Malin sedang memegang pisau di pergelangan tangannya saat mereka mengetuk pintu rumahnya.
Sesaat dia ragu-ragu, menimbang pilihannya. Matanya melirik ke arah pintu dan pisau—hompimpa alaihim gambreng—dan berhenti di pintu.
“Sebaiknya begitu,” gumamnya, dan berdiri. Bunyi pisau tumpul beradu meja dapur seakan memenuhi ruangan. Sungguh mengerikan, renungnya, betapa berisiknya rumah saat tidak ada orang lain di dalamnya.
“Maaf,” kata sang peramal saat pintu terbuka. Tidak ada basa-basi, tidak ada apa-apa. Setidaknya dia benar-benar tampak menyesal. Begitu pula ketiga anggota dewan yang berdiri di belakangnya.
“Tapi… namamu yang muncul di perapian.”
Malin bertanya-tanya samar-samar namanya yang mana yang muncul.
“Tidak apa-apa,” kata Malin, dan memang begitu.
Tidak masalah, sungguh. Mungkin lebih baik begini.
“Beri aku waktu beberapa menit untuk membereskan barang-barangku.”
Alis mereka berkerut. Jelas, dilihat dari jumlah orang yang mereka bawa untuk menyeretnya keluar dari rumahnya, mereka tidak menyangka dia akan menyerah segampang ini. Malin tahu persis apa yang mereka pikirkan—apa yang salah dengannya? Apakah dia merencanakan sesuatu?
Dia sudah fasih dalam tatapan sinis dan pandangan sinis selama bertahun-tahun.
“Barang apa?” tanya salah satu anggota dewan.
“Barang-barangku,” kata Malin, dan menutup pintu lagi. Yang mengejutkannya, mereka tidak memaksa agar pintu tetap terbuka. Mereka tidak akan menolak permintaan terakhir seorang pria yang sudah mati, tampaknya.
***
Mereka mengawalnya ke tepi kota, tempat ladang berubah menjadi tanah rawa dan semak belukar. Salah satu anggota dewan menunjuk gunung itu, seolah-olah gunung itu tidak dua kali lebih tinggi dari puncak-puncak lain di pegunungan itu. Seolah-olah Malin tidak menghabiskan seluruh hidupnya menatap gunduk sialan itu. Seolah-olah itu bukan gunung.
“Tepat di sana, di tengah lereng,” kata pria itu. “Masuklah ke dalam.”
Mereka tidak akan melihat gunung itu membawanya—siapa yang suka diawasi saat makan?—tetapi mereka tidak perlu melakukannya. Tali itu akan memastikan dia masuk ke dalam. Salah satu ujungnya diikatkan ke tiang, ujung lainnya diikatkan di jarinya dengan simpul kecil yang rapi. Simpul itu tidak akan lepas sampai semuanya selesai. Simpul itu dimantrai, sebuah relik purba yang suci, yang diambil dari api yang sama yang memuntahkan nama-nama itu.
Besok pagi, mereka akan mengambilnya dari gua dan menggulungnya kembali, siap untuk jiwa malang berikutnya.
Setelah sang peramal dan anggota dewan pergi, Malin melihat tali itu dan melihat gunung—dan dia tertawa.
Dia tertawa. Karena tentu saja itu dia, tentu saja itu hari ini, hari yang sudah diputuskan akan menjadi hari terakhirnya.
Sungguh puitis.
Dia mulai berjalan.
***
Tidak banyak yang melakukan pengorbanan darah saat ini. Di Selatan, pengorbanan darah dianggap kuno dan takhayul.
Benarkah? kata para wanita muda itu sambil mencondongkan tubuh ke kios-kios pasar tetangga mereka, satu alis terangkat.
Masih? Kami sudah lama berhenti mengirimkan pengorbanan darah.
Sementara itu, di Utara, pengorbanan darah sudah tidak diperlukan lagi. Orang-orang sudah cukup pintar membunuh satu sama lain. Dewa mereka dapat memilih mayat.
Namun, Utara dan Selatan memiliki gunung yang berbeda, dan, jelas dewa yang sangat berbeda.
Suatu ketika, kota Malin menolak untuk mengirimkan pengorbanan—gadis yang namanya muncul dari api hari itu berusia empat tahun, satu-satunya anak ayahnya—dan keesokan harinya, mereka terbangun dalam keadaan tenggelam dalam banjir bandang. Malin masih ingat perasaan paru-parunya terisi air, setiap tarikan napas terasa menyakitkan saat dia muntah-muntah. Belas kasih hanya bisa bertahan sedikit saat menghadapi angka, dan angka-angka berkata, sejelas siang hari: kita atau gadis itu.
Jadi, mereka mengikat bocah itu seperti yang lainnya dan mengusirnya.
Sebagian besar waktu, tidak seburuk itu. Seorang lelaki tua di sini, seorang janda di sana. Sekitar setahun sekali, sebagian besar, meskipun terkadang ada sebanyak tiga kali dalam sebulan, dan terkadang tahun berlalu tanpa ada yang bersuara.
Gunung tampaknya lebih menyukai orang-orang yang kesepian. Orang-orang yang tidak akan dirindukan siapa pun. Orang-orang seperti Malin.
Tentu saja, selalu ada pengecualian. Ibunya, salah satunya. Pada hari kepergiannya, seluruh keluarga datang berkunjung, menangis dan meratap serta mencengkeram pakaian dan tangannya seolah-olah mereka dapat mencabik-cabiknya dan masing-masing membawa sepotong dirinya bersama mereka. Malin menggelengkan kepalanya. Keras, seperti kuda yang mengibaskan lalat. Dia menghabiskan sebagian besar hari tanpa memikirkan ibunya, dan sisanya berusaha untuk tidak memikirkannya.
Sudah lebih dari tiga bulan sejak kepergiannya—tiga bulan dan satu hari. Ibunya selalu berkata Malin tidak akan pernah bertahan semusim pun tanpanya. Jadi Malin berhasil melewati musim hujan, hanya untuk membuktikan bahwa nenek tua itu salah.
Ada seorang gadis duduk di sisi jalan setapak. Malin menggelengkan kepalanya lagi, tetapi dengan cara yang berbeda—semacam “Aku melihat sesuatu”. Gadis itu berpakaian merah, terlalu terang jika dibandingkan dengan abu-abu rumput, abu-abu gunung, abu-abu langit. Malin tersentak menyadari, gadis itu tampak sangat mirip dengan orang yang pernah dikenalnya.
“Halo,” kata gadis itu riang. Kakinya berayun. Sepatu botnya menghantam batu tempat dia duduk berulang kali, setiap kali debu berhamburan dibuatnya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Malin.
Itu pertanyaan yang bodoh, tetapi satu-satunya yang terlintas di benaknya.
“Aku tinggal di sini.”
“Tidak ada yang tinggal di sini.”
“Ya,” katanya dengan emosi. “Bagaimana kamu bisa tahu? Tidak ada yang pernah datang ke sini untuk melihat, kecuali mereka yang akan pergi ke gunung.”
Malin mengangkat bahu. Wajar.
“Apakah kamu?” tanya gadis itu.
“Apakah aku apa?”
“Pergi ke gunung?”
Dia akan berpikir, dengan tali itu, itu akan jelas. “Ya.”
Dia melompat dari batunya. “Boleh aku ikut?”
“Tidak.”
Dia tetap berjalan di sampingMalin. Malin merasa bahwa dia adalah tipe gadis yang tidak terbiasa dengan aturan. Atau setidaknya, kalau dia terbiasa, dia juga terbiasa melanggarnya.
Setiap kali Malin menatapnya, dia terkejut, jantungnya berdebar kencang. Rasanya seperti melihat ke cermin, sekilas melihat ke masa lalu.
“Boleh aku membawa talimu?”
“Tidak.”
“Siapa namamu?”
“Malin.”
“Itu nama yang bagus.”
“Terima kasih.” Dia menelan ludah, tenggorokannya kering. “Aku yang memilihnya sendiri.”
Itu bukan sesuatu yang biasanya dia katakan dengan lantang, tetapi Malin merasa gadis itu akan menghargai leluconnya. Dan memang dia tertawa keras dan tanpa rasa malu, lalu melompat ke depan untuk memetik bunga tempuyung.
“Siapa namamu?” tanya Malin.
Gadis itu mengabaikan pertanyaannya.
“Apa isi tasmu?”
Ada banyak barang di tasnya.
Air, kalau-kalau dia haus. Kue kecil dengan hiasan buah buni. Kasut cadangan, karena tidak ada gunanya mati dengan kaus kaki bau. Cincin ibunya, yang dia tidak tahu mengapa dia membawanya. Buku harian karena dia tidak ingin ada yang membacanya. Korek api untuk membakar buku hariannya.
“Barang-barang,” katanya. “Aku akan memberitahumu kalau kamu memberitahuku namamu.”
Gadis itu cemberut, memegang bunga tempuyung di bawah dagunya sehingga bersinar kuning di kulitnya. Dia melompat ke depan lagi. Lambat laun, jalan setapak itu semakin curam. Tali itu gatal saat terulur dari jari-jarinya, bolanya semakin mengecil. Semak julak kuning cerah menutupi sebagian besar lereng, mengubah gunung menjadi keemasan saat matahari perlahan terbenam di ufuk.
Ini tentu hari yang indah untuk mati. Jauh lebih indah daripada hari ibunya meninggal—saat itu adalah akhir musim kemarau, tanahnya gersang dan retak kurang air, langitnya abu-abu susu.
Dia berhenti sejenak di sebuah tonjolan batu untuk menghirup udara. Di sini, udaranya sangat segar, bersih, dan liar. Kota di bawah sudah tampak kecil, tidak lebih dari selebar telapak tangan dari ujung ke ujung. Dia bertanya-tanya bagaimana hal sekecil itu bisa membuatnya begitu sengsara. Dia dan gadis itu berbagi kue buni.
“Lihat awannya!” teriaknya, remah-remah beterbangan dari mulutnya. “Mereka terbakar!” Malin melihat ke arah yang ditunjuknya, ke cakrawala di sisi lain lembah tempat matahari terbenam. Begitu cerahnya sehingga hampir sulit untuk dilihat. Hhamparan warna merah dan merah muda yang diselingi jingga membara.
Kalau aku sedih, pikirnya, pemandangan ini mungkin akan menghiburku.
Namun, dia tidak sedih, tidak seperti yang kebanyakan yang diketahui orang-orang. Perasaan ini—tidak, ini bahkan bukan perasaan sama sekali. Ini kabut halimun. Cat air dengan terlalu sedikit warna pada kuas.
Dia selesai mengunyah kue buninya dan berdiri.
Malin menggelengkan kepalanya sekali lagi. Pemandangannya indah, itu sudah pasti. Indah, dan dia masih ingin mati.
Malin berbalik untuk melanjutkan perjalanan ke lereng. Dan tepat di belakangnya, begitu dekat sehingga mengherankan bahwa dia tidak menyadarinya sebelumnya, adalah pintu masuk gua.
Yah, pikirnya, menatap ke dalam kegelapan. Ini dia.
Sesuatu yang dingin dan basah menetes di belakang lehernya saat dia melangkah masuk. Baunya apek dan busuk, seperti apapun yang akan mati. Ada bunyi berderak di bawah sepatu botnya, dan dia melihat ke bawah untuk menemukan kerangka tikus yang hancur. Dia berbalik untuk menghadapi gadis itu. Gadis itu terhuyung-huyung di pintu masuk, menggigit bibirnya—meskipun bukan karena takut. Malin tidak tahu apa ekspresi di wajahnya itu.
“Jangan ikuti aku,” kata Malin.
Gadis itu menatapnya, tatapan seperti gadis yang membenci aturan, dan Malin menyadari kesalahannya. Gadis itu melompati ambang pintu, dengan kedua kakinya, dan menyeringai.
“Aku ikut.” Malin mengerang dan mencubit pangkal hidungnya. “Tapi kau tidak bisa begitu saja—”
“Hanya orang-orang yang namanya muncul dari api yang akan mati di sini,” potongnya.
Dia melompat lebih jauh ke depan. “Aku akan baik-baik saja. Apakah kamu membawa korek api?”
Malin membawa korek api.
Mereka terus berjalan, kali ini, ke jantung gunung. Dia tidak tahu berapa lama mereka berjalan, hanya saja itu lebih lama dari yang dia duga. Di beberapa tempat, terowongan terang dan luas, diterangi oleh lubang jendela atap di atas. di sebagian besar terowongan itu sempit, gelap gulita, airnya keruh, dalamnya sejengkal.
Malin merasa pilihannya dibenarkan, memikirkan kasut kaus kaki cadangannya, meskipun pikiran untuk benar-benar berhenti untuk menggantinya melelahkan.
Semakin jauh lagi, udara semakin dingin dan gelap. Semakin dingin, dinding dan lantai dan terowongan di depan berubah menjadi satu kekosongan yang menghanguskan. Cahaya dari korek api sangat kecil, bagai sebutir pasir di antara kegelapan. Dia juga tidak bisa melihat gadis itu, meskipun dia tahu dari langkah kakinya bahwa gadis itu masih di sana.
Dia sebenarnya tidak yakin kapan dia akan mati. Yang dia tahu, dia mungkin sudah mati.
Dan kemudian, tiba-tiba, tali busur itu terlepas. Ujungnya terlepas dari jari-jarinya, jatuh ke dalam kehampaan.
Korek apinya padam.
Ah, pikirnya. Ini dia.
“Apakah kamu takut?” tanya sebuah suara dalam kegelapan, entah dari arah mana.
Dia menarik napas, mengembuskannya. Dia mempertimbangkan jawabnya.
“Tidak,” katanya.
Bukan tentang ini. Bukan tentang kematian.
Di depannya, sebuah cahaya bersinar. Bukan hanya cahaya, tetapi api. Tidak ada apa-apa di satu detik, api unggun di detik berikutnya. Di sisi lain berdiri gadis itu. Tentu saja gadis itu—dia tahu itu pasti gadis itu.
Dia sudah tahu sejak gadis itu muncul di jalan setapak. Saat kamu mengharapkan kematian, kamu belajar untuk waspada.
“Dan di situlah,” katanya, kata aneh dalam suaranya yang seperti anak kecil, “terletak masalahnya.”
“Kamu ….” Malin menelan ludah. ”Kamu ingin aku takut?”
“Tidak.” Mata gadis itu berkedip-kedip dalam cahaya—dia memikirkan apa yang dikatakan gadis itu di gunung. Matanya membara. “Aku ingin pengorbanan. Tahukah kamu apa itu pengorbanan?”
Malin terdiam.
“Itu berarti sesuatu yang kamu korbankan. Sesuatu yang kamu inginkan. Sesuatu yang kamu takut hilang.”
Jauh di dalam dadanya, hatinya mencelos.
Malin memperhatikan wajah di seberang api—pipi cekung, mata seperti bara. Rasanya seolah-olah dia tergelincir, terpeleset. Kakinya meluncur di atas batu saat tanah runtuh.
“Kamu tidak takut kehilangan nyawamu,” kata gadis itu. Pukulan terakhir yang tak terelakkan. “Maka, kematianmu bukanlah pengorbanan.”
Dada Malin menegang seperti ditusuk dari dalam. Mungkin memang begitu, dan ini semua hanyalah mimpi yang diciptakan gunung, yang dimaksudkan untuk menghiburnya saat ia meninggal. Jika memang begitu, maka rencana itu tidak berhasil.
Air mata menggenang di sudut matanya. Dia mengira hidupnya sangat berharga, setidaknya—cukup untuk menyelamatkan nyawa beberapa ratus orang yang membencinya, yang juga dibencinya.
“Kamu tidak mengerti,” kata gadis itu. “Ini bukan masalah harga diri. Ini masalah keinginan.”
Dan buku harian Malin ada di tangannya.
Gadis itu memegangnya agar Malin dapat melihatnya, membolak-balik halamannya. Di bagian atas setiap halaman terdapat tanggal dan, di bawahnya, sebanyak yang mampu ditulisnya. Terkadang satu baris, terkadang ratusan, berkelok-kelok ke atas dan ke bawah dan menyilang dalam baris-baris yang halus seperti anyaman. Terkadang hanya tanggal.
“Sembilan puluh tujuh halaman. Itulah jumlah yang tersisa. Jadi, kamu memutuskan, itulah sisa waktu yang kamu miliki. Kamu memesan satu botol susu minggu ini, karena kamu tahu kamu tidak akan punya waktu untuk minum dua botol. Kamu memberi makan ayam dua kali lipat, karena kamu tahu akan butuh waktu sebelum seseorang berpikir untuk memberi mereka makan lagi. kamu telah merencanakan ini. Menantikannya.”
Tiba-tiba, Malin menyadari apa yang ingin dia katakan. Dia terhuyung mundur.
“Tidak,” bisiknya.
“melegakan, bukan? Sebuah kenyamanan, mengetahui kamu tidak perlu menimbun kayu untuk musim hujan berikutnya, atau menghadapi tetanggamu lagi. Mengetahui tidak ada orang lain yang akan kecewa kalau kamu tiada. Mengetahui kamu tidak perlu terus berusaha menghentikan dirimu sendiri. Ini—kenyamanan karena menyerah—inilah yang perlu kamu lepaskan.”
Malin berlutut. “Aku tidak bisa. Kumohon.”
“Kamu bisa.”
“Aku tidak bisa!”
“Aku mengenalmu. Aku selalu mengenalmu. Kamu bisa.” Dia juga berlutut, di sisi lain api. Sebuah bayangan cermin lagi. “Itu tidak akan menjadi pengorbanan jika itu mudah.”
“Aku tidak—” Malin menggosok matanya sampai titik-titik hitam menari di depan penglihatannya. Mengusap hidungnya. Dia selalu membenci ini—benci menjadi lemah. Dia tidak akan menangis. “Apakah aku punya pilihan?”
Api itu telah padam, meskipun cahayanya tetap ada. Gadis itu masih di tempatnya semula, duduk bersamanya, saling berhadapan. Lutut saling menempel. Buku harian itu terbuka di pangkuannya.
“Kamu selalu begitu,” katanya, dan kali ini suaranya lebih lembut—lebih seperti gadis daripada dewa. “Itulah yang membuatnya begitu sulit.”
Malin mengusap hidungnya lagi, dan mengajukan pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya.
“Siapa namamu?”
Dia tersenyum dan menyerahkan buku harian itu kepada Malin, membukanya ke halaman pertama. Di bagian atas, dengan tulisan kursif ibu yang sempurna, ada nama yang dicoret. di bawahnya, tentu saja, ada “MALIN.”
Meski begitu, Malin terkekeh. “Ya … Itulah yang kupikirkan.”
Saat dia mengangkat tangannya dari halaman itu, ada lima bekas hangus membara di tempat jari-jarinya tadi. Bekas hangus itu semakin dalam dan membesar, menggerogoti kertas seperti ngengat yang menggerogoti kain sutra. Dia tersentak dan menjatuhkannya ke lantai.
“Hei,” katanya lemah.
Gadis itu—anak laki-laki itu—dewa itu—mengangkat bahu. “Kamu memang akan membakarnya.”
“Kurasa begitu.”
Untuk beberapa saat, Malin duduk dan memperhatikan halaman demi halaman buku itu berubah menjadi abu. Saat kenangan beracun selama berbulan-bulan berubah menjadi asap dan menghilang.
“Jadi?” tanya anak laki-laki itu. “Bagaimana menurutmu?”
Malin mendesah dan mendesah dan mendesah, hingga ia tidak punya napas lagi untuk dihembuskan—lalu, ia menarik napas.
***
“Apakah selalu sama?”
“Oh, tidak. Setiap pengorbanan berbeda. Kenangan yang menahan mereka, keyakinan yang menyakiti diri sendiri atau orang lain, keterikatan pada orang yang sudah tidak ada lagi—” Anak laki-laki itu menatapnya sekilas. “Seperti keterikatan pada anak perempuan yang hilang.”
Malin berhenti mendadak di ambang gua, masih mencengkeram buku hariannya yang kosong di dadanya.
“Dia benar-benar—?”
“Betul.”
“Lalu mengapa dia tidak—kembali, datang dan memberi tahuku?”
“Lihat lebih dekat,” kata anak laki-laki itu, mengangguk ke lembah di bawah. Mereka sekarang berada di luar gunung, di sisi lain—namun, Malin tiba-tiba menyadari, sisi itu masih sama. Sebagian besar sama, setidaknya.
Sepasang wanita yang tidak dikenali Malin duduk di tepi sungai, tertawa saat mereka mencuci periuk. Tepat setelah melewati gerbang kota, seorang gadis yang sangat mirip dengan anak berusia empat tahun yang mereka kirim ke gunung tahun lalu—hanya saja sekarang lebih tua, dan tidak lagi memiliki memar yang selalu melingkari lengannya—bermain dengan seekor kucing oranye.
Sebuah pantulan lagi, tetapi sangat berbeda. Dipantulkan dalam cahaya yang lebih hangat.
“Sulit untuk kembali. Hampir mustahil,” kata anak laki-laki itu. “Dan lagi pula, dia takut kamu tidak akan pernah memaafkannya.”
Malin menggigit bibirnya. Ia teringat cincin ibunya, yang dijejalkan di bagian paling bawah tasnya. “Apakah aku… harus? Mengasihaninya, maksudku?”
“Tentu saja tidak,” kata anak laki-laki itu, seolah-olah itu adalah ide terbodoh yang pernah didengarnya, dan itu sedikit menghibur Malin.
“Gunungmu milikmu. Gunungnya milik dia. Kamu boleh mengasihaninya, kalau kau mau. Kalau kamu pikir itu akan membantu.”
Itu, Malin belum tahu.
Ia melihat ke bawah ke lembah, ke desa di tengahnya, ke matahari terbit di sisi seberang. Ia punya firasat aneh bahwa ini setidaknya sama—bahwa matahari yang sama terbenam di satu lembah, dan terbit di lembah lainnya.
“Aku belum selesai, kan?” bisiknya.
“Tidak.”
Malin merasakan tangan anak laki-laki itu di memegang tangannya. Kecil, dingin, dan lembap, seperti dinding gua yang basah. Seperti batu tua.
“Kebanyakan pilihan tidak dibuat hanya sekali. Kamu tidak hanya memilih untuk mendaki gunung. Setiap langkah adalah sebuah pilihan. Namun, hal itu akan menjadi lebih mudah kalau kamu melakukannya dengan lebih sering.”
Malin mendesah sekali lagi.
Mendesah lagi.
“Baiklah,” katanya. Tidak bersemangat, tetapi akan berhasil kali ini.
Dia berkedip, dan ketika dia membuka matanya, anak laki-laki itu—gadis itu—dewa itu—telah pergi.
Malin mengganti kaus kakinya dan melangkah pulang.
CIkarang, 6 Oktober 2024

