaku, sementara Petra kucingnya yang kini kurus kering tampak terlalu lemah untuk mengangkat kepalanya dari bantal beludrunya.

Sang putri yang ketakutan berlari ke pintu untuk melarikan diri dari pemandangan yang menakutkan itu dan memanggil kurcaci dengan keras, yang segera muncul, dengan rendah hati ingin melakukan perintahnya.

“Orang Jahat,” teriak Sang Putri, “mengapa kamu tidak mau menjadi teman bermainku—kesenangan terbesar di saat-saat kesepianku? Bukankah hidup menyendiri di padang pasir seperti ini sudah cukup buruk tanpa kamu ubah istana ini menjadi rumah sakit untuk orang tua? Kembalikan kemudaan dan kesehatan gadis-gadisku saat ini juga, atau aku tidak akan pernah mencintaimu!”

“Putri yang paling manis dan cantik,” jawab kurcaci itu. “Jangan marah. Ssemua yang ada dalam kekuasaanku akan kulakukan—tetapi jangan minta yang mustahil. Selama getah masih segar di akar, tongkat sihir itu bisa menjaga mereka dalam bentuk yang kamu inginkan, tetapi ketika getahnya mengering, akar-akar itu akan layu. Namun jangan pernah repot-repot tentang itu, sayangku, sekeranjang lobak segar akan segera menyelesaikan masalah, dan kamu dapat dengan cepat memanggil kembali setiap bentuk yang ingin kamu lihat. Hamparan hijau yang luas di taman akan memberimu teman yang lebih hidup.”

Setelah berkata demikian, kurcaci itu pergi. Dan sang putri dengan tongkat sihirnya menyentuh wanita-wanita tua yang keriput itu, dan membiarkan mereka tetap dalam bentuk akar yang layu, untuk dibuang ke tumpukan sampah; dan dengan langkah ringan dia berlari menyeberangi padang rumput untuk mengambil keranjang yang baru saja terisi. Namun, dia terkejut karena tidak dapat menemukannya di mana pun.

Dia mencari di seluruh taman, mengintip ke setiap sudut, tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Di dekat teralis tanaman anggur, dia bertemu dengan kurcaci itu, yang begitu malu saat melihatnya sehingga putri menyadari kebingungannya ketika dari masih cukup jauh.

“Kamu mempermainkanku,” teriak sang putri begitu melihatnya. “Di mana kamu sembunyikan keranjang itu? Aku sudah mencarinya selama satu jam lebih.”

“Ratu hatiku,” jawab Rübezahl. “Aku mohon maafkan kecerobohanku. Aku sudah berjanji lebih dari yang bisa kutepai. Aku sudah mencari di seluruh negeri untuk umbi-umbi yang kamu inginkan, tetapi umbi-umbi itu telah dipanen dan dibiarkan mengering di gudang bawah tanah yang pengap, dan ladang-ladangnya gersang dan tandus, karena di lembah musim dingin merajalela, hanya di sini di hadapanmu musim semi bertahan dan di mana pun kakimu melangkah, bunga-bunga yang ceria bermekaran. Bersabarlah sebentar, dan kamu pasti akan mendapatkan boneka-boneka untuk diajak bermain.”

Sebelum kurcaci itu selesai bicara, sang putri yang kecewa berbalik dan berjalan menuju kamarnya sendiri tanpa menjawabnya.

kurcaci itu berangkat ke dunia atas secepat mungkin, dan dengan menyamar sebagai petani, membeli seekor keledai di pasar kota terdekat, lalu membawanya kembali dengan membawa karung-karung berisi benih lobak, wortel, dan ubi. Lalu di menabur benih di ladang yang luas dan mengirim pasukan besar goblin untuk mengawasi dan merawatnya, juga untuk mengalirkan sungai-sungai lahar dari jantung bumi yang cukup dekat untuk menghangatkan dan mempercepat benih berkecambah.

Dengan demikian, benih-benih itu tumbuh dan berkembang dengan luar biasa, menjanjikan panen yang melimpah.

Sang putri berkeliaran di ladang hari demi hari, tidak ada tanaman atau buah lain di seluruh tamannya yang indah yang menyenangkannya seperti umbi-umbi ini. Tetapi matanya menatap tak puas. Yang terbaik dari semuanya, dia suka menghabiskan waktu di hutan cemara yang rindang, duduk di tepi sungai kecil tempat dia melemparkan bunga-bunga yang telah dikumpulkannya dan melihatnya hanyut.

Kurcaci itu berusaha keras dengan segala cara untuk menyenangkan hati sang putri dan memenangkan cintanya, tetapi dia tidak menduga alasan sebenarnya mengapa dia tidak berhasil. Dia mengira karena sang putri terlalu muda dan tidak berpengalaman untuk mencintainya. Tetapi itu adalah kesalahannya, karena sebenarnya ada cinta lain yang telah memenuhi hatinya. Pangeran Ratibor muda, yang negerinya sama luas dengan tanah milik ayahnya, telah memenangkan hati sang putri. Keduanya telah menantikan datangnya hari pernikahan mereka ketika sang pengantin wanita menghilang secara misterius.

Berita sedih itu membuat Ratibor teralihkan, dan seiring berjalannya waktu, dan tidak ada yang dapat mendengar tentang sang putri, dia meninggalkan istananya  dan menghabiskan hari-harinya di hutan belantara, berkeliaran dan meneriakkan nama sang putri ke pohon-pohon dan batu-batu. Sementara itu, sang putri di penjaranya yang indah, mendesah dalam hati atas kesedihannya, tidak ingin membangkitkan kecurigaan kurcaci itu. Dalam benaknya sendiri dia bertanya-tanya bagaimana caranya agar dia dapat melarikan diri dari penyekapannya, dan akhirnya dia menemukan sebuah rencana.

Saat itu musim semi kembali berjaya di lembah, dan kurcaci itu mengembalikan api ke tempatnya di kedalaman bumi, karena umbi yang telah dirawat agar tetap hangat selama musim dingin yang kejam kini telah tumbuh dewasa. Hari demi hari sang putri mencabut beberapa dari mereka, dan melakukan percobaan dengan mereka, kadang-kadang menyulap orang yang dirindukan, kadang-kadang sembarangan, hanya untuk kesenangan melihat mereka sebagaimana adanya. Tetapi dia sebenarnya punya tujuan lain dalam pikirannya.

Suatu hari dia mengubah lobak kecil menjadi lebah, dan mengirimnya untuk membawakan kabar tentang kekasihnya.

“Terbanglah, lebah kecil terkasih, ke arah timur,” katanya, “ke Ratibor rinduku, dan dengungkan pelan ke telinganya bahwa aku hanya mencintainya, tetapi bahwa aku adalah tawanan di istana kurcaci di bawah pegunungan. Jangan lupa sampaikan salam dariku, dan bawakan aku pesan dari kekasihku.”

Maka lebah itu mengembangkan sayapnya yang bersinar dan terbang untuk melakukan apa yang diperintahkan; namun sebelum ia hilang dari pandangan, seekor burung layang-layang yang kelaparan menyambarnya. Sang putri sangat sedih karena utusannya dimakan saat itu juga.

Setelah itu, dengan kekuatan tongkat ajaibnya, ia memanggil seekor jangkrik dan mengajarinya pesan berikut. “Melompatlah, jangkrik kecil, ke Ratibor, dan bisikkan ke telinganya bahwa aku hanya mencintainya, tetapi aku ditawan oleh kurcaci di istananya di bawah pegunungan.”

Maka jangkrik itu melompat dengan riang, bertekad untuk melakukan yang terbaik untuk menyampaikan pesannya. Tetapi, sial! Seekor bangau berkaki panjang yang berjingkrak di sepanjang jalan yang sama menangkapnya dengan paruhnya yang kejam, dan sebelum dia sempat mengucapkan sepatah kata pun, jangkrik tersebut telah menghilang di tenggorokannya.

Kedua usaha yang tidak beruntung ini tidak menghalangi sang putri untuk mencoba sekali lagi.

Kali ini ia mengubah lobak menjadi burung murai.

“Terbanglah dari pohon ke pohon, burung yang berkicau,” katanya. “Sampai kamu temukan Ratibor, kekasihku. Katakan padanya bahwa aku adalah tawanan, dan suruh dia datang dengan kuda dan manusia, pada hari ketiga dari sekarang, ke bukit yang menjulang dari Lembah Berduri.”

Burung murai itu mendengarkan, melompat sebentar dari satu dahan ke dahan lain, lalu melesat pergi, sementara sang putri mengawasinya dengan cemas sejauh yang bisa dilihatnya.

Pangeran Ratibor masih menghabiskan hidupnya dengan berkeliaran di hutan, dan bahkan keindahan musim semi tidak dapat meredakan kesedihannya.

Suatu hari, saat sedang duduk di bawah naungan pohon pasang, melamunkan kekasihnya yang hilang, dan terkadang meneriakkan namanya dengan keras, dia seperti mendengar suara lain menjawabnya. Tersentak kaget, Pangeran Ratibor melihat ke sekelilingnya, tetapi dia tidak melihat seorang pun, Baru saja dia memutuskan bahwa dia pasti salah mendengar, suara yang sama memanggil lagi, dan, saat mendongakkan kepalanya, dia melihat seekor burung murai yang melompat-lompat di antara ranting-ranting. Ratibor terheran-heran ketika mengetahui burung itu memang memanggil namanya.

“Dasar burung cerewet yang malang,” katanya. “Siapa yang mengajarimu mengucapkan nama, yang merupakan milik manusia malang yang berharap bumi akan terbuka dan menelannya beserta ingatannya untuk selamanya?”

Kemudian dia mengambil sebuah batu besar dan hendak melemparkannya ke burung murai itu, kalau saja burung itu tidak mengucapkan nama sang putri pada saat itu juga.

Hal ini sungguh tidak terduga sehingga lengan sang pangeran jatuh tak berdaya di sisi tubuhnyasaat mendengar nama itu, dan dia berdiri tak bergerak.

Namun burung murai di pohon, yang seperti seluruh anggota keluarganya, tidak akan bahagia kecuali dia bisa terus berkicau, mengulang pesan yang diajarkan sang putri kepadanya. Begitu Pangeran Ratibor memahaminya, hatinya menjadi gembira. Seluruh kesengsaraannya lenyap dalam sekejap, dan dia dengan cemas bertanya kepada murai utusan tentang nasib sang putri.

Namun burung murai itu tidak tahu apa-apa selain pelajaran yang telah dipelajarinya, maka dia segera terbang menjauh.

Sang pangeran buru-buru bergegas kembali ke istananya untuk mengumpulkan pasukan berkuda, siap untuk menghadapi apa pun yang mungkin terjadi.

Sementara itu, sang putri dengan cerdik menjalankan rencananya untuk melarikan diri. Dia berhenti memperlakukan kurcaci itu dengan dingin dan acuh tak acuh. Memang, di hati Rübezahl berharap bahwa suatu waktu putri akan membalas cintanya, dan perubahan suasana hati sang putri sangat menyenangkannya.

Keesokan harinya, begitu matahari terbit, sang putri muncul berhias seperti pengantin, dalam jubah dan permata indah yang telah disiapkan oleh kurcaci untuknya. Rambut emasnya dijalin dan dimahkotai dengan bunga murad, dan kerudungnya yang berkibar berkilauan dengan permata. Dengan busana yang luar biasa ini dia pergi menemui kurcaci di aula yang besar.

“Gadis yang paling cantik,” kata Rübezahl tergagap, membungkuk rendah di hadapannya. “Izinkan aku menatap matamu yang indah, dan membaca di dalamnya bahwa kamu tidak akan lagi menolak cintaku, tetapi akan membuatku menjadi makhluk paling bahagia di bawah sinar matahari.”

Sambil berkata demikian, dia ingin menyingkap kerudung pengantin, tetapi sang putri hanya memegangnya lebih erat.

“Keteguhanmu telah mengalahkanku,” katanya. “Aku tidak bisa lagi menentang keinginanmu. Namun percayalah pada kata-kataku, dan biarkan tabir ini tetap menyembunyikan rona merah dan air mataku.”

“Mengapa menangis, kekasihku?” seru si kurcaci dengan cemas. “Setiap air tetes matamu jatuh di hatiku seperti setetes emas cair. Betapapun aku menginginkan cintamu, aku tidak menginginkan pengorbanan.”

“Ah!” teriak putri. “Mengapa kamu salah paham tentang air mataku? Hatiku menjawab kelembutanmu, namun aku takut. Seorang istri tidak selalu bisa memikat, dan meskipun kmu tidak akan pernah berubah menjadi tua, kecantikan manusia seperti bunga yang layu. Bagaimana aku bisa yakin bahwa kamu akan selalu penuh kasih seperti dirimu sekarang?”

“Mintalah bukti padaku, sayang,” kata Rübezahl. “Ujilah kepatuhan dan kesabaranku untuk menilai cintaku yang takkan berubah.”

“Baiklah,” jawab gadis yang cerdik itu. “Kalau begitu berikan aku satu bukti rasa cintamu. Pergilah dan hitung lobak di padang rumput sana. Pesta pernikahanku tidak boleh kekurangan tamu. Mereka juga akan menyediakan pengiring pengantin untukku. Namun, berhati-hatilah, jangan menipuku, dan jangan lewatkan satu lobak pun. Itulah yang akan menjadi ujian kejujuranmu kepadaku.”

Kurcaci itu tidak ingin kehilangan pandangan pada pengantinnya yang cantik itu sejenak, tetapi dia mematuhi perintahnya tanpa menunda, dan bergegas pergi untuk memulai tugasnya. Dia melompat-lompat di antara lobak-lobak itu dengan lincah seperti belalang, dan segera menghitung semuanya. Namun untuk memastikan bahwa dia tidak membuat kesalahan, dia menghitungnya sekali lagi.

Kali ini, yang membuatnya sangat kesal, jumlahnya berbeda; jadi ia menghitungnya untuk ketiga kalinya, tetapi sekarang jumlahnya tidak sama dengan yang sebelumnya! Dan ini tidak mengherankan, karena pikirannya penuh dengan penampilan dan kata-kata cantik sang putri.

Sementara itu, begitu sang kurcaci menghilang dari pandangannya, sang putri bersiap-siap untuk melarikan diri. Dia punya lobak segar yang bagus yang disembunyikan di dekatnya, yang diubahnya menjadi kuda yang gagah dengan pelanan dan sanggurdi. Lalu sang putri melompat ke punggung kudanya yang berlari kencang melewati bukit dan lembah sampai akhirnya sampai di Lembah Berduri, dan melemparkan dirinya ke pelukan Pangeran Ratibor yang dicintainya.

Sementara itu, kurcaci mengerjakan tugasnya berulang-ulang sampai punggungnya sakit dan kepalanya pusing dan dia tidak bisa lagi menghitung dua ditambah dua.tetapi karena dia merasa cukup yakin dengan jumlah lobak yang tepat di ladang, besar maupun kecil, dia bergegas kembali dengan penuh semangat untuk membuktikan kepada kekasihnya betapa dia akan menjadi suami yang menyenangkan dan penurut.

Kurcaci merasa sangat puas dengan dirinya sendiri saat dia menyeberangi halaman berlumut ke tempat dia meninggalkan sang putri,  tetapi sayang, dia tidak ada lagi di sana.

Rübezahl mencari di gerumbulan semak belukar dan jalan setapak. Dia melihat ke balik setiap pohon, dan menatap ke setiap sendang, tetapi tidak berhasil. Kemudian dia bergegas ke istana dan bergegas dari kamar ke kamar, mengintip ke setiap lubang dan sudut dan memanggil namanya, tetapi hanya gema yang menjawab di aula pualam—tidak ada suara maupun langkah kaki orang lain selain langkah kakinya sendiri.

Kemudian dia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang salah, dan sambil menyingkirkan wujud manusia yang membebaninya, dia terbang keluar istana membubung tinggi ke udara, dan melihat putri yang melarikan diri di kejauhan tepat saat kuda yang cepat membawanya melintasi batas wilayah kekuasaannya.

Dengan marah, kurcaci yang murka itu melemparkan dua awan besar bersamaan, dan melemparkan petir ke arah putri yang melarikan diri itu, menghancurkan batu penghalang yang telah berdiri selama seribu tahun. Namun kemarahannya sia-sia, awan petir mencair menjadi kabut tipis, dan kurcaci itu, setelah terbang beberapa saat dalam keputusasaan, meratapi nasib malangnya ke arah delapan penjuru angin, kembali ke istananya dengan sedih, dan menyelinap sekali lagi ke setiap ruangan, dengan desahan dan ratapan.

Dia melewati taman-taman yang baginya telah kehilangan pesonanya, dan pemandangan jejak kaki sang putri di pasir keemasan jalan setapak itu menambah kesedihannya. Semuanya sepi, kosong, menyedihkan.

Kurcaci yang terkutuk itu memutuskan bahwa dia tidak akan berurusan lagi dengan makhluk-makhluk palsu seperti yang selama ini dia temukan sebagai manusia.

Kemudian dia menginjak tanah tiga kali dan istana ajaib itu, dengan semua hartanya, lenyap tak berbekas, sekali lagi melarikan diri ke kedalaman kerajaan bawah tanahnya.

Sementara semua ini terjadi, Pangeran Ratibor bergegas membawa putri ke tempat yang aman. Dengan kemegahan dan kemenangan yang besar, dia mengembalikan putri yang cantik itu kepada ayahnya, dan saat itu juga menikahinya, lalu membawanya kembali bersamanya ke istananya sendiri.

Lama setelah sang putri tiasa, begitu juga anak-anaknya juga, penduduk desa akan menceritakan kisah penahanannya di bawah tanah, saat mereka duduk mengukir kayu di malam musim dingin.

Cikarang, 12 Oktober 2024

Rübezahl adalah subjek dalam legenda dan dongeng cerita rakyat Jerman, Polandia, dan Ceko.

Disadur dari “Legenden von Rübezahl” (Volksmärchen der Deutschen Vol. 2, Johann Karl August Musäus)  dan “Rübezahl” (The Brown Fairy Book, Andrew Lang).

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *